Jakarta, ArmadaBerita.Com – Inflasi Indonesia meningkat, tetapi mesin kredit perbankan justru terus bergerak. Bank Indonesia mencatat inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Agustus 2026 mencapai 3,19% secara tahunan, sementara kredit perbankan tumbuh 13,36% secara tahunan.
Data tersebut disampaikan Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti dalam agenda Pengumuman Hasil RDG BI Bulanan September 2026 di Jakarta yang disiarkan secara langsung melalui kanal resmi BI, Rabu (23/9).
“Inflasi IHK Agustus 2026 tercatat 3,19% year on year, lebih tinggi dibandingkan realisasi bulan sebelumnya sebesar 2,88% year on year,” papar Gubernur BI, Destry Damayanti.
Menurut Destry, kenaikan terutama dipengaruhi kelompok volatile food yang mencapai 4,06%, terutama akibat kenaikan harga daging ayam ras, cabai rawit, dan beras.
Namun, inflasi inti masih terkendali di level 2,92% yoy, sedangkan inflasi kelompok administered prices turun menjadi 3,32% yoy.
BI tetap mempertahankan sasaran inflasi 2,5% ± 1% pada 2026 dan 2027. “Ke depan Bank Indonesia terus memperkuat respons bauran kebijakan moneter termasuk stabilisasi nilai tukar Rupiah agar inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2,5 ± 1% pada 2026 dan 2027,” jelasnya.
Pengendalian inflasi pangan juga diperkuat melalui koordinasi BI dengan pemerintah dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), termasuk menghadapi potensi gangguan cuaca terhadap pasokan pangan.
Di sisi lain, intermediasi perbankan menunjukkan perkembangan positif.
Kredit perbankan pada Agustus 2026 tumbuh 13,36% yoy, ditopang kredit investasi yang melesat 25,11%. Kredit modal kerja tumbuh 11,45%, sementara kredit konsumsi tumbuh 5,07%.
Destry mengatakan perkembangan intermediasi tersebut didukung kebijakan makroprudensial yang akomodatif.
“Perkembangan positif intermediasi perbankan didukung oleh kebijakan makroprudensial longgar yang terus ditempuh oleh Bank Indonesia melalui optimalisasi kebijakan insentif likuiditas makroprudensial,” ungkapnya.
Hingga minggu pertama September 2026, insentif likuiditas makroprudensial yang telah diperoleh perbankan mencapai Rp461,2 triliun, terdiri atas Rp338,2 triliun untuk KLM financing channel dan Rp123 triliun untuk KLM pendalaman pasar uang. Pertumbuhan dana pihak ketiga juga mencapai 10,94%.
Sementara itu, ketahanan perbankan tetap terjaga. CAR pada Juli 2026 tercatat 23,84%, NPL bruto 2,1%, NPL neto 0,81%, sedangkan rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga pada Agustus berada di level 23,04%.
“Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan kebijakan makroprudensial yang akomodatif untuk mendorong pertumbuhan kredit atau pembiayaan dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan,” tegasnya.
BI memperkirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 tetap berada dalam kisaran 8%–12%.











