MEDAN, ARMADABERITA – Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan, memberikan bantuan kepada SLB A Karya Murni di Jalan Karya Wisata, Medan Johor, Jumat (28/8).
Dalam kunjungannya, Sofyan memberikan insentif kepada 16 guru masing-masing sebesar Rp500 ribu atau total Rp8 juta. Ia juga berencana menggunakan sebagian gajinya untuk membeli lima kipas angin bagi sekolah tersebut.
Sofyan mengatakan, perhatian terhadap siswa SLB A Karya Murni sebenarnya telah dilakukan sejak beberapa tahun terakhir melalui penyaluran Program Indonesia Pintar (PIP).
“Saya sejak awal sudah instruksikan SLB-SLB yang ada di dekat kami yang membutuhkan bantuan, dicarikan dan diberikan beasiswa PIP,” kata Sofyan.
Menurut Sofyan, bantuan pendidikan tidak harus menunggu dirinya datang langsung ke sekolah. Namun, kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk mengetahui lebih jauh kondisi dan kebutuhan siswa maupun tenaga pendidik.
Dalam kunjungan itu, Sofyan mengetahui sebagian besar operasional SLB A Karya Murni masih mengandalkan donasi dan bantuan dari orang tua siswa yang mampu. Kondisi tersebut mendorongnya memberikan bantuan tambahan secara pribadi.
Ia menjelaskan, angka lima dalam bantuan kipas angin memiliki makna simbolis yang mengingatkan pada Pancasila. Sementara angka delapan pada total insentif guru sebesar Rp8 juta dimaknainya sebagai simbol garis yang tidak terputus.
“Angka lima mengingatkan pada Pancasila. Sedangkan angka delapan dipilih sebagai simbol garis yang tidak terputus. Mudah-mudahan hubungan antara kita semuanya tidak terputus,” ujarnya.
Kepala Sekolah SLB A Karya Murni, Suster Petriani br Saragih, mengatakan para guru menghadapi tantangan besar dalam mendampingi siswa berkebutuhan khusus.
Selain pembelajaran akademik, para siswa dibimbing untuk belajar berjalan dan mengenali lingkungan, menggunakan laptop, memasak, hingga bermain musik. Keterampilan tersebut diberikan sebagai bekal agar siswa dapat hidup lebih mandiri pada masa mendatang.
“Supaya mereka nanti ada tempatnya untuk masa depan,” ujar Suster Petriani.
Suster Petriani juga menceritakan sejumlah pengalaman yang menggambarkan kondisi siswa di sekolah tersebut. Salah satunya seorang siswa yang pernah bertanya, “Boleh pinjam mata Suster?” karena ingin mengetahui warna pakaian yang dikenakannya.
Ia juga menceritakan Jojo, seorang siswa tunanetra sekaligus autis yang belum memahami bahwa ibunya telah meninggal. Jojo masih kerap meminta untuk menelepon ibunya.
Meski memiliki keterbatasan, para siswa tetap memiliki harapan dan cita-cita. Salah satu doa yang disampaikan anak-anak tersebut adalah agar suatu saat mereka dapat melihat.
Mendengar cerita tersebut, Sofyan menyampaikan apresiasi kepada para guru yang dinilainya menjalankan tugas bukan semata-mata sebagai profesi, tetapi juga sebagai panggilan hati.
“Cahaya itu ada di dalam hati, bukan di mata. Ada orang yang matanya terang, tapi hatinya tidak bercahaya,” kata Sofyan.
Sofyan menegaskan, perhatian terhadap pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus perlu terus diberikan, termasuk melalui dukungan terhadap akses pendidikan dan keberlangsungan sekolah.











