ArmadaBerita.Com – Di tengah kondisi warga yang masih berjuang menyelamatkan diri dari banjir besar di Kabupaten Langkat, Bupati Langkat Syah Affandin atau Ondim menghadiri acara pemberian penghargaan pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (BI) 2025 Provinsi Sumatera Utara di Hotel Adimulia Medan, Jumat (28/11/2025) malam.
Ondim tampak tersenyum ketika menerima penghargaan dengan mengenakan batik hitam. Namun, usai acara, ia memilih meninggalkan lokasi dengan tergesa-gesa saat hendak diwawancarai wartawan.
Sementara itu, ribuan warga di berbagai kecamatan di Langkat telah bertahan di tempat-tempat pengungsian sejak banjir melanda pada Rabu (26/11) malam. Hujan deras sejak Selasa (25/11) membuat air terus naik hingga menenggelamkan permukiman.
Sejumlah warga mengungsi ke masjid, gedung bertingkat, dan titik-titik yang dianggap aman. Namun, hingga Sabtu (29/11), banyak yang mengaku belum menerima bantuan dan terancam kelaparan.
Akses menuju wilayah banjir terputus sejak Kamis (27/11). Listrik padam, sinyal telekomunikasi hilang, membuat koordinasi dan penyaluran bantuan semakin sulit. Aparat daerah, termasuk personel Pemda, Kodim, dan kepolisian, disebut sedang fokus pada titik bencana lain.
Amelia Lubis, warga Desa Teluk Bakung, Pematang Tengah, Tanjung Pura, menceritakan dirinya mengungsi bersama ibu, anaknya yang masih duduk di bangku SD, dan sejumlah tetangga. Mereka dievakuasi menggunakan ban oleh Kepala Dusun Said Abdillah ketika air mulai memasuki rumah pada Rabu malam.
Pada Kamis (27/11), Amelia sempat mengirimkan video kondisi pengungsian di Masjid Istiqomah, namun telepon selulernya mati akibat baterai habis dan baru aktif kembali Sabtu (29/11).
“Gak ada bantuan satupun, kak. Kami udah terancam di masjid. Mamak juga udah gak enak badan,” ujarnya kepada wartawan melalui pesan WhatsApp.
Sembilan Kecamatan Terendam, Ribuan Rumah Rusak, 2 Anak Meninggal
Banjir masih belum surut hingga Kamis (27/11). Sedikitnya sembilan kecamatan terdampak, yakni Besitang, Pematang Jaya, Brandan Barat, Sei Lepan, Babalan, Tanjung Pura, Batang Serangan, Padang Tualang, dan Gebang. Besitang dan Brandan Barat menjadi kawasan paling parah.
Ribuan rumah terendam dengan ketinggian air mencapai dua meter. Di Besitang, sejumlah rumah hanya menyisakan bagian atap. Kantor Koramil 14 Besitang pun ikut terendam hingga atap bangunan.
Transportasi lumpuh total. Jalur Lintas Sumatera (Jalinsum) Medan–Aceh tak dapat dilalui karena jalan berubah seperti sungai. Perahu nelayan terpaksa digunakan untuk mengevakuasi warga.
Ratusan warga diperkirakan masih terjebak di rumah masing-masing. Kondisi diperburuk dengan padamnya listrik dan hilangnya sinyal komunikasi.
Musibah juga terjadi di Kecamatan Babalan. Dua anak berusia 2 dan 5 tahun meninggal setelah mobil yang mereka tumpangi bersama kakeknya terperosok ke parit dan terguling saat berusaha menghindari banjir pada Rabu sore (26/11).
Hingga kini, Pemerintah Kabupaten Langkat belum merilis data resmi mengenai total warga terdampak maupun kerusakan rumah. Kepala BPBD Kabupaten Langkat belum merespons saat dikonfirmasi wartawan. (Dwl)










