Riau, Armada Berita – Ketika kita berbicara tentang pendidikan, mata pelajaran seperti matematika, sains, dan bahasa sering mendominasi perbincangan. Namun, dalam keriuhan kurikulum sekolah, satu pelajaran yang seharusnya menjadi fokus utama sering terlupakan: bagaimana cara menyelamatkan bumi. Inilah dimana peran penting guru muncul, menjadi pelopor dalam menanamkan kesadaran akan pengelolaan sampah elektronik (e-waste) yang merupakan ancaman nyata bagi lingkungan dan kesehatan manusia.
Sampah elektronik mencakup segala jenis perangkat elektronik yang rusak atau tidak dapat digunakan lagi, dan diakui sebagai zat berbahaya dan beracun sesuai peraturan pemerintah. Mengapa kita seharusnya peduli?
Pendiri Bank Sampah Mengajar, Berto Sitompul, memperingatkan bahwa e-waste mengandung komponen berbahaya seperti timbal (Pb), merkuri (Hg), kadmium (Cd), karbon (C), dan bahan penahan api (flame retardants). Saat e-waste dibuang secara sembarangan, zat-zat beracun ini merusak lingkungan dan membahayakan kesehatan manusia.
Berto, yang juga seorang pelopor dalam edukasi sampah elektronik di Sumatera, menegaskan bahwa penting bagi kita untuk menyadari bahwa banyak murid dan guru yang belum memahami betapa berbahayanya sampah elektronik ini. Mereka masih sering mengabaikan kenyataan bahwa limbah elektronik adalah ancaman serius bagi lingkungan dan kesehatan manusia.
“Bahkan saat ini, masih ada banyak dari kita, termasuk murid dan guru, yang belum sepenuhnya memahami bahaya ini. Banyak di antara mereka yang membuang baterai bekas, lampu bekas, tinta cartridges bekas, dan sampah elektronik lainnya ke dalam tong sampah yang sama dengan sisa makanan atau plastik. Itulah sebabnya, pendidikan mengenai pengelolaan e-waste sangat penting,” paparnya.
Berto, dengan semangat yang membara, menjelaskan, “Limbah elektronik ini mengandung zat beracun yang mampu mencemari lingkungan di sekitarnya. Logam berat seperti timbal, merkuri, kadmium, dan bahan penahan api adalah komponen berbahaya yang ada dalam e-waste. Tanpa penanganan yang benar, dampaknya bisa sangat merusak.”
Selain itu, Berto menyoroti kontribusi e-waste terhadap krisis iklim. “Sampah elektronik juga turut memainkan peran dalam perubahan iklim. Setiap perangkat elektronik yang diproduksi memiliki jejak karbon yang ikut andil dalam pemanasan global. Bahkan, produksi satu ton laptop saja memiliki potensi untuk menghasilkan 10 ton karbon dioksida, yang menjadi salah satu penyebab utama pemanasan global.”
Berto menekankan bahwa guru memiliki peran utama dalam memberikan pemahaman mendalam tentang isu ini kepada murid-murid. Mereka dapat memanfaatkan berbagai sumber daya, termasuk program edukasi dan webinar, untuk menjelaskan betapa pentingnya mengelola e-waste dengan benar.
“Mengajarkan anak-anak dalam seni mendaur ulang, mengumpulkan, dan memproses e-waste dengan aman adalah investasi dalam masa depan bumi ini. Guru adalah pionir utama dalam membentuk pola pikir dan perilaku anak-anak. Dengan pendidikan yang tepat, mereka mampu membantu mengubah dunia melalui ruang kelas mereka,” tegasnya.
Dengan kesadaran dan pendidikan yang kuat, kita mampu melawan bahaya sampah elektronik. Ini adalah tanggung jawab bersama, dan pendidikan menjadi kuncinya. Berto mempertegas, “Melalui edukasi dan tindakan nyata, kita mampu mengatasi masalah sampah elektronik. Para murid dan guru perlu diajarkan bagaimana mengelola e-waste dengan benar. Menyelamatkan bumi dari dalam ruang kelas adalah tugas bersama kita,” pungkasnya. (Dedy Hutajulu)











