Melatih Jiwa Anak Sejak Dini

Share

Melatih jiwa anak-anak termasuk hal yang amat penting dan perlu. Seorang anak adalah amanah di tangan kedua orang tuanya. Jiwanya yang masih suci bagaikan batu permata yang masih polos, belum diukir dan belum dibentuk.

Karena itu, dengan mudah saja dia menerima segala bentuk rekayasa yang ditunjukkan kepadanya, dan memiliki kecenderungan yang dibiasakan kepadanya. Jika dibiasakan melakukan kebaikan dan menerima pengajaran yang baik, dia akan tumbuh dewasa dalam keadaan yang baik dan bahagia, dalam kehidupannya di dunia maupun diakhirat.

Kedua orang tuanya, gurunya, serta para pendidiknya pun ikut pula menerima pahala yang disediakan baginya.

Namun, jika dibiasakan kepadanya perbuatan yang buruk atau ditelantarkan seperti halnya hewan yang berkeliaran tak menentu, niscaya dia akan sengsara dan binasa. Dosanya akan dipikul juga oleh kedua orang tuanya, walinya, atau siapa saja yang bertanggung jawab atas pendidikannya.

1. Mengajari anak tentang etika makan dan minum
Diantara sifat-sifat pertama yang biasanya menonjol pada diri seorang anak adalah kerakusannya terhadap makanan. Karena itu, hendaklah kepadanya diajarkan tentang etika makan dan minum.

Misalnya, tidak boleh mengambil makanan kecuali dengan tangan kanan nya, seraya mengiringinya dengan ucapan Bismillaahirrahmanirrahim, tidak makan makanan kecuali yang terletak dekat dengannya saja, tidak memulai makan sebelum orang-orang selainnya, tidak memusatkan pandangannya ke arah makanan dan tidak pula ke arah orang yang sedang makan, tidak tergesa-gesa, tidak mengotori pakaian dan tangannya.

Lalu sebaiknya diajarkan kepadanya bahwa makan terlalu banyak adalah suatu perbuatan tidak baik, dan hanya layak bagi hewan-hewan.

2. Mengajari anak tentang etika berpakaian
Ajarkan anak untuk menjauhkan dari anak-anak yang terbiasa hidup dalam kemewahan dan berpakaian yang mahal-mahal. Selain itu juga, ajarkan kepada anak apa itu arti dari aurat dan bagaimana batasan-batasan aurat.

Agar anak bisa membiasakan untuk menutup auratnya sejak kecil, hingga saat dewasa pun ia sudah mengerti apa manfaat dari menutup aurat.

3. Yang boleh dan yang tidak boleh dipelajari seorang anak
Pada waktunya, hendaknya dia dimasukkan ke sekolah untuk belajar membaca dan mengerti alquran, hadis-hadis serta kisah-kisah yang menarik tentang orang-orang saleh agar tertanam kecintaan kepada mereka di hatinya.

Hendaknya dia dijauhkan dari syair-syair yang di dalamnya terdapat ungkapan-ungkapan tentang cinta dan birahi, serta orang-orang yang terlibat dengannya.

4. Memberikan penghargaan kepada anak
Setiap kali seorang anak menunjukkan suatu perilaku yang mulia atau perbuatan yang baik, maka sebaiknya dia memperoleh pujian dan jika perlu diberi hadiah atau insentif dengan sesuatu yang menggembirakannya atau ditujukan pujian kepadanya di depan orang-orang sekitarnya.

5. Membiasakan bersikap Tawadhu
Hendaknya seorang anak dilarang membanggakan sesuatu yang dimiliki kedua orang tuanya di depan Kawan-kawannya. Demikian pula sesuatu yang berkaitan dengan makanannya, pakaiannya, peralatan sekolahnya, ataupun lain-lainnya.

Hal ini dilakukan agar dia terbiasa untuk bertawadhu dan menghormati semua orang yang berhubungan dengannya, serta bersopan santun dalam pembicaraannya dengan mereka.

6. Mematuhi kedua orang tua
Hendaknya diajarkan kepada anak agar selalu taat kepada kedua orang tuanya, gurunya, serta yang bertanggung jawab atas pendidikannya. Ajarkan agar dia menghormati mereka serta siapa saja yang lebih tua darinya.

Baik yang termasuk anggota keluarga ataupun yang bukan. Dan agar dia senantiasa bersikap sopan santun dan tidak bercanda atau bersenda gurau di hadapan mereka.

7. Mengajarinya agar berdisiplin dalam tugas
Apabila telah mencapai usia tamyiz (sekitar usia tujuh tahun), hendaknya tidak dibiarkan meninggalkan thaharah dan sholat. Kemudian ajarkan kepadanya beberapa hukum syariat yang diperlukannya.

Juga, hendaknya ditakut-takuti dari perbuatan mencuri dan makan minuman yang haram, berkhianat, berbohong dan mengucapkan kata-kata keji, serta berbagai kebiasaan buruk yang sering dilakukan anak-anak.

8. Larangan mencaci maki
Hendaknya setiap anak dididik agar tidak mengucapkan kata-kata kotor atau yang sia-sia. Atau melaknat dan mencaci maki. Atau yang bersahabat dengan siapa saja yang berperilaku seperti itu.

Sebab orang-orangseperti itu, pasti menularkan perilakunya yang buruk kepada orang lain yang bersahabat dengan mereka. Adapun dasar utama dalam Pendidikan anak-anak adalah menjauhkan mereka dari teman-teman yang tidak baik akhlaknya.

9. Memberi kesempatan untuk bermain
Apabila telah pulang dari sekolah, hendaknya diizinkan kepada nya untuk bermain-main sekadarnya. Agar dapat beristirahat dari kelelahan setelah belajar.

Tetapi, jangan pula dibiarkan bermain-main secara berlebihan agar tidak merasa lelah setelah itu. Bermain-main bagi seorang anak adalah sesuatu yang penting.

Sebab, melarangnya dari bermain-main seraya memaksanya untuk belajar terus-menerus dapat mematikan hatinya, menggunakan kecerdasannya, dan merusak irama hidupnya. Begitulah, sehingga dia akan berupaya melepaskan diri sama sekali dari kewajibannya untuk belajar.

10. Pelatihan jiwa anak secara bertahap
Apabila pertumbuhan anak sejak dini disertai dengan pembiasaan berbagai adab dan akhlak seperti telah diuraikan di atas, nantinya ketika mendekati usia baligh, dia sudah cukup siap untuk mengetahui tentang rahasia-rahasia yang tersembunyi di balik semua itu.

Misalnya, bahwa makanan itu hanyalah sebagai obat yang dimaksudkan guna memberi kekuatan pada manusia untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah swt. Nah, jika pertumbuhan anak itu sehat maka uraian tersebut itu ketika menginjak usia balignya pasti akan sangat berpengaruh.

Jelaslah bahwa awal mula segalanya itulah yang harus benar-benar diperhatikan. Sebab, seorang anak pada hakikatnya telah tercipta dengan kemampuan untuk menerima kebaikan maupun keburukan. Kedua orang tuanya lah yang membuatnya cenderung ke arah salah satu dari keduanya. Sebagaimana sabda Nabi saw :

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلىَ الفِطْرَةِ وَ إِنَّمَا اَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (bersih dan suci) maka kedua orang tuanyalah yang membuatnya yahudi, nasrani ataupun majusi.

Penulis adalah Mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Sumatera Utara stambuk 2017 yang kini tengah menjalani masa pengabdian masyarakat dalam kelompok KKN 55.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *