Melalui Panggung Boneka, Masyarakat Diajak Pahami Dampak Negatif Praktik Kawin Anak

Tim mahasiswa Ukrida berfoto dengan anak-anak Kampung Limo, Tangerang.
Share

TANGERANG, ARMADA BERITA – Praktik kawin anak menjadi sorotan serius di masyarakat, dan Kota Tangerang berinisiatif menggunakan metode inovatif untuk mengatasi dampak negatifnya. Sebagai upaya edukasi, panggung boneka dianggap sebagai langkah kreatif untuk menyampaikan pesan-pesan edukatif, terutama kepada generasi muda, mengenai risiko praktik kawin anak.

Menurut survei UNICEF 2023, Indonesia menempati peringkat empat dalam perkawinan anak global, dengan 25,53 juta kasus. Faktor-faktor seperti tekanan sosial, ketidaksetaraan gender, kemiskinan, kurangnya pendidikan, dan norma budaya mendukung praktik kawin anak.

Praktik kawin anak membawa dampak serius pada individu dan masyarakat. Pengantin muda menghadapi hambatan perkembangan fisik dan psikologis, serta risiko kesehatan reproduksi yang tinggi. Praktik kawin anak juga merugikan pendidikan, ekonomi, dan meningkatkan risiko perceraian, mengakibatkan perpetuasi siklus kemiskinan dan beban tanggung jawab keluarga yang berat.

Sebagai mahasiswa dari Universitas Kristen Krida Wacana, kami merespons tantangan ini dengan melakukan edukasi di Kampung Limo, Kota Tangerang, menggunakan panggung boneka. Program ini bertujuan memberikan pemahaman kepada anak-anak tentang dampak negatif praktik kawin anak, membantu mereka membuat keputusan yang tepat untuk masa depan mereka.

Dweajulian Yunipratama, dkk sedang mengedukasi anak-anak tentang bahaya praktik kawin anak dengan metode panggung boneka

Kami berharap kegiatan ini membangun kesadaran anak-anak tentang pentingnya kesiapan sebelum menikah, termasuk persiapan mental, fisik, dan finansial. Edukasi ini juga mengajak anak-anak untuk menyelesaikan pendidikan mereka terlebih dahulu sebelum memasuki fase praktik kawin anak.

Hasil dari kegiatan edukasi menggunakan panggung boneka terbukti efektif dalam menyampaikan isu-isu penting kepada masyarakat. Media menarik seperti boneka menciptakan pengaruh positif, mencegah praktik kawin anak, dan menjadi pintu masuk untuk diskusi dan pemahaman bersama.

Studi dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta menunjukkan bahwa metode cerita boneka efektif dalam pendidikan seksual anak prasekolah. Penggunaan panggung boneka juga dinilai efektif dalam meningkatkan kemampuan bercerita dan dapat menarik minat anak-anak.

Meskipun belum ada penelitian khusus tentang edukasi praktik kawin anak dengan metode panggung boneka di Kota Tangerang, namun berdasarkan penelitian terkait, metode ini memiliki potensi besar dalam memberikan pemahaman yang lebih baik kepada remaja mengenai praktik kawin anak.

Pendekatan inovatif seperti ini diharapkan dapat menjadi salah satu solusi dalam menanggulangi praktik kawin anak di masyarakat, membawa manfaat luas dalam pendidikan dan advokasi masyarakat. (*)

 

 

Artikel ini ditulis oleh Dweajulian Yunipratama, dkk, Tim Mahasiswa Prodi Psikologi, Akuntansi, dan Teknik Industri dari Universitas Kristen Krida Wacana. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *