Medan, ArmadaBerita.Com – Dunia pendidikan kembali tercoreng. Seorang mahasiswa program studi farmasi di Kota Medan, berinisial MZ (21) diduga nekat beralih menjadi bandar narkotika jenis pod getar demi meraup keuntungan instan. Aksi pelaku akhirnya terhenti setelah diringkus personel Satresnarkoba Polrestabes Medan dengan barang bukti ratusan pod berisi narkotika siap edar.
Penangkapan dilakukan pada Senin (20/7/2026) malam di sebuah rumah kos di Kelurahan Merdeka, Kecamatan Medan Baru. MZ diamankan saat berada di depan rumah kos sambil membawa sebuah tas ransel yang belakangan diketahui berisi 488 pod getar bermerek Squid Game.
Kasatresnarkoba Polrestabes Medan, AKBP Rafli Yusuf Nugraha, mengatakan pengungkapan tersebut merupakan hasil pengembangan dari kasus pod getar yang sebelumnya berhasil dibongkar di kawasan pusat Kota Medan.
“Kami mengembangkan kasus pod getar yang sebelumnya kami ungkap di sebuah rumah di pusat Kota Medan. Dari tangan pelaku kami menyita 488 pod getar. Kami memastikan pelaku merupakan bandar yang tergabung dalam sindikat narkoba antarprovinsi,” kata Rafli, Sabtu (25/7/2026).
Pengungkapan bermula dari informasi masyarakat yang menyebut rumah kos tersebut diduga kerap dijadikan lokasi transaksi narkoba. Menindaklanjuti laporan itu, Tim 10 Unit III Satresnarkoba melakukan penyelidikan hingga akhirnya berhasil mengamankan pelaku beserta barang bukti.
Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, MZ baru sekitar dua bulan menjalankan bisnis haram tersebut. Meski tergolong baru, polisi mengungkap pelaku telah melakukan sedikitnya delapan kali transaksi, dengan sebagian pembeli berasal dari kalangan mahasiswa.
“Pelaku baru dua bulan menjalankan bisnis ini, tetapi sudah delapan kali bertransaksi. Kami masih memburu seorang rekannya yang memiliki peran serupa dan terdeteksi berada di Aceh,” kata Rafli.
Polisi juga menduga pasokan pod getar tersebut berasal dari Malaysia, sebelum diedarkan melalui jaringan lintas provinsi yang beroperasi di Sumatera.
Saat ini Satresnarkoba Polrestabes Medan masih melakukan pendalaman untuk mengungkap seluruh mata rantai jaringan, termasuk memburu pemasok dan pihak-pihak yang diduga berada di level lebih tinggi.
“Kami akan terus mengejar seluruh jaringan. Bagaimanapun cara mereka berkamuflase, kami akan selalu selangkah lebih maju. Tidak ada ruang bagi bandar narkoba di Kota Medan,” tegas Rafli.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa peredaran narkotika kini menyasar berbagai kalangan, termasuk lingkungan kampus. Aparat mengimbau masyarakat untuk terus berperan aktif memberikan informasi guna memutus rantai peredaran narkoba yang semakin beragam modusnya. (*/Asn)











