Medan, ArmadaBerita.Com – Sumatera Utara mencatat tingkat inflasi year on year (yoy) sebesar 2,71 persen pada September 2026. Angka tersebut menempatkan Sumut sebagai provinsi dengan inflasi terendah keempat secara nasional. Sementara secara month to month (mtm), inflasi Sumut berada di level 0,14 persen.
Kepala Biro Perekonomian Sumut Evan Botung Daulay mengatakan posisi tersebut berhasil dipertahankan Sumut selama dua bulan terakhir.
“Sumut dari data BPS, nomor empat terendah se-Indonesia,” kata Evan dalam temu pers yang digelar Dinas Komunikasi dan Informatika Sumut di Anjungan Dekranasda Sumut, Kantor Gubernur Sumut, Jalan Diponegoro, Medan, Selasa (6/10/2026).
Menurut Evan, salah satu langkah yang ditempuh Pemerintah Provinsi Sumut untuk menjaga inflasi adalah melalui gerakan pangan murah. Kebijakan tersebut berjalan bersamaan dengan berbagai upaya menjaga kestabilan harga dan ketersediaan kebutuhan pokok.
Biro Perekonomian Sumut juga berkolaborasi dengan sejumlah pemangku kepentingan untuk memastikan pasokan tetap tersedia, memenuhi kebutuhan masyarakat berpenghasilan rendah, serta menjaga harga eceran tertinggi (HET) sejumlah bahan pokok.
“Ini sesuai arahan Pak Gubernur untuk menjaga kestabilan harga,” tegasnya.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Sumut saat ini berada di kisaran 5 persen. Pemerintah pusat menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 8 persen pada 2029. Untuk mendukung target tersebut, Pemprov Sumut menerapkan kebijakan ekonomi melalui kolaborasi bersama para pemangku kepentingan.
“Langkah-langkahnya sama seperti yang tadi saya sampaikan. Kebijakan ekonomi selalu kami jalankan dengan berkolaborasi,” kata Evan.
Pengendalian inflasi juga diperkuat melalui pemantauan dan evaluasi (monev) secara rutin. Langkah ini dilakukan untuk memastikan berbagai kebijakan intervensi tidak berhenti pada perencanaan, tetapi diwujudkan dalam aksi di lapangan.
Kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) dan badan usaha milik daerah (BUMD) dilakukan untuk mengintervensi pasar, mengamankan pasokan pangan, serta mencegah kelangkaan. Pasar murah juga disiapkan untuk mengantisipasi potensi lonjakan harga.
“Kami berusaha untuk menjaga agar pasokan ini tetap terjaga di pasar, tidak ada yang namanya kelangkaan lagi. Dan biasanya ketika isu kelangkaan itu sudah mulai, kami juga punya BUMD yang bergerak di bidang pangan, itu yang mengintervensi dalam artian menjaga pasokan,” ungkapnya.











