Besitang, Armadaberita.com — Sebelas hari setelah banjir bandang menerjang Besitang, kehidupan perlahan kembali bergerak. Suara sapu dan ember terdengar di halaman rumah, tanda warga mulai membersihkan sisa lumpur yang menutupi rumah dan halaman mereka. Meski sebagian rumah rusak parah, semangat warga untuk kembali beraktivitas terlihat jelas.
Banjir yang datang dengan arus kuning pekat itu sempat melumpuhkan seluruh aktivitas. Banyak keluarga terpaksa mengungsi ke dataran tinggi atau masjid-masjid sekitar demi keselamatan. Dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan pun cukup besar. Menurut data sementara dari Rastra Yudha, hingga Sabtu (5/12/2025), enam orang meninggal, 135 rumah hanyut, 35 rumah terkena longsor, 582 rumah rusak berat, 672 rusak sedang, dan 547 rusak ringan. Total warga terdampak mencapai 5.880 keluarga atau hampir 10 ribu jiwa.
Di Lingkungan 5, Kelurahan Kampung Lama, kerusakan paling parah terjadi pada rumah Bu Ida dan Wak Nati yang rata dengan tanah. Saat ini, mereka tinggal sementara di rumah keluarga di Bukit Kubu. Setiap pagi, keduanya kembali ke lokasi rumah untuk membersihkan lumpur sebelum sore hari kembali ke tempat pengungsian.
Sejak sore, halaman Masjid Raya Besitang dipenuhi warga untuk menerima bantuan. Antrean panjang mencerminkan kebutuhan yang besar. Relawan dan petugas keamanan sibuk memastikan pembagian bantuan tetap tertib. Bahan pokok dan kebutuhan sehari-hari menjadi prioritas, mengingat banyak rumah dan perabotan yang rusak.
Hadirnya bantuan membuat warga merasa sedikit lega. Anak-anak, orang dewasa, hingga lansia ikut merasakan manfaatnya. Suasana di masjid tidak hanya tentang antrean, tetapi juga tentang harapan. Bagi warga Besitang, setiap bantuan yang tiba adalah dorongan agar proses pemulihan bisa lebih cepat dan kehidupan bisa kembali normal.
(Rajali)











