NEWS  

Hati-hati! Ketahui Parameter Sebelum Membeli Lensa Kontak

Share

Lensa kontak lunak, atau yang lebih dikenal dengan sebutan softlens, merupakan salah satu aksesori mode yang sering digunakan, baik untuk keperluan kosmetik maupun untuk memperbaiki penglihatan individu yang mengalami gangguan penglihatan jauh atau dekat. Penggunaan softlens memberikan berbagai keuntungan bagi penggunanya, termasuk bidang pandang yang lebih luas dan dapat menggantikan fungsi kacamata.

Softlens juga relatif mudah digunakan dan tidak memerlukan adaptasi yang lama. Namun, jika tidak memahami dengan benar aturan penggunaan, penyimpanan, dan durasi penggunaan softlens, hal ini dapat menyebabkan iritasi pada mata.

Softlens memiliki kandungan air yang tinggi, sehingga rentan terhadap pertumbuhan jamur dan penumpukan deposit. Dampak negatif yang sering terjadi akibat penggunaan softlens adalah infeksi pada kornea, ulkus kornea, keratitis, konjungtivitis, dan mata kering.

Selain itu, maraknya penjualan softlens secara bebas di toko online dan salon kecantikan membuat masyarakat, terutama remaja, cenderung membeli softlens tanpa memeriksakan mata mereka ke optik (optometris).

Banyak remaja yang membeli softlens secara sembarangan hanya karena harganya lebih murah daripada di optikal. Hal ini mengabaikan kualitas softlens serta risiko dan dampak negatif yang mungkin timbul akibat penggunaannya. Sebelum membeli softlens, ada tiga parameter penting yang harus dipahami.

Pertama, parameter diameter softlens. Di Indonesia, umumnya softlens dijual dengan diameter mulai dari 14 mm. Namun, fenomena saat ini menunjukkan bahwa remaja cenderung ingin menggunakan softlens agar mata terlihat lebih besar.

Diameter softlens yang dipilih seharusnya sesuai dengan ukuran horizontal dan vertikal diameter iris mata pengguna, yang dapat ditentukan melalui pelayanan optikal (optometri). Tidak cocoknya diameter softlens dapat membuat softlens terasa longgar atau terlalu ketat saat dipakai, yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan.

Selain itu, parameter kelengkungan softlens juga perlu diperhatikan sebelum membeli softlens. Softlens harus sesuai dengan kelengkungan kornea pengguna. Kelengkungan kornea, yang dikenal sebagai BC (base curve), dapat diukur menggunakan alat keratometri yang tersedia di pelayanan optikal.

Parameter terakhir adalah ukuran softlens itu sendiri. Bagi individu yang mengalami miopia dan biasa menggunakan kacamata, ukuran softlens yang dibutuhkan akan berbeda dengan ukuran kacamatanya, terutama bagi yang memiliki tingkat minus yang tinggi. Konsultasikanlah hal ini dengan optometris di toko optik.

Sebagai mahasiswa optometri dari Universitas Kristen Krida Wacana (Ukrida), kami melakukan sosialisasi dan edukasi di SMA Negeri 7 Binjai, Sumatera Utara, untuk meningkatkan pemahaman siswa/i tentang pentingnya pemeriksaan mata sebelum menggunakan softlens.

Tujuan sosialisasi ini adalah agar siswa/i memahami parameter ukuran, pemilihan jenis bahan, serta perawatan softlens agar mata tetap sehat. Sosialisasi ini disambut dengan baik oleh Kepala Sekolah, Bapak Khaidir S.Pd., dewan guru, dan 40 siswa/i.

Dari 40 siswa/i tersebut, terdapat 12 orang yang menggunakan lensa kontak. Dari 12 siswa/i tersebut, 8 siswi (66%) membeli softlens secara online, sedangkan 4 siswi (34%) membelinya di optik. Hal ini menunjukkan bahwa pembelian softlens secara online lebih umum di kalangan siswi.

Selama sosialisasi, siswa/i terlihat antusias dan aktif dalam mendengarkan dan bertanya mengenai materi yang disampaikan. Menariknya, beberapa siswa/i sudah memiliki pengetahuan tentang lensa kontak, bahkan ada yang menanyakan mengenai lensa kontak keras atau yang lebih dikenal dengan hard lens.

Rata-rata siswa/i tersebut tidak mengetahui bahwa penggunaan softlens harus memperhatikan parameter yang sesuai dengan mata pengguna. Fakta ini membuat mereka terkejut dan lebih tertarik untuk mendapatkan softlens di optik serta berkonsultasi dengan optometris.

Sosialisasi dan edukasi ini berhasil meningkatkan pemahaman siswa/i tentang pentingnya pemeriksaan mata sebelum menggunakan lensa kontak.

Mereka menjadi tahu bahwa pemilihan softlens harus memperhatikan parameter ukuran, pemilihan jenis bahan, serta perawatan yang tepat guna menjaga kesehatan mata. Mereka juga menyadari risiko dan dampak negatif dari pembelian softlens secara sembarangan.

Sebagai mahasiswa optometri, keberhasilan ini memotivasi kami untuk melakukan sosialisasi dan edukasi yang lebih luas mengenai penggunaan lensa kontak kepada masyarakat, terutama remaja. (*)

 

Penulis: Elva Khairia Fahmi, Mahasiswa Optometri RPL A1 2021, Universitas Kristen Krida Wacana (Ukrida)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *