Mengenang Jaya Arjuna, Sastrawan yang Tak Pernah Diam Melawan Kerusakan Alam

Share

Medan, ArmadaBerita.Com – Waktu boleh berjalan, tetapi ingatan tidak selalu ikut pergi. Seratus hari setelah wafatnya Ir. Jaya Arjuna, jejaknya justru terasa semakin terang. Sebagai suara yang dulu kerap dianggap mengganggu, namun kini dirindukan karena keberaniannya.

Di tengah lanskap pembangunan yang sering kali abai terhadap kelestarian, Jaya Arjuna berdiri di sisi yang tidak populer dan melawan. Ia bukan hanya menulis tentang alam, tetapi juga menjadikannya medan perjuangan. Kata-katanya bukan sekadar estetika, melainkan sikap.

Pada Sabtu, 18 April 2026, Forum Sastrawan Deliserdang (Fosad) akan menggelar diskusi dan doa bersama di Aula Perpustakaan Daerah dan Arsip Sumatera Utara, Medan, untuk memperingati 100 hari kepergiannya. Di forum itu pula akan diluncurkan buku “Mengenang Sastrawan Insinyur Jaya Arjuna: Sang Penjaga Peradaban”, yang merangkum jejak hidup sekaligus pergulatan pemikiran seorang Jaya Arjuna.

Lahir di Bukittinggi, 7 Oktober 1953, Jaya Arjuna bukan tipe intelektual yang memilih jalan aman. Sejak mahasiswa di Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara, ia telah terlibat dalam dinamika gerakan mahasiswa dan aktivisme lingkungan. Ia tercatat sebagai bagian dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) serta turut merintis Korps Mahasiswa Pecinta Alam (Kompas) USU dan ruang-ruang yang membentuk watak kritisnya.

Namun, idealisme tidak pernah datang tanpa risiko. Dalam satu kisah yang kerap beredar di kalangan aktivis, sebuah anekdot yang terus diingat. Di mana, Jaya Arjuna pernah dikejar dengan pisau terhunus oleh seorang pimpinan perguruan tinggi akibat sikap tegasnya menolak praktik perusakan lingkungan yang mengatasnamakan institusi. Kisah itu bukan sekadar cerita dramatis, melainkan penanda betapa mahal harga yang harus dibayar untuk sebuah keberanian.

Ia kemudian memperdalam kajiannya di University Putra Malaysia dengan fokus pada lingkungan hidup, memperkuat pijakan intelektualnya. Namun, pilihan sikapnya tetap sama: berdiri di garis yang sering kali sepi, mengkritik ketika banyak yang memilih diam.

Di dunia sastra, Jaya Arjuna tidak menjadikan karya sebagai pelarian. Tulisan-tulisannya adalah perpanjangan dari sikap hidupnya: gelisah, tajam, dan berpihak. Ia menulis bukan untuk dikenang, tetapi untuk menggugah kesadaran. Hingga akhir hayatnya, ia masih aktif dalam kegiatan kesenian di Medan sebagai anggota Majelis Kesenian Medan (MKM).

Buku yang diluncurkan dalam peringatan ini menghadirkan potret utuh dirinya melalui karya dan testimoni para sahabat serta kolega. Dari sana, publik dapat melihat Jaya Arjuna bukan hanya sebagai individu, tetapi sebagai gagasan yang hidup.

Rangkaian acara akan diawali dengan doa bersama, dilanjutkan pembacaan puisi oleh S. Ratman Suras, serta diskusi yang dipandu Fadmin P. Malau. Namun lebih dari itu, forum ini menjadi ruang refleksi atas satu pertanyaan penting: siapa yang hari ini berani bersuara seperti Jaya Arjuna?

Sebab dalam banyak hal, kepergian Jaya Arjuna menyisakan kekosongan. Bukan hanya pada figur, tetapi juga pada keberanian. Dan mungkin, yang paling terasa adalah suara yang dulu dianggap terlalu keras, kini justru menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *