Jakarta, ArmadaBerita.Com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sistem keuangan nasional tetap terjaga meskipun perekonomian global masih dihadapkan pada perlambatan dan meningkatnya risiko ketidakpastian. Penilaian tersebut disampaikan dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan OJK yang digelar secara daring, Jumat (9/1/2026). Rapat dipimpin langsung Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar dan dilanjutkan pemaparan para naggota Komisioner OJK lainnya.
OJK mencatat rilis data perekonomian global menunjukkan perbaikan secara umum. Aktivitas manufaktur global masih berada di zona ekspansi, meskipun lajunya melambat seiring menurunnya kepercayaan konsumen. Untuk 2026, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan terus melandai dan berada di bawah rata-rata pra-pandemi, sejalan dengan meningkatnya risiko fiskal di sejumlah negara utama.
Di Amerika Serikat, perekonomian masih menunjukkan kinerja yang relatif solid. Produk Domestik Bruto kuartal III 2025 tumbuh 4,3 persen, lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya. Pertumbuhan tersebut didorong oleh konsumsi rumah tangga, penurunan impor, serta peningkatan investasi, khususnya pada sektor kecerdasan buatan. Namun, pasar tenaga kerja mulai menunjukkan moderasi dan inflasi bergerak turun.
Sebaliknya, perlambatan ekonomi di Tiongkok masih berlanjut. Konsumsi rumah tangga tercatat tertahan, sementara dari sisi penawaran, aktivitas manufaktur kembali ke zona kontraksi. Tekanan di sektor properti juga masih berlangsung dan menjadi salah satu faktor utama pelemahan ekonomi.
Perbedaan kondisi ekonomi mendorong arah kebijakan bank sentral global yang tidak seragam. Bank Sentral Amerika Serikat dan Bank of England kembali menurunkan suku bunga kebijakan, sementara Bank of Japan justru menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam tiga dekade terakhir. Kondisi ini memengaruhi dinamika pasar keuangan global, baik di pasar saham maupun obligasi.
OJK menilai di tengah dinamika global tersebut, perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan. Inflasi inti pada Desember 2025 tercatat meningkat secara terbatas, sektor manufaktur masih ekspansif, dan kinerja eksternal tetap terjaga dengan neraca perdagangan yang mencatatkan surplus. (*)











