Medan, ArmadaBerita.Com
Selama 1,5 tahun Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) digelar di Medan dan Deli Serdang, Sumatera Utara, tidak berjalan efektif. Hak anak atas pendidikan pada masa pandemi ini sangat tarabaikan. Bahkan masa-masa ini menjadi salah satu masa paling menderita bagi anak-anak.
Hal ini disampaikan oleh Anwar Suhut, Project Manager Yayasan Gugah Nurani Indonesia (GNI) Provinsi Sumatera Utara dalam webinar bertajuk “Memprioritaskan Masa Depan dan Keselamatan Anak Menjelang PTM Terbatas”, yang digelar GNI bekerjasama dengan Forum Anak Bulucina (ForABC) dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2021 baru-baru ini.
Survei yang dilakukan GNI menemukan partisipasi siswa untuk mengikuti PJJ terus menurun, sekalipun siswa itu memiliki HP Android. Pada survei September 2020, GNI menemukan dari 125 siswa yang memiliki HP Android, hanya 29,60 persen yang aktif belajar setiap hari. Angka itu berkurang drastis menjadi 13 persen pada survei Februari 2021. Bahkan 50 persen anak yang tidak belajar setiap hari, mereka absen belajar selama 14 hari setiap bulan.
”Anak-anak yang kami survei ini adalah anak-anak di Kota Medan dan Deli Serdang yang mendapat manfaat dari program GNI,” katanya
GNI merekomendasikan kepada pemerintah daerah untuk menggunakan kurikulum darurat, memfokuskan pemulihan kemampuan belajar ketika Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas dimulai, pemulihan dilakukan melalukan diagnosis kognitif dan non-kognitif serta melakukan pembelajaran terdiferensiasi sebagai upaya untuk mencegah kehilangan kemampuan belajar siswa (learning loss) yang lebih besar.
Langkah-langkah ini tidak cukup hanya dilakukan melalui himbauan dan surat edaran, namun harus diikuti dengan pelatihan dan pendampingan secara intensif kepada guru. “Pemerintah daerah dapat berkolaborasi dengan lembaga swadaya masyarakat, lembaga anak, komunitas guru, organisasi profesi guru, universitas, serta pihak swasta untuk membantu sekolah berdaptasi dengan situasi pandemi,” terang Anwar.
Jumakir, S. Pd, M. Pd, Kabid GTK Disdikbud Deli Serdang mengapresiasi rekomendasi yang disampaikan oleh GNI bersama Forum Anak Bulucina. Dinas Pendidikan Deli Serdang akan menindaklanjuti rekomendasi webinar ini. “Sehingga sekolah di Deli Serdang bisa adaptif ketika PTM Terbatas nanti akan digelar,” tegas Jumakir.
Dia menambahkan sekolah harus adaptif agar mampu menahan laju learning loss. Selama masa pandemi, diperkirakan lebih dari 3.000 anak Deli Serdang telah putus sekolah. “Fakta ini menunjukkan learning loss sudah terjadi di Deli Serdang,” katanya.
Lebih lanjut Jumakir mengatakan, Disdikbud Deli Serdang sudah melakukan persiapan untuk melakukan PTM Terbatas. Namun rencana itu tertunda karena meningkatnya penyebaran virus corona. Begitu situasi memungkinkan kelak, maka Deli Serdang akan segera melakukan PTM Terbatas.
“Kebijakan-kebijakan strategis yang sudah disampaikan dalam rekomendasi webinar ini nantinya akan menolong kami untuk menjalankan PTM Terbatas dengan lebih baik, karena sudah berdasarkan kajian-kajian oleh Akademisi, Peneliti dan Praktisi,” tambahnya.
Florischa Ayu Tresnatri, peneliti RISE – The SMERU Research Institute Indonesia, mengatakan PJJ yang berlangsung selama ini tidak berjalan efektif. Banyak siswa mengalami penurunan kemampuan belajar, ketimpangan pengetahuan yang lebar, perkembangan emosi dan psikologi anak terganggu dan banyak anak yang akhirnya putus sekolah.
“Jika tidak ada intervensi khusus pada saat sekolah dibuka kembali, akan berdampak buruk bagi masa depan anak,” kata Florischa.
Dalam penelitian yang telah dilakukan, anak kelas 3 SD yang tidak belajar selama 6 bulan, kemampuan belajarnya akan tertinggal selama 1,5 tahun. Anak kelas 1 SD, jika tidak belajar selama 6 bulan akan tertinggal selama 2,2 tahun. Dan setelah dewasa, mereka akan kehilangan 15-20% pendapatan tahunan.
“Oleh karena itu, harus ada pemulihan kemampuan belajar pada anak pada saat sekolah dibuka kembali,” ungkap Florischa.
Pranika Dian Dini, Guru Kelas 1 SDN 008 Binai, Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara) mengatakan perlunya melakukan pemetaan kemampuan siswa melalui assessmen diagnosis kognitif dan non kognitif. Pemetaan ini menjadi dasar bagi guru untuk mengelompokkan kemampuan siswa dan membuat materi yang sesuai. Melalui pengelompok ini, guru melakukan Teaching at the Right Level (TaRL).
“Guru harus mendapatkan pelatihan dan pendampingan agar mampu melakukan Teaching at the Right Level. Di Kabupaten Bulungan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan Program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) untuk melatih guru,” kata Dini.
Sejurus dengan itu, Siti Kariah, Kepala SMPN 3 Tana Tidung, Kaltara mengatakan PTM Terbatas sangat bermanfaat untuk memitigasi learning loss yang dialami siswa. Guru dapat melakukan assessmen untuk menentukan level kompetensi siswa yang hilang. Agar PTM Terbatas aman, maka sekolah harus mampu memitigasi potensi ancaman Covid-19 di sekitar sekolah. Sekolah tidak perlu ragu melakukan buka-tutup sekolah untuk menjamin kesehatan dan keselamatan peserta didik.
Sejak Oktober 2020, sekolah Siti sudah tiga kali melakukan pembukaan dan penutupan sekolah. Penutupan-pembukaan sekolah ini merupakan cara sekolah beradaptasi dengan masa pandemi. “Sistem yang kami bangun ini efektif melindungi warga sekolah. Sampai saat ini tidak ada kasus terpapar Covid-19 di lingkungan sekolah,” tegasnya. (Red)











