Pria yang Menginginkan Kematian

Share

Oleh: Pretty Luci Lumbanraja

TAMPANG Oji seperti mayat hidup. Wajah kantuk sudah menempel permanen di wajahnya. Meskipun selama seminggu terakhir, dia sudah mencoba tidur 7 jam per hari. Itupun untuk bisa tidur, dibutuhkan perjuangan yang cukup besar. Lebih dari 8 jam waktunya sudah dipakai murni bekerja. Tidak memegang gawai, tidak berbicara dengan rekan kerja, dan tidak merokok. Sekalipun saat makan siang, mulutnya tidak berhenti mengoceh. Hamburan nasinya berceceran dimana-mana. Di atas keyboard hingga sampai mendarat menyentuh mulut bosnya saat berbicara.

Bosnya itu sudah sangat mengkhawatirkan Oji.

“Loyalitas tanpa batas, Pak.”

“Loyalitas tanpa batas, loyalitas tanpa batas. Sekali lagi lu ngomong kek gitu, gua pecat lu,” bosnya saat ia tidak bisa bercanda lagi. Entah apa yang dikejar Oji. Untuk seusianya, mendulang karir terlalu cepat akan berdampak cacat di pekerjaan. Bagaimanapun usianya masih muda, pengalamannya pun belum mumpuni. Oji juga belum menyeluruh ruang lingkup kerja antar divisi.

Jika terlalu cepat ia mengemban jabatan puncak itu, ditakutkan saat jatuh karena tidak mampu akan berkesan buruk “bau.” Bau nya lebih bau dari bau kotoran. Orang-orang akan menjauhi, tidak percaya, dan tidak mengandalkan dia lagi. Berulang-ulang kali bosnya itu mengingatkan. Dengan maksud terselubung atau tidak. Sampai mulutnya berbui. Oji tetap tidak menggubris. Barangkali Oji berpikir akan ada upah yang layak diterima dari buah kegigihan dan semangat kerja.

Hari demi hari. Gila kerjanya Oji semakin menjadi-jadi. Pagi, siang, malam, jumpa ke subuh. Tidak ada waktu untuk otaknya beristirahat. Orang-orang menjadi ngeri melihatnya. Istrinya pun ikut diabaikan. Monitor dan keyboard menjadi teman tidur sepanjang malam. Istrinya bisa menghitung kali terakhir mereka bermesra-mesraan. Tidak pernah lagi.

Di sisi lain, pekerjaan rumah tangga pun juga tidak absen dikerjakan. Jika suaminya bingung mau mengerjakan sesuatu, Oji dibiarkan membersihkan semua jendela, piring, pakaian saat tengah malam. Pikir istrinya, barangkali ia sudah menikahi orang gila.

Tidak tahan dengan kejanggalan suami, istrinya lantas datang ke kantor. Sampai disana ia habis memarahi bos suaminya. Apa yang telah dicekoki ke suaminya itu hingga bisa menjadi robot yang tahunya hanya bekerja saja. Bosnya sudah tidak tahu mau menjawab apa lagi. Istrinya disuruh pulang dan bercokol sendiri.

Mau bagaimana suaminya cepat pulang, sementara di rumah tidak ada pengalihan. Istrinya pun juga sibuk bekerja, mereka juga belum dikaruniai anak setelah sembilan tahun menikah. Istrinya, Ima mengintip waktu kosong untuk makan malam di luar bersama Oji.

“Sayang, aku lebih cepat pulang malam ini. Kita makan malam sama ya di luar.” Oji tidak langsung menjawab. Ia sibuk dengan angka-angka di balik layar monitor. “Sayang, sayang, kamu dengar aku gak,” istrinya memanggil dari jauh.

“Hmm, ehmm, iya sayang, boleh. Atau bungkus saja? Kita makan di rumah? Aku masih ada kerjaan.”

Ima menahan kekesalannya.

“Aku udah reservasi. Ini sudah mau dekat menuju restorannya, sayang. Kamu kemari ya. Aku kasih alamatnya.”

Oji menuruti istrinya. Ia tidak mau memunculkan kasus baru bak prahara rumah tangga biasanya. Ia langsung bersiap-siap menuju lokasi yang sudah ditentukan. Puntung rokok disulut dan dibuang begiu saja. Sempat langkahnya terhenti, mau kembali lagi ke kantor kah nanti. Pikirnya, barangkali istrinya itu ingin membicarakan sesuatu. Demi menjaga kedamaian rumah tangga beberapa hari ke depan, Oji memilih manut-manut dulu.

Sesampainya di sana, Ima sedang duduk. Di meja terhidang makanan favorit Oji. Ima melambaikan tangan saat melihat Oji. Oji mendekat sebelum wara-wiri entah kemana.

Baru satu, dua sendok hidangan pembuka dinikmati, tiba-tiba mereka dihampiri oleh sepasang suami-istri. Ima disapa lebih dulu. Dengan girang ia menyambut.

“Apa kabar? Ayo gabung bareng kita,” ajak Ima.

Oji tampak tak acuh. Ia terlihat lahap menghabisi makanannya. Perutnya sangat lapar saat itu.

“Sayang, kenali, teman SD aku dulu pas di Bandung, Dewi. Ini suaminya. Siapa…?” sapa Ima

“Toni.”

“Ayo gabung aja bareng kita, Mas, Mba,” ajak Oji.

Oji memang terlihatnya begitu, tidak ramah. Tapi pergaulan yang ia tinggalkan selama setahun lebih ini tidak mengurangi cakapnya berkomunikasi. Di saat para ibu-ibu terlarut dalam pembicaraan ringan, Toni ajak Oji keluar sambil mencari udara segar.

“Rokok, Mas?” Toni menyodorkan.

“Nuhun, Mas.”

Rokok memang senjata yang ampuh untuk mengakrabkan suasana.

“Sudah dikarunia anak, Mas?”

“Alhamdulillah, sepasang, Mas.”

“Wah, saya udah pupus harapan, Mas.” Oji keceplosan. Toni mendapatkan sinyal untuk masuk lebih dalam.

“Kami sudah pergi ke beberapa dokter, dan semua hasil diagnosanya mengatakan ada yang salah dari rahim istriku.” Toni menyimak saja. Oji tidak sungkang bercerita terang-terangan.

“Daripada saya suntuk di rumah, terlalu lama bersama istri ujung-ujungnya pasti ribut. Saya mengalihkan pikiran saya dengan bekerja. Jika saya bekerja barang kali dapat mempercepat kematian saya, Mas.”

***

Waktu menunjukkan semakin larut malam, mereka pun menghampiri para istri. Sehabis drama cipika-cipiki antar para istri, mereka kembali ke rumah. Sepanjang perjalanan, Oji diam saja. Ima menjadi cemas. Jangan-jangan suaminya tidak suka dengan keberadaan temannya tadi. Ima memulai percakapan.

“Aku lapar, Mas. Mau beli jajanan malam.”

“Lapar? Kamu lapar? Seperti orang hamil saja,” tukas Oji.

“Maksudny, Mas? Sudahlah.”

Ima memilih tidak menggubris. Ia tidak mau berbicara apapun sebelum ia menjadi benar-benar marah.

 

Keesokkan harinya, Oji tidak berangkat bekerja. Ia mengambil cuti selama seminggu. Ima bertanya-tanya dalam hati. Orang gila kerja yang dikenalnya selama ini memilih untuk rehat. Secepat itu perubahan yang terjadi setelah kejadian semalam. Harapannya, sehabis bertemu dengan Dewi dan Toni, teman “jadi-jadian”nya itu, ia bisa tahu apa yang sedang dialami suaminya.

Minggu jumpa ke minggu. Oji tidak menyentuh kerjaan sama sekali, pemberitahuan kantor disenyapkan, ia menghabiskan waktunya sepanjang hari dengan menonton anime. Ia juga tidak menyentuh pekerjaan rumah sama sekali. Ima khawatir dan mengatur ulang janji temu dengan teman jadi-jadiannya itu.

Saat Ima tahu gangguan psikologis yang dialami suaminya itu, ia sangat terpuruk. Ia merasa dirinyalah yang menjadi sumber kesedihan dan beban bagi suaminya. Oji tak habis pikir mengapa Ima menyuruhnya untuk berpoligami saja hanya untuk mendapatkan anak. Padahal sumber kebahagiaan mereka tidak mesti memiliki anak.

Ima juga gila kerja, Oji berpikir ternyata harus demikian. Pekerjaan cara untuk mengalihkan pikiran mereka. Tanpa ia sadari badannya telah remuk digerogoti kelelahan. Oji sengaja melakukannya agar istrinya itu tidak memaksanya terus untuk kawin lagi. Daripada terlibat dalam perang mulut, Oji memilih menghindar saja. Lambat laun, Oji lebih mencintai pekerjaan daripada istrinya sendiri.

Saat Ima mengetahui hasil diagnosa suaminya dari teman psikiaternya itu, Ima merenung. Ia menyesal memaksa suaminya selama ini. Saat ingin mengubah sikapnya, terjadi perubahan yang hebat dari suaminya. Sehari-hari suaminya menjadi penggila anime. Semenjak bangun pagi menuju malam tiada henti Oji menonton serial anime. Asupan sehari-hari hanya mie instan yang membuat selera. Hidupnya caruk-marut.

Oji meninggalkan banyak pekerjaan di kantor. Ia nyaris dipecat. Ima membiarkan itu terjadi. Suaminya itu sedang berusaha memulihkan diri. Selama ini, ia tahu, sudah berlebihan dan mencederai pernikahan mereka. Dengan ikhlas dan penuh pasrah, ia terima meskipun tidak memiliki keturunan di dunia.

Di bagian akhir dari percakapan malam itu, sebenarnya pun juga Oji masih menginginkan hidup. Itu semua, karena kematian belum mengijinkannya, sekuat tenaga ia mencoba (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *