Belajar Transisi Energi Tak Cukup dari Buku, UPER Ajak Siswa Depok Bikin Solusi Berbasis Data

UPER kepada siswa SMAN 1 Depok melalui pembelajaran berbasis proyek atau project-based learning (PBL).
Share

Jakarta, Armada berita.Com — Memahami transisi energi tidak cukup hanya dengan membaca buku atau menghafal konsep. Siswa perlu melihat bagaimana persoalan energi berkaitan dengan teknologi, lingkungan, ekonomi, hingga kehidupan sehari-hari. Pendekatan inilah yang diperkenalkan Universitas Pertamina (UPER) kepada siswa SMAN 1 Depok melalui pembelajaran berbasis proyek atau project-based learning (PBL).

Program yang berlangsung pada 22 Mei dan 19 Juni 2026 tersebut menjadi ruang bagi siswa untuk mengolah persoalan energi menjadi gagasan yang dapat dikomunikasikan secara kreatif. Kegiatan ini merupakan bagian dari hibah internal Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) UPERAISAL 2026 yang melibatkan Program Studi Hubungan Internasional dan Teknik Logistik UPER.

Ketua Tim PkM sekaligus Dosen Hubungan Internasional UPER, Silvia Dian Anggraeni, mengatakan pendekatan tersebut dirancang agar siswa tidak sekadar memahami istilah transisi energi, tetapi mampu menghubungkan pengetahuan dengan persoalan nyata.

“Kami memilih PBL agar siswa tidak berhenti pada memahami konsep energi, tetapi mampu melihat keterkaitannya dengan persoalan di sekitar mereka dan membangun gagasan sendiri,” ujar Silvia di Jakarta, Sabtu (22/8/2026).

Dalam pelaksanaannya, siswa terlebih dahulu mendapatkan materi dan berdiskusi mengenai berbagai persoalan transisi energi. Mereka kemudian mengembangkan isu yang dipilih menjadi proyek infografis dengan mengandalkan informasi dan data yang relevan.

Tahap berikutnya mempertemukan siswa dengan tantangan untuk mempertanggungjawabkan gagasan mereka. Sebanyak 16 kelompok mempresentasikan proyek di hadapan tim dosen UPER yang terdiri atas Silvia Dian Anggraeni, Yelita Anggiane Iskandar, Ardila Putri, Novita P. Rudiany, dan M. Fauzi Abdul Rachman.

Dari seluruh peserta, enam kelompok mendapat apresiasi berdasarkan kreativitas, kualitas substansi, kemampuan komunikasi, dan inovasi.

Silvia menilai proses tersebut penting karena siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi juga belajar menentukan informasi yang relevan, mengolahnya, menyusun argumen, dan menyampaikan gagasan.

“Proses pembelajaran menjadi bagian penting dalam PBL karena siswa terlibat langsung dalam membangun pemahamannya. Mereka belajar berdiskusi, memilah informasi yang relevan, serta menyampaikan dan mempertahankan gagasan berdasarkan data,” katanya.

Pendekatan itu juga menunjukkan hasil pada evaluasi pembelajaran. Rata-rata nilai peserta meningkat dari 84,2 pada pre-test menjadi 89,38 pada post-test, atau naik sekitar 6,15 persen.

Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis proyek dapat menjadi salah satu cara untuk membawa isu kompleks seperti transisi energi ke ruang belajar yang lebih dekat dengan pengalaman siswa.

Kebutuhan terhadap model pembelajaran semacam ini semakin relevan ketika kemampuan sains dan matematika siswa Indonesia masih menghadapi tantangan. Data PISA 2022 menunjukkan capaian siswa Indonesia dalam matematika dan sains berada di bawah rata-rata OECD. Kemampuan tersebut bukan hanya berkaitan dengan penguasaan pelajaran, tetapi juga menjadi fondasi untuk membaca data, berpikir kritis, dan memecahkan persoalan kompleks.

Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, mengatakan literasi energi perlu dibangun bersamaan dengan kemampuan generasi muda beradaptasi terhadap perubahan.

“Transisi energi membutuhkan generasi yang tidak hanya memahami energi bersih, tetapi juga mampu berpikir kritis, solutif, dan adaptif terhadap perubahan,” ujarnya.

Menurut Ichsan, penguatan wawasan tersebut juga dikembangkan melalui pendidikan di UPER, salah satunya lewat peminatan Geopolitik dan Keamanan Energi pada Program Studi Hubungan Internasional.

Bagi UPER, pengenalan transisi energi sejak bangku sekolah bukan sekadar upaya memperkenalkan sektor energi kepada generasi muda. Lebih jauh, pembelajaran tersebut diarahkan untuk membangun kemampuan siswa membaca persoalan dari berbagai perspektif dan merumuskan gagasan berdasarkan data.

Dengan demikian, isu transisi energi yang kerap dipandang sebagai persoalan teknis dan kebijakan dapat dipahami sejak dini sebagai persoalan bersama yang menyentuh lingkungan, ekonomi, teknologi, dan kehidupan masyarakat.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *