Medan, ArmadaBerita.Com
Perayaan HUT kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus hampir tak pernah dirasakan Aida Tanjung semasa dewasa usianya. Sebab, kondisi ekonomi membuatnya selalu disibukkan dengan berfikir untuk mencari nafkah. Yah, karena ia sekarang harus menghidupi dirinya seorang diri sejak ditinggal mati suaminya 8 tahun silam. Apalagi cucunya, Fauzan Alhazmi (22) yang sebelumnya ikut tinggal bersama sudah tak diketahui rimbanya.
Meski begitu wanita yang sekarang berusia 65 tahun ini tetap semangat. Di momen spesial hari kemerdekaan RI ke 77 ini kembali dimanfaatkannya untuk mencari rejeki dadakan. Dengan sedikit keahlian menjahit, ia mulai merajut kain untuk dijadikan bendera. Persiapannya dilakukan 2 minggu sebelum hari H.
Nantinya, hasil jahitannya itu ia pasarkan dan jual sendiri di pinggiran jalan. “Biasanya ada juga yang nempah sama saya dan saya juga buat untuk jual sendiri,” kata Aida saat ditemui di Jalan Perhubungan Desa Kau d Dendang, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumut, ketika menjual bendera Merah-Putih hasil jahitannya, Senin (15/8/2022) sore.
Di pinggiran jalan raya itu wanita renta yang sekarang mengontrak rumah di Gang Kenari 9 tak jauh dari lokasinya berjualan, ia menjual beragam ukuran bendera. Biasanya ukuran bendara yang dijual dipasang untuk di depan halaman rumah, kantor, hingga kendaraan. Harganya pun bervariasi.
“Kalau ukuran kecil (10 cm) dijual Rp 5 ribu, ukuran 15 cm dijual Rp 10 ribu, ukuran 90 cm dijual Rp 25 ribu, ukuran 1,20 m Rp 50 ribu, bendera kantor ukuran 1,80 m Rp 100 ribu. Sedangkan bendera mobil gerobak (Truck) Rp 15 ribu,” tuturnya.
Aida mengaku sudah menjual bendera sejak 8 tahunan. Mencari rejeki dari mejual bendera dilakoninya semenjak suaminya tiada. Ia meneruskan momen tahunan itu untuk menyambung hidup. Sementara anak-anaknya tinggal berjauhan. Ada yang di tinggal di luar kota dan kesemuanya berekonomikan pas-pasan.
“Anak saya yang perempuan yang paling dekat dengan saya berada di Medan, dia juga penjual bendera. Dia juga yang membantu saya membayar sewa rumah. Saya memang nggak mau menyusahkan anak-anak saya makanya mau tinggal mengontrak sendiri dari dulu,” ungkapnya.
Untungnya dalam memenuhi kebutuhan hidup, ia punya sedikit keahlian menjahit. Untuk makan, ia pun bisa memperolehnya dari menjahitkan pakaian orang. “Alhamdulillah setiap minggunya ada saja orang yang mau jahitkan ke saya, walau hanya menempel-nempel pakaian yang koyak,” ucap Aida.
Di hari-hari terakhir menjelang puncak hari kemerdekaan, ia pun mulai terbiasa di rumah lagi, sebab jualan bendera juga akan ditutup. Namun selama berjalan dua minggu ini, ia mengaku bisa sedikit mengumpulkan dari hasil jualan bendera.
“Meski ramai yang jualan tapi saya bersyukur karena saya jualannya buat sendiri dan setiap hari bisa dapat Rp 50-100 ribu,” bilangnya.
Terkadang, ia pun menjual bendera sampai malam hari. Apalagi di hari-hari terakhir puncak 17 Agustus. Dia bertahan duduk di pinggiran jalan dengan kursi plastik yang dibawanya dari rumah. Di pinggiran jalan, ia mengharapkan para pengendara dan pengguna jalan yang melintas berhenti untuk membeli. “Biasanya di hari terakhir 17-an itu ramai yang beli,” sebut Aida sambil melayani pembeli yang sibuk menawarkan harga. (ASN)











