Tarakan, ArmadaBeritaCom – Tujuan tamasya saya dan keluarga adalah ke kota Tarakan. Kami memilih Tarakan karena tempatnya cukup dekat, fasilitas lumayan lengkap dan terjangkau biayanya.
Perjalanan sekitar 2 jam kami lalui dengan naik speed boat dari pelabuhan Sesayap Hilir, karena speed boat regular dari pelabuhan Tideng Pale sedang perbaikan. Kondisi cuaca sedang kurang bersahabat, sehingga perjalanan kami, dari awal sampai Tarakan, bergoyang-goyang terkena gelombang. Namun Alhamdulillah semua selamat sampai tujuan.

Setibanya di Tarakan, kami langsung menuju salah satu hotel terdekat dari pelabuhan. Rencananya kami stay selama 2 hari. Tidak membuang waktu, setelah meletakkan barang-barang di kamar, kami langsung jalan-jalan untuk mengisi perut. Tak cukup makan nasi, dilanjutkan menuju Pizza Hut, untuk memenuhi permintaan anak, sebagai reward peringkat 1 di kelasnya.
Malamnya kami menuju Taman Berkampung. Taman hiburan yang areanya berdekatan dengan Masjid Agung, perpustakaan kota dan museum. Suasananya lumayan ramai, banyak permainan anak-anak, seperti mobil-mobilan, sepeda, dan motor kecil yang dapat di sewa. Ada juga bis hias atau odong-odong yang berkelililng taman. Setelah puas berkeliling, sekitar pukul 10 malam kami kembali ke hotel untuk beristirahat.

Keesokan harinya, kami mengunjungi beberapa tempat. Tempat pertama adalah Pantai Amal. Perjalanannya membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Suasananya cukup padat, dipenuhi wisatawan lokal yang berlibur. Banyak spot-spot menarik untuk foto. Kami pun membaur menikmati angin-sepoi-sepoi dipinggir pantai, sambil foto-foto cantik.
Setelah dirasa cukup, kami pun beranjak pergi mengunjungi tempat yang lain. Sebenarnya kami ingin berkunjung ke perpustakaan terlebih dahulu untuk menambah pengetahuan seputar kota Tarakan, tetapi di hari Sabtu tutup. Akhirnya kami menuju Museum Sejarah Kota Tarakan.

Museum Kota Tarakan di resmikan pada tanggal 23 November 2017 oleh Walikota Tarakan. Ada dua ruang yang terpisah, ruang pertama khusus menyimpan benda-benda tentang sejarah perang dunia II dan ruang ke dua adalah koleksi alat-alat perminyakan dari jaman dahulu oleh PT MEDCO dan PT Pertamina. Ini pertama kalinya kami berkunjung sejak diresmikan 4,5 tahun yang lalu.
Bangunan ruang pertama berarsitektur Kolonial. Kami berkeliling museum ditemani petugas yang menjelaskan tentang berbagai benda bersejarah yang ada di dalamnya. Ada barang-barang peninggalan Belanda, berupa piring, senjata dan nisan dari marmer.

Selain itu ada Peta Kota Tarakan jaman dulu, baling-baling pesawat, samurai, topi, seragam perang jepang dan tentara Autralia, album foto peperangan, mata uang Belanda dan Indonesia, sampai mesin ketik lawas.
Ruang kedua, tidak terlalu banyak koleksi barangnya. Ada beberapa peralatan bor minyak, topi, pompa dan foto-foto kegiatan pengeboran minyak bumi jaman dahulu di Tarakan. Alhamdulillah selain refreshing, edukasi juga dapat, khususnya untuk anak. Setelah berfoto-foto untuk dokumentasi, kami pun meninggalkan museum.
Jalan-jalan tak lengkap rasanya tanpa kulineran dan shopping. Kami makan siang dengan menu masakan padang. Kikil sapi, ayam, telur dan sambal ijo tetap menjadi favorit. Belum puas juga, dilanjut dengan makan bakso special. Kegiatan penutup adalah belanja berbagai kebutuhan dan oleh-oleh. (Tri Lestari Rakhmawati)











