Hidangan Mahal dari Tamiang

Share

Oleh: Edi Gunawan

Kabar itu datang seperti gelombang yang tak sempat dibaca arah. Sejak 25 November 2025, layar televisi dan linimasa media sosial dipenuhi gambar yang sama: tanah di ujung Sumatera yang biasanya hijau dan tenang, mendadak berubah menjadi hamparan cokelat pekat. Banjir lumpur menerjang wilayah Aceh Tamiang dan sekitarnya, menggulung rumah, memutus jalan, sekaligus memaksa ribuan orang menepi dari kehidupan yang mereka kenal.

Awal Desember, saya tiba di Desa Lubuk Sidup. Terlambat beberapa hari dari rombongan relawan yang lebih dulu datang dari berbagai daerah. Desa itu belum benar-benar pulih. Lumpur setinggi pinggang orang dewasa masih mengendap di banyak sudut. Rumah-rumah seperti kehilangan bentuk. Di halaman, di ruang tamu, bahkan di dapur, tanah basah itu menempel seakan enggan pergi.

Sebagian warga mencoba membersihkan. Mereka menyapu, mengeruk, memindahkan lumpur sedikit demi sedikit. Namun upaya itu sering terhenti—bukan karena lelah semata, melainkan karena tak tahu harus mulai dari mana. Air bersih terbatas. Ember-ember lebih diprioritaskan untuk minum dan memasak. Mandi menjadi kemewahan yang ditunda.

Di ujung pengungsian, berdiri dapur umum. Sederhana, beratap terpal, beralaskan tanah yang dipadatkan. Namun di sanalah denyut kehidupan kembali terasa. Ibu-ibu memasak dalam ritme yang nyaris tanpa komando. Para laki-laki mengangkat logistik, menata air bersih, sekaligus mencatat kebutuhan warga. Suasana itu hangat, bahkan di tengah situasi yang dingin oleh kehilangan.

“Bapak-Ibu, silakan mengambil tempat. Sebentar lagi kita makan siang bersama.”

Suara itu milik Pak Indra, keuchik Desa Lubuk Sidup. Ia berdiri di tengah kerumunan, menyapa warga sekaligus para relawan. Undangannya sederhana, tetapi terasa tulus.

Saya mencoba menolak dengan halus, mempersilakan makanan itu lebih dulu untuk warga. Namun Pak Indra menggeleng pelan.

“Dalam adat kami ada peumulia jamee—memuliakan tamu. Kami justru merasa terhormat jika Bapak-Ibu ikut makan bersama kami,” ujarnya.

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara yang lebih pelan, tetapi tegas, “Istilah korban bencana itu ada sebelum kami bertemu relawan. Sekarang, kita ini satu keluarga.”

Kalimat itu terasa lebih kuat daripada gemuruh air yang sebelumnya menghantam desa. Di tengah kehilangan yang belum selesai, mereka masih menyisakan ruang untuk memuliakan orang lain.

Siang itu, yang tersaji bukan sekadar makanan. Ada sesuatu yang lebih mahal: penerimaan yang utuh.

**

HARI-HARI DI PENGUNGSIAN berjalan dalam ritme yang berbeda. Pagi diisi dengan distribusi logistik, siang dengan koordinasi, sore dengan kegiatan untuk anak-anak. Kami membuka jaringan internet melalui perangkat satelit, memantau aliran donasi yang masuk dari berbagai platform. Uang, pakaian, hingga bahan makanan berdatangan dari orang-orang yang mungkin tak pernah menginjakkan kaki di Tamiang.

Transaksi banyak dilakukan secara daring. Aktivitas ekonomi di lokasi nyaris berhenti. Barang kebutuhan harus didatangkan dari luar daerah melalui jalur relawan. Cara itu, dalam kondisi darurat, justru menjadi yang paling efektif.

Menjelang sore, kami berdiskusi dengan Pak Indra. Anak-anak di pengungsian membutuhkan ruang untuk kembali merasa “normal”. Maka dibentuklah kegiatan madrasah darurat. Al Quran, Iqra, dan perlengkapan salat dibagikan. Di sela-selanya, permainan ringan disisipkan sebagai terapi trauma.

