Medan, ArmadaBerita.Com
Pada bulan April 2022, tekanan inflasi Sumatera Utara meningkat sebesar 3,63 persen (yoy), lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang mencatatkan angka 3,26 persen (yoy), namun masih dalam rentang target inflasi nasional 3±1 persen.
Komoditas minyak goreng menjadi faktor utama pembentukan inflasi di Sumatera Utara pada bulan April 2022. Hal itu disebabkan oleh masih berlanjutnya dampak pencabutan Harga Eceran Tertinggi (HET) minyak goreng kemasan dan harga minyak goreng curah yang belum sesuai dengan HET.
Demikian disampaikan Kepala BI Sumut Doddy Zulverdi saat menggelar Bincang Bareng Media (BBM) dengan sejumlah awak media di gedung BI Sumut Jalan Balaikota, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan, Provinsi Sumut, Selasa (31/5/2022) siang.
Diungkapkan Doddy, berdasarkan disagregasinya, inflasi periode berjalan didorong oleh seluruh komponen inflasi, khususnya pada Core Inflation yang mencatatkan andil inflasi tertinggi sebesar 1,80 persen (yoy). Sementara andil inflasi Volatile Food dan Administered Prices mencatatkan andil masing-masing sebesar 1,26 persen (yoy) dan 0,59 persen (yoy).
“Secara spesifik untuk Sumut lebih cepat pertumbuhan ekonominya di TW I-2022 lebih tinggi dibanding TW sebelumnya. Namun itupun belum mengalahkan sebelum Covid-19, dan belum optimal,” ungkapnya.
Akan tetapi, kata Kepala BI Sumut lagi, pada Mei 2022, inflasi bulanan Sumatera Utara diprakirakan lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya namun tetap meningkat secara tahunan.
Kondisi yang lebih rendah tersebut diprakirakan dipengaruhi oleh normalisasi konsumsi masyarakat pasca HBKN Idul Fitri, peran Tim Percepatan Inflasi Daerah (TPID) untuk memastikan ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi, serta kebijakan pemerintah yang turut menahan dampak tekanan inflasi.
Di sisi lain, komponen volatile food diprakirakan akan menjadi pendorong inflasi disebabkan adanya potensi gangguan cuaca yang dapat menghambat produksi dan distribusi, serta masih tingginya harga pakan ternak yang menaikkan biaya produksi.
Dalam rangka mengantisipasi peningkatan tekanan inflasi yang diprakirakan terus berlanjut, sebut Doddy Zulverdi, TPID di Sumatera Utara terus berkoordinasi untuk menyusun langkah pengendalian harga, ketersediaan pasokan, dan kelancaran distribusi.
Upaya pengendalian inflasi dilakukan dengan menggerakan TPID Provinsi Sumut dan Kabupaten/Kota melaksanakan Peta Jalan Pengendalian Inflasi 2022 – 2024 dengan stategi 4K dan melakukan evaluasi secara berkala.
Kemudian, TPID Provinsi Sumut dan Kabupaten/Kota senantiasa melakukan monitoring pasokan dan harga pasca HBKN Idul Fitri. Mendorong Pemerintah Kabupaten/Kota untuk berinovasi dalam upaya peningkatan produksi pangan, hortikultura dan perikanan.
Selanjutnya, mengurangi ketergantungan dan alternatif substitusi saprodi, misalnya pupuk impor melalui penggunaan pupuk organik yg lebih efisien dan ramah lingkungan.
Serta mendorong optimalisasi implementasi Kerjasama Antar Daerah untuk menjaga ketersediaan pasokan komoditas pangan di Sumatera Utara dan meningkatkan kesejahteraan petani. (ASN)











