NEWS  

Rupiah menuju 17.000, IHSG menuju 4000, Ekonomi Global Resesi Akibat Corona

Share

ArmadaBerita.Com

Indeks harga saham futures di AS pagi ini sempat menyentuh level pelemahan 5%, yang mengindikasikan akan adanya kemungkinan transaksi saham yang berujung pada penghentian sementara di bursa asia.

Hal itu disampaikan ekonom Indonesia, Gunawan Benjamin kepada wartawan, Senin (23/3/2020) pagi.

Dikatakannya, pelemahan indeks futures di AS pada pembukaan perdagangan pekan ini adalah berita buruk yang bisa saja memberikan pukulan besar bagi kinerja pasar keuangan domestik.

Secara keseluruhan indeks bursa di Asia juga mengalami pelemahan pada perdagangan pagi ini. Kinerja indeks bursa di asia diperkirakan akan terus mengalami pukulan berat seiring dengan pelemahan bursa di AS nantinya.

“Pagi ini, IHSG dibuka melemah di level 4.105,03. Dan pelemahan terhadap IHSG masih berlanjut dimana saat ini pelemahannya di level 4.029,23. IHSG melemah nyaris 4%, pada sesi pembukaan perdagangan pagi ini. Dimana IHSG akan mencoba level psikologis 4.000 selama perdagangan hari ini,” katanya.

Menurut Gunawan, potensi IHSG melemah cukup besar dan diyakini akan memberikan pukulan berat bagi kinerja pasar keuangan secara keseluruhan. Disisi lain, kekuatiran akan memburuknya penyebaran corona di seluruh negara di dunia, akan terus membayangi transaksi pasar keuangan dunia termasuk Indonesia.

“Pagi ini, selain pelemahan IHSG, mata uang Rupiah juga mengalami pelemahan dalam rentang 16.400 hingga 16.600 per US Dolarnya. Kinerja mata uang Rupiah terpuruk dan merupakan level yang lebih buruk dibandingkan dengan krisis 97/98 silam. Kinerja mata uang Rupiah diyakini masih berpeluang melemah seiring dengan memburuknya ekonomi global,” urainya.

Selain itu, sambung Gunawan, mata uang di banyak negara lain juga terpuruk saat ini. Dan aktifitas ekonomi masyarakat yang terpaksa harus dibatasi karena corona juga memukul kinerja Rupiah.

Dengan banyaknya pabrik, kantor, sekolah, hingga layanan umum masyarakat yang terpaksa ditutup sementara menjadi kekuatiran pelaku pasar akan kemungkinan resesi yang datang lebih cepat.

“Kalau di tahun 1997/98 Rupiah yang melemah memicu terjadinya krisis ekonomi. Saat ini kondisinya berbalik, corona membuat ekonomi mengalami tekanan dan berpotensi memicu terjadinya krisis, yang turut mengakibatkan Rupiah melemah terhadap US Dolar. Jadi pemicu resesi saat ini berbeda dibandingkan masa 22 tahun silam,” jelasnya. (Nst)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *