Medan, ArmadaBerita.Com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengklaim bahwa kinerja dan pertumbuhan lembaga jasa keuangan (LJK) di Sumatera Utara (Sumut) setahun terhakhir atau mulai Jauari hingga Juli 2026 tahun ini Cenderung bagus.
Pernyataan tersebut disampaikan Kepala OJK Provinsi Sumatera Utara, Triyoga Laksito dihadapan sejumlah wartawan pada agenda Media Talk OJK dengan Tema “Sektor Jasa Keuangan dan Inklusi Keuangan Menguat di Sumatera Utara” yang berlangsung di kantor OJK Sumut, Jalan Gatot Subroto, Medan, Selasa (22/9/2026).
“Pada intinya kinerja Lembaga Jasa Keuangan di Sumut baik itu perbankan, atau pun non perbankan seperti perusahaan pembiayaan, modal vetura, LKM, perusahaan penjaminan, fintech, perasuransian dan dana pensiun, serta pasar modal dalam setahun ini tumbuh bagus,” kata Triyoga Laksito.
Di mana saat ini di Sumut terdapat 56 bank umum yang masih beroprasi. Dua diantaranya yang menjadi Pengawasan OJK Sumut adalah Bank Mestika Darma dan Bank Sumut. Adapun jaringan ataupun kantor yang tersebar di Sumut sebanyak 5526.
Kemudian terdapat 49 Bank Perkereditan Rakyat (BPR) dan Bank Perkereditan Rakyat Syariah (BPRS) dengan 110 jaringan kantor.
“Tidak hanya bank yang berkantor, tetapi untuk layana dari cabang terdekat, lembaga keuangan juga menyediakan 74.171 layanan agen laku pandai yang beroprasi di tempt-tempat usaha seperti toko klontong atau kedai-kedai. Agen Laku Pandai ini juga kita awasi pelaksanaannya agar bermanfaat bagi masyarakat,” ungkpnya.
Kemudian ada tiga perusahaan permodalan pembiayaan ventura (PMV) dengan 56 entitas dan 285 jaringan kantor. Kemudian ada lembaga keuangan mikro/syariah dengan 2 entitas dan 2 jaringan kantor. Selanjutnya adalah Perusahaan Pegadaian berjumlah 24 dengan 167 jaringan kantor. “Ini jumlah yang legal. Untuk Pegadaian yang ilegal kita akan tertibkan melalui upaya persuasif dengan mendatangi dengan memberikan imbauan untuk mengurus izin oprasi,” terangnya.
Dari sektor Perusahaan Penjaminan, Perasuransian dan Dana Pensiun, terdapat 2 kantor pernjminan dengan 3 jaringan kantor. Kemudian terdapat 91 kantor asuransi dan 311 jringn kantor yang tersebar di Sumut. Selanjutnya 2 entitas Perusahaan Dana Pensiun.
Untuk sektor Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbo (PMDK) dengan 47 perusahaan efek. Kemudian terdapat 171 cabang Agen Penjual Efek Reksa Dana (EPERD).
Untuk kinerja Bank Umum di Sumut tumbuh dengan total aset mencapai Rp371,1 triliun pada Juli 2026. DPK juga mengalami peningkatan menjadi Rp345,6 triliun, tumbuh 4,29% YoY. “Perbankan di Sumut masih berkembang, meskipun tidak terlalu agresif,” jelasnya.
Akan tetapi, untuk kredit UMKM Bank Umum di Sumut sedikit menurun dari Rp81,9 triliun pada Juli 2025 menjadi Rp80,4 triliun pada Juli 2026, atau turun 1,77% YoY. Artinya, penyaluran kredit ke segmen UMKM belum tumbuh seperti segmen lainnya dan masih perlu didorong lebih kuat.
Untuk piutang pembiayaan Perusahaan Pembiayaan di Sumut meningkat menjadi Rp24,1 triliun, tumbuh 5,92% YoY. Kenaikan ini menunjukkan pembiayaan masih bergerak naik dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, NPF naik menjadi 2,90% atau meningkat 33 bps YoY, sehingga kualitas pembiayaan tetap perlu dijaga seiring pertumbuhan penyaluran.
Sedangkan Pergadaian swasta Sumut tumbuh positif, dengan realisasi pinjaman naik menjadi Rp385,7 miliar dan aset meningkat menjadi Rp182,4 miliar. Kinerja ini menunjukkan aktivitas pembiayaan gadai masih bergerak naik.
Sementara itu, lanjut Triyoga, kinerja asuransi jiwa Sumut juga meningkat, dengan premi naik menjadi Rp6.165,7 miliar atau tumbuh 56,7% YoY. Di saat yang sama, klaim juga naik menjadi Rp4.592,8 miliar atau tumbuh 75,31% YoY, sehingga peningkatan klaim tetap perlu dicermati seiring pertumbuhan premi.
“Untuk asuransi umum menunjukkan tekanan, karena premi naik tipis 2,25% menjadi Rp937,4 miliar, sementara klaim naik tajam 56,21% menjadi Rp694,1 miliar,” papar Triyoga.











