Jakarta, ArmadaBerita.Com — Perubahan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) mulai menggeser kebutuhan keterampilan di dunia kerja. Indonesia pun mendorong negara-negara ASEAN memperkuat kesiapan tenaga kerja agar transformasi digital tidak justru memperlebar kesenjangan dan mengorbankan pekerja.
Agenda tersebut menjadi salah satu fokus yang dibawa Menteri Ketenagakerjaan Yassierli dalam 29th ASEAN Labour Ministers Meeting (ALMM) di Bangkok, Thailand, 26–27 Agustus 2026.
Indonesia menilai perubahan kebutuhan industri yang berlangsung cepat menuntut negara-negara ASEAN tidak hanya menyiapkan tenaga kerja dengan keterampilan baru, tetapi juga memperkuat informasi pasar kerja, layanan ketenagakerjaan dan sistem pelindungan pekerja.
“Perubahan dunia kerja tidak bisa kita hadapi sendiri. Indonesia harus ikut menentukan arah kerja sama ketenagakerjaan ASEAN agar transformasi yang terjadi membuka peluang bagi pekerja, bukan membuat mereka tertinggal, dan pada saat yang sama tetap memberikan pelindungan,” kata Yassierli melalui keterangan pers Biro Humas Kemnaker, Selasa (25/8/2026).
Menurut dia, kesiapan menghadapi masa depan dunia kerja harus berjalan beriringan dengan pelindungan. Transformasi teknologi tidak cukup hanya dilihat dari sisi peningkatan produktivitas, tetapi juga dari kemampuan pekerja beradaptasi terhadap perubahan jenis pekerjaan dan tuntutan kompetensi.
Dalam forum tersebut, Indonesia juga mendorong implementasi ASEAN Declaration on Promoting Competitiveness, Resilience and Agility of Workers for the Future of Work beserta dokumen panduannya.
Tak hanya isu teknologi dan keterampilan, Indonesia membawa perhatian terhadap pelindungan pekerja migran. Sejumlah agenda yang dibahas mencakup pelindungan dan penempatan pekerja migran di sektor perikanan serta perlindungan pekerja migran dan keluarganya ketika menghadapi situasi krisis.
Indonesia juga memperkuat koordinasi dengan mitra internasional, termasuk International Labour Organization (ILO) dan International Organization for Migration (IOM), terutama dalam pengembangan keterampilan, layanan ketenagakerjaan, kerja layak dan pelindungan pekerja migran.
“Kerja sama ASEAN harus menghasilkan manfaat nyata bagi pekerja. Bukan hanya membahas perubahan, tetapi memastikan pekerja memiliki kesempatan untuk meningkatkan keterampilan, memperoleh pekerjaan yang lebih baik, dan tetap terlindungi dalam menghadapi perubahan,” ujar Yassierli.
Melalui forum tersebut, Indonesia ingin memastikan agenda ketenagakerjaan ASEAN tidak berhenti pada kebijakan, tetapi berujung pada kemampuan pekerja untuk beradaptasi, memperoleh kesempatan kerja yang lebih baik dan tetap mendapatkan pelindungan di tengah perubahan dunia kerja yang semakin cepat. (*/Red)