Di halaman bekas pabrik kelapa sawit yang terbengkalai, anak-anak berbaris. Mereka mengikuti instruksi relawan dengan semangat yang tak terduga.

“Siap, grak! Tegak, grak!”

Suara komando menggema, disambut tawa kecil di antara barisan. Di sudut lain, seorang ibu membuka gulungan tikar plastik berisi pakaian bantuan. Ia memilah satu per satu, mencari ukuran yang pas untuk kedua anaknya. Baju yang mereka kenakan tampak kusam, dengan bercak lumpur yang mulai mengering. Sudah beberapa hari tak terganti.

Ironisnya, dari sekian banyak bantuan pakaian, ukuran anak-anak justru paling sedikit.

**

SORE ITU, dapur umum memasak sesuatu yang berbeda: bakso. Menu sederhana, tetapi bagi warga Lubuk Sidup, ia menyimpan kenangan. Sebelum bencana, bakso adalah santapan yang rutin mereka nikmati di warung sekitar desa.

“Sudah lama tak makan bakso,” kata salah seorang warga.

Kerinduan itu akhirnya terjawab. Seorang donatur dari Medan mengirimkan dua dandang bakso. Cukup untuk seluruh pengungsi.

Aroma kuah yang hangat menyebar ke seluruh barak. Wajah-wajah yang sebelumnya muram perlahan berubah. Anak-anak berbaris dengan mangkuk di tangan. Orang dewasa menunggu dengan sabar. Untuk sesaat, suara deras sungai di dekat pengungsian seakan menghilang.

Malam tiba dengan tenang. Usai salat Isya, doa dipanjatkan bersama. Langit cerah, bintang bertabur. Di sela suara jangkrik, seseorang memanggil dari luar tenda.

Pak Indra kembali datang. Kali ini bukan sebagai tuan rumah, melainkan sebagai kepala keluarga yang memikul beban.

Ia bercerita tentang ladang yang rusak, ternak yang mati, dan rumah yang hilang. Lebih jauh, ia mengungkapkan kekhawatiran tentang pinjaman usaha yang masih berjalan. Ia adalah nasabah Kredit Usaha Rakyat, dengan usaha jagung dan karet yang kini lumpuh.

“Saya tidak tahu harus bagaimana,” katanya lirih.

Saya teringat kabar tentang kebijakan pemerintah yang memberikan relaksasi bagi debitur terdampak bencana. Informasi itu saya sampaikan perlahan, dengan bahasa yang sederhana.

Pak Indra terdiam sejenak. Wajahnya berubah, tidak lagi sepenuhnya tegang.

“Saya hampir putus asa, Bang,” ujarnya.

Harapan, kadang, datang dari hal-hal kecil: sepotong informasi yang tepat waktu.H

**

HARI-HARI BERLALU CEPAT. Di tengah kelelahan, ada juga kebahagiaan yang tak mudah dijelaskan. Di Tanah Tamiang, saya belajar bahwa bertahan hidup bukan satu-satunya hal yang diperjuangkan para penyintas.

Ada sesuatu yang mereka jaga lebih kuat: nilai.

Di tengah lumpur, mereka tetap memuliakan tamu. Di tengah kehilangan, mereka tetap berbagi. Di tengah ketidakpastian, mereka masih percaya pada kebersamaan.

Barangkali, di situlah letak kekayaan yang sesungguhnya. Bukan pada hasil bumi, bukan pula pada apa yang tampak secara materi, melainkan pada sikap hidup yang diwariskan—tentang bagaimana manusia tetap menjadi manusia, bahkan ketika segalanya nyaris hilang.

Dan dari Lubuk Sidup, saya pulang dengan satu pelajaran yang sulit dilupakan: hidangan paling mahal bukanlah yang tersaji di atas meja, melainkan yang lahir dari ketulusan hati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *