Jakarta, Armada berita Com – Ambisi Indonesia memperkuat industri nasional dan mengembangkan hilirisasi tidak cukup hanya ditopang investasi dan sumber daya alam. Pemerintah menilai kualitas tenaga kerja menjadi faktor penentu agar nilai ekonomi dari industrialisasi benar-benar dapat diciptakan di dalam negeri.
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menegaskan, pembangunan industri harus berjalan beriringan dengan peningkatan kompetensi pekerja. Tanpa tenaga kerja yang mampu menguasai teknologi dan mengikuti perubahan kebutuhan industri, agenda hilirisasi berisiko tidak menghasilkan nilai tambah secara optimal bagi Indonesia.
“Tidak ada hilirisasi tanpa manusia yang mampu mengerjakannya, tidak ada industrialisasi tanpa pekerja yang kompeten, dan tidak ada kemandirian ekonomi tanpa kekuatan tenaga kerja Indonesia,” kata Yassierli saat memimpin upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Plaza Kementerian Ketenagakerjaan, Jakarta, Senin (17/8/2026).
Menurut Yassierli, tantangan ketenagakerjaan ke depan semakin kompleks. Digitalisasi, kecerdasan artifisial (AI), otomasi, transisi energi, hingga munculnya industri baru akan mengubah kebutuhan dunia kerja secara cepat.
Karena itu, pemerintah tidak ingin sistem pelatihan tenaga kerja hanya bergerak setelah kebutuhan industri muncul. Kemnaker mendorong pelatihan vokasi, pemagangan, sertifikasi kompetensi, serta kerja sama yang lebih erat dengan dunia usaha dan industri agar keterampilan pekerja sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan.
“Kita harus semakin mampu membaca perubahan kebutuhan industri agar sistem pelatihan kita tidak selalu datang terlambat. Sebab pada akhirnya, kedaulatan industri membutuhkan kedaulatan kompetensi,” ujarnya.
Selain menyiapkan pekerja baru, pemerintah juga mendorong peningkatan keterampilan pekerja yang sudah berada di pasar kerja melalui program reskilling dan upskilling. Langkah tersebut dinilai penting agar pekerja tidak tertinggal ketika teknologi dan pola kerja berubah.
Data Sakernas Mei 2026 menunjukkan sekitar 148 juta penduduk Indonesia telah bekerja dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,65 persen. Bagi pemerintah, tantangannya bukan hanya menciptakan lapangan pekerjaan, tetapi memastikan tenaga kerja dapat bertemu dengan pekerjaan yang sesuai kompetensinya.
“Pasar kerja harus mampu mempertemukan orang yang membutuhkan pekerjaan dengan pekerjaan yang membutuhkan kompetensi mereka, secara lebih cepat dan tepat,” kata Yassierli.
Kemnaker juga menempatkan pembangunan pasar kerja yang adaptif, penciptaan dunia kerja yang inklusif, serta penguatan hubungan industrial sebagai bagian dari strategi ketenagakerjaan nasional.
Yassierli menekankan, keberhasilan industrialisasi pada akhirnya tidak semata-mata diukur dari bertambahnya industri atau investasi. Dampaknya harus terlihat pada peningkatan produktivitas, daya saing, kualitas pekerjaan, dan kesejahteraan pekerja.
“Tugas kita adalah membuat perjalanan mereka menjadi lebih baik: dari belajar menjadi kompeten, dari kompeten memperoleh pekerjaan, dari bekerja menjadi semakin produktif, dan dari produktivitas memperoleh kehidupan yang semakin sejahtera,” pungkasnya.*











