Batu Bara, ArmadaBerita.Com – PT Prima Multi Terminal (PMT) memperkuat budaya keselamatan kerja di tengah meningkatnya aktivitas bongkar muat di Terminal 2 Kuala Tanjung. Melalui kegiatan Safety Stand Down, perusahaan kembali mengingatkan seluruh pekerja, mitra kerja, hingga pengguna jasa agar disiplin menjalankan prosedur keselamatan di kawasan pelabuhan yang memiliki tingkat risiko operasional tinggi.
Peningkatan mobilitas truk, alat berat, dan pekerja di area terminal dinilai membuat aspek keselamatan tidak lagi sekadar menjadi kewajiban administratif, melainkan fondasi utama untuk menjaga kelancaran operasional sekaligus melindungi seluruh insan pelabuhan.
Dalam kegiatan tersebut, PMT kembali menyosialisasikan panduan keselamatan di sekitar kendaraan operasional, terutama truk kontainer dan truk curah kering yang setiap hari beroperasi di lingkungan terminal. Sosialisasi difokuskan pada pemahaman mengenai zona aman, zona bahaya, titik buta (blind spot), hingga jarak aman saat beraktivitas di sekitar kendaraan.
Perusahaan mengingatkan pekerja untuk menjaga jarak minimal 15 meter dari seluruh sisi truk kontainer. Sementara itu, untuk truk curah kering, pekerja diminta menjaga jarak sedikitnya 20 meter guna meminimalkan risiko kecelakaan.
Tak hanya itu, pekerja juga dibekali pemahaman mengenai bahaya berada di belakang kendaraan akibat keterbatasan pandangan pengemudi, pentingnya melakukan kontak mata dengan sopir sebelum melintas, penggunaan alat pelindung diri (APD) secara lengkap, serta pemanfaatan barikade ketika pekerjaan membutuhkan pengamanan tambahan.
PMT juga mengingatkan seluruh personel agar selalu waspada terhadap berbagai potensi bahaya selama proses bongkar muat, mulai dari tumpahan material curah, pergerakan alat berat, hingga tingginya lalu lintas kendaraan operasional di kawasan terminal. Dengan mengenali potensi risiko sejak awal, pekerja diharapkan mampu melakukan langkah pencegahan sebelum insiden terjadi.
Direktur Operasi dan Teknik PT Prima Multi Terminal, Wahyudi, menegaskan bahwa keselamatan kerja merupakan fondasi utama dalam operasional kepelabuhanan.
“Keselamatan harus menjadi budaya yang diterapkan oleh setiap orang yang bekerja di lingkungan pelabuhan. Kepatuhan terhadap prosedur bukan sekadar memenuhi aturan, tetapi merupakan bentuk perlindungan terhadap diri sendiri, rekan kerja, dan keberlangsungan operasional. Karena itu, kami terus mengingatkan seluruh personel untuk mengenali potensi bahaya dan tidak mengabaikan setiap prosedur keselamatan yang telah ditetapkan,” ujar Wahyudi, Senin (29/6/2026).
Menurutnya, karakteristik operasional terminal berbeda dengan kawasan industri pada umumnya. Aktivitas bongkar muat berlangsung dinamis dengan pergerakan alat berat, kendaraan logistik, dan pekerja yang hampir tanpa henti sehingga setiap personel dituntut memiliki tingkat kewaspadaan tinggi untuk menekan risiko kecelakaan.
Wahyudi menambahkan, Safety Stand Down bukan hanya menjadi forum penyampaian materi keselamatan, tetapi juga sarana memperkuat komunikasi, koordinasi, dan kepedulian antarsesama pekerja.
“Setiap insiden pada dasarnya dapat dicegah apabila seluruh pihak disiplin menjalankan prosedur dan saling mengingatkan. Kami ingin membangun budaya bahwa keselamatan merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya menjadi tugas unit K3 atau pengawas lapangan,” katanya.
Secara berkelanjutan, PMT menjalankan berbagai program penguatan budaya keselamatan, mulai dari inspeksi lapangan, identifikasi potensi bahaya, evaluasi risiko pekerjaan, standardisasi peralatan operasional, hingga peningkatan kompetensi pekerja melalui pelatihan dan sosialisasi. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh aktivitas operasional berjalan sesuai prinsip Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
Perusahaan juga terus mendorong penerapan budaya safety first di setiap tahapan operasional. Melalui pendekatan tersebut, setiap pekerja didorong berani menghentikan pekerjaan apabila menemukan kondisi yang berpotensi membahayakan, sekaligus segera melaporkan potensi risiko agar dapat ditindaklanjuti.
Sebagai operator terminal peti kemas dan multipurpose di Pelabuhan Belawan dan Kuala Tanjung, PMT menilai penerapan standar keselamatan yang konsisten menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keandalan layanan kepelabuhanan. Selain mendukung kelancaran operasional, budaya keselamatan juga berperan meningkatkan kepercayaan pengguna jasa sekaligus mendukung terciptanya rantai logistik yang aman, efisien, dan berkelanjutan.
Melalui pelaksanaan Safety Stand Down di Terminal 2 Kuala Tanjung, PMT berharap budaya keselamatan semakin melekat dalam setiap aktivitas operasional sehingga target zero accident dapat terus dipertahankan. (*)











