Warisan Budaya Nias Mencuri Perhatian di PRSU, Museum Pusaka Dibidik Jadi Destinasi Wisata Dunia

Pameran Koleksi kekayaan sejarah dan budaya Nias.
Share

Medan, ArmadaBerita.Com – Deretan benda-benda bersejarah dari Kepulauan Nias menjadi magnet perhatian pengunjung di Paviliun Pemerintah Kabupaten Nias pada Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50 di Medan, Kamis (24/7/2026). Di antara koleksi yang dipamerkan, replika kursi raja berusia ratusan tahun menjadi pusat perhatian, memperlihatkan jejak panjang peradaban masyarakat Ono Niha yang masih terjaga hingga kini.

Di bawah sorot lampu stan pameran, kursi raja, perisai kayu, tombak, pedang, mahkota, hingga kalung besi tradisional atau kalimbubu tersusun rapi. Pengunjung tampak bergantian mengamati setiap detail koleksi sembari mendengarkan penjelasan mengenai sejarah dan filosofi benda-benda tersebut.

Penjaga stan Pemerintah Kabupaten Nias, Agus Mulyanto Laoli, mengatakan koleksi yang dipamerkan merupakan representasi kekayaan sejarah dan budaya Nias yang diwariskan secara turun-temurun.

Menurutnya, benda-benda tersebut menjadi pengingat bahwa peradaban Nias telah berkembang sejak ratusan tahun lalu dan masih terus dijaga oleh masyarakat hingga sekarang. Sebagian koleksi asli juga disimpan di Museum Pusaka Nias di Kota Gunungsitoli sebagai upaya pelestarian warisan budaya.

Momentum pameran itu hadir hanya beberapa hari setelah Wakil Gubernur Sumatera Utara Surya mengunjungi Museum Pusaka Nias. Dalam kunjungannya, Surya menyatakan museum tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah berkelas dunia.

Menurut Surya, kekayaan sejarah, budaya, dan peradaban masyarakat Ono Niha merupakan aset yang layak diperkenalkan kepada masyarakat internasional. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, kata dia, akan membawa gagasan tersebut kepada Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution agar mendapat dukungan dalam pengembangannya.

Ia menegaskan pelestarian museum bukan hanya menjadi tanggung jawab Pemerintah Kota Gunungsitoli, tetapi juga pemerintah provinsi, sehingga warisan budaya tersebut dapat terus diwariskan kepada generasi mendatang sekaligus menjadi daya tarik wisata unggulan.

Komitmen itu, lanjut Surya, sejalan dengan langkah Pemerintah Provinsi Sumatera Utara yang tengah mempercepat pembangunan di Kepulauan Nias, termasuk menghapus status daerah tertinggal melalui berbagai program pembangunan.

Sementara itu, Direktur Museum Pusaka Nias Nata’alui Duha menjelaskan secara historis Kepulauan Nias terbagi dalam dua kawasan budaya besar, yakni Nias Utara dan Nias Selatan. Perbedaan tersebut tercermin pada bentuk rumah adat, dialek bahasa, hingga tradisi yang berkembang di masing-masing wilayah.

Ia juga mengingatkan adanya catatan sejarah kolonial ketika masyarakat Nias pernah dijadikan objek penelitian oleh ilmuwan Belanda melalui pencetakan wajah menggunakan gipsum yang kemudian dibawa ke Belanda sebagai bahan riset.

Menurut Nata’alui, perhatian pemerintah daerah terhadap Museum Pusaka Nias diharapkan menjadi titik awal penguatan pelestarian budaya sekaligus mendorong museum berkembang menjadi destinasi wisata sejarah unggulan yang mampu meningkatkan kunjungan wisatawan dan menggerakkan perekonomian masyarakat Kepulauan Nias.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *