JAKARTA BARAT, Armadaberita.com — Tawa dan keceriaan anak-anak mewarnai kegiatan psikoedukasi usia dini yang digelar di RPTRA Kalijodo pada 11, 12, dan 13 November 2025. Selama tiga hari berturut-turut, ruang publik ramah anak ini menjadi tempat belajar yang menyenangkan bagi anak-anak untuk mengenal dan memahami emosi mereka sendiri.
Kegiatan yang berlangsung setiap sore, pukul 15.00 hingga 17.00 WIB, dirancang dengan pendekatan belajar sambil bermain. Anak-anak diajak mengenali emosi dasar seperti senang, sedih, marah, dan takut melalui permainan interaktif, cerita bergambar, serta aktivitas kreatif. Suasana yang hangat dan tidak menggurui membuat anak merasa aman untuk terlibat aktif dan mengekspresikan perasaannya secara terbuka.
Program bertajuk “Aku Kenal dan Bisa Atur Emosiku” ini menggunakan metode pembelajaran sosial-emosional berbasis pengalaman. Anak tidak hanya diperkenalkan pada nama-nama emosi, tetapi juga dilatih memahami bagaimana emosi tersebut muncul dan cara mengelolanya secara sederhana. Melalui permainan ekspresi wajah, diskusi ringan dengan media boneka, hingga pembuatan calm bottle, proses belajar terasa dekat dengan dunia anak dan mudah dipahami.
Seiring berjalannya kegiatan, perubahan positif mulai terlihat. Anak-anak tampak lebih mampu menenangkan diri ketika emosi negatif muncul, serta menunjukkan interaksi sosial yang lebih baik dengan teman sebaya.
Sikap empati, mau bergiliran, dan saling mendukung mulai muncul dalam aktivitas kelompok. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran emosi dapat dilakukan secara efektif ketika disampaikan dengan cara yang sesuai dengan tahap perkembangan anak.
Antusiasme peserta juga terlihat dari keberanian mereka berbagi cerita dan perasaan di hadapan teman-temannya. Orang tua dan pendamping yang menyaksikan kegiatan ini memberikan respons positif, karena program dinilai membantu anak mengenal diri dan mengelola emosi sejak usia dini.
Kehadiran RPTRA Kalijodo sebagai ruang aman dan ramah anak turut mendukung terciptanya suasana belajar yang seimbang antara bermain dan bertumbuh.
Kegiatan psikoedukasi ini menjadi contoh bahwa pendidikan kesehatan emosional tidak harus dilakukan secara kaku. Dengan pendekatan yang kreatif dan menyenangkan, anak-anak dapat belajar memahami emosinya sebagai bagian penting dari perkembangan diri.
Program serupa diharapkan dapat terus dikembangkan sebagai upaya menanamkan kecakapan emosional sejak dini, sekaligus memperkuat peran ruang publik sebagai tempat tumbuh kembang anak.
Tim Penulis: Mayleakhi Angelo, Naomi Callista Tannael, dan Angelique Widjaja. Mereka adalah Mahasiswa Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA) Jakarta, Program studi Psikologi.











