Jakarta, ArmadaBerita.Com – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax yang berlaku mulai Rabu (10/6/2026) diperkirakan tidak hanya menambah beban pengeluaran masyarakat, tetapi juga berpotensi memicu perubahan pola konsumsi energi dan transportasi.
Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin menilai, kenaikan harga Pertamax kali ini memiliki dampak yang lebih besar dibandingkan kenaikan harga BBM non-subsidi pada April lalu. Hal itu lantaran basis pengguna Pertamax yang relatif luas, terutama dari kalangan masyarakat menengah.
“Bobot Pertamax dalam pembentukan inflasi cukup besar karena jumlah penggunanya lebih banyak. Kenaikan harga ini berpotensi mendorong inflasi sektor transportasi sekitar 0,31%,” kata Benjamin kepada wartawan, Rabu (10/6).
Menurutnya, dampak langsung yang paling mungkin terjadi adalah penyesuaian tarif sejumlah layanan transportasi yang menggunakan Pertamax sebagai bahan bakar utama. Meski berstatus BBM non-subsidi, Pertamax masih menjadi pilihan mayoritas pengguna kendaraan pribadi di kelas menengah.
Lebih lanjut, kenaikan harga Pertamax juga berpotensi menjalar ke harga sejumlah komoditas, termasuk pangan. Meningkatnya biaya transportasi dan distribusi dinilai dapat menambah biaya produksi sekaligus menggerus daya beli masyarakat.
Benjamin mencatat, kenaikan harga Pertamax yang mencapai Rp 3.950 per liter akan sangat memengaruhi struktur pengeluaran rumah tangga. Kondisi tersebut berpotensi membuat konsumen mencari alternatif bahan bakar yang lebih murah.
Salah satu dampak yang perlu dicermati adalah kemungkinan migrasi pengguna Pertamax ke Pertalite. Meski pemerintah telah mengatur kriteria penggunaan BBM subsidi, peralihan tetap berpotensi terjadi, terutama pada pengguna sepeda motor.
“Di lapangan, Pertalite masih banyak dijual secara eceran. Ini membuka peluang sebagian pengguna Pertamax, khususnya kendaraan roda dua, beralih ke Pertalite untuk menekan pengeluaran,” jelasnya.
Namun, ruang migrasi bagi pengguna mobil pribadi dinilai lebih terbatas. Selain adanya pembatasan penerima BBM subsidi, faktor performa mesin dan risiko penggunaan bahan bakar yang tidak sesuai spesifikasi kendaraan juga menjadi pertimbangan.
Di sisi lain, Benjamin melihat kenaikan harga Pertamax dapat memunculkan tren baru di kalangan konsumen, yakni beralih ke kendaraan dengan kapasitas mesin lebih kecil yang masih dapat menggunakan Pertalite. Meski demikian, langkah tersebut dinilai tidak sepenuhnya aman karena kebijakan subsidi energi dapat berubah sewaktu-waktu.
Alternatif lain yang berpotensi kembali dilirik masyarakat adalah kendaraan listrik. Dengan biaya operasional yang relatif lebih rendah, kendaraan listrik dapat menjadi pilihan bagi konsumen yang ingin mengurangi ketergantungan terhadap BBM berbasis fosil.
“Untuk saat ini, yang perlu diamati adalah bagaimana respons masyarakat dalam beberapa bulan ke depan. Apakah terjadi migrasi ke Pertalite, pergantian jenis kendaraan, atau justru percepatan adopsi kendaraan listrik,” tutup Benjamin.











