ArmadaBerita.Com – Sejumlah agenda ekonomi global dan domestik dinilai akan menjadi faktor penentu pergerakan pasar keuangan sepanjang pekan ini, di tengah meningkatnya tensi geopolitik dan tekanan pada nilai tukar rupiah.
Pengamat Ekonomi, Gunawan Benjamin menilai bahwa pasar hari ini dibuka dengan perhatian utama tertuju pada China.
“Data pertumbuhan ekonomi atau GDP China menjadi pembuka perdagangan hari ini. Selanjutnya, pada perdagangan besok, Bank Sentral China (People’s Bank of China/PBoC) dijadwalkan akan mengumumkan kebijakan moneternya dengan menetapkan besaran suku bunga pinjaman,” terangnya, Senin (19/1/2026).
Ia menambahkan, fokus pasar kemudian akan beralih ke kebijakan moneter dalam negeri. “Pada hari Rabu mendatang, giliran Bank Indonesia yang akan mengumumkan keputusan suku bunga acuannya. Kebijakan ini akan sangat diperhatikan pelaku pasar, khususnya di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang masih berlanjut,” jelasnya.
Agenda penting juga datang dari Amerika Serikat dan Jepang pada paruh kedua pekan. “Di hari Kamis, Amerika Serikat akan merilis sejumlah data penting, salah satunya adalah data pertumbuhan ekonomi atau GDP AS yang diproyeksikan tumbuh di kisaran 4 persen secara kuartalan pada kuartal III,” kata dia.
“Kemudian pada hari Jumat, agenda ekonomi penting akan ditutup oleh kebijakan moneter Bank Sentral Jepang atau Bank of Japan (BoJ),” lanjutnya.
Menurut Gunawan, banyaknya agenda ekonomi tersebut membuat pergerakan pasar saham Asia cenderung berhati-hati. “Pada awal pekan ini, bursa saham di kawasan Asia bergerak mixed dengan kecenderungan melemah,” ungkapnya.
Kondisi tersebut turut memengaruhi pasar saham domestik. “Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memang dibuka menguat di level 9.098, namun sejauh ini masih ditransaksikan di zona merah,” tuturnya.
“Di sisi lain, nilai tukar rupiah juga terpantau melemah dan ditransaksikan di level 16.900 per dolar AS,” tambahnya.
Ia menilai kombinasi tekanan eksternal dan domestik berpotensi membebani IHSG. “Melemahnya bursa saham Asia, ditambah dengan kinerja rupiah yang mendekati level psikologis 17.000, akan menjadi sentimen negatif dan membebani kinerja IHSG selama sesi perdagangan berlangsung,” jelasnya.
Sementara itu, ketegangan geopolitik turut mendorong lonjakan harga emas dunia. “Harga emas global kembali mencetak rekor tertinggi baru di kisaran 4.661 dolar AS per ons troy, atau sekitar Rp2,51 juta per gram,” katanya.
Kenaikan harga emas tersebut, menurutnya, dipicu oleh memburuknya hubungan Amerika Serikat dan Eropa.
“Harga emas naik di tengah rencana Amerika Serikat untuk menaikkan tarif impor terhadap Eropa. Sebelumnya, hubungan kedua pihak juga memanas terkait isu aneksasi wilayah Greenland,” pungkasnya. (Asn)











