ArmadaBerita.Com
Bank Sentral AS dalam dua pekan terakhir menaikan suku bunga acuan yang berimbas harga emas dunia mengalami pemulihan dari kisaran $1.720 per ons troy, menjadi $1.779 per ons troy saat ini.
“Kebijakan Bank Sentral AS yang menaikkan besaran bunga acuan terakhir sebesar 75 basis poin sempat menghentikan tren penurunan harga emas sebelumnya,” kata Ekonom asal Sumatera Utara (Sumut), Gunawan Benjamin kepada wartawan, Senin (8/8/2022).
Diungkapkan, Gunawan bahwa pelaku pasar menilai kebijakan menaikkan besaran bunga acuan oleh Bank Sentral AS tersebut akan berubah dari yang sebelumnya agresif, menjadi stance kebijakan yang lebih lambat dalam menaikkan besaran bunga acuan. Akan tetapi, belakangan Gubernur Bank Sentral AS menegaskan bahwa langkah kebijakan akan kembali seperti semula, dimana The FED akan menaikkan besaran bunga acuan secara agresif.
Penegasan tersebut diambil setelah data ketenaga-kerjaan di AS mengalami pemulihan bahkan melampaui ekspektasi para ekonom sebelumnya.
“Penambahan jumlah tenaga kerja di AS selama bulan juli sebanyak 528 ribu, atau dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan sebelumnya sebesar 250 ribu di luar sektor pertanian atau non farm payroll (NFP). Sehingga inflasi masih akan naik dan perlu diredam dengan menaikkan besaran bunga acuannya,” ungkapnya.
Pernyataan The FED tersebut, lanjut Gunawan, tentunya akan menghentikan laju penguatan harga emas. “Akan tetapi emas disisi lain bisa diuntungkan dengan meningkatnya tensi geopolitik antara China dan Taiwan. Disaat perang berkecamuk, investor akan mencari aset yang benar benar aman. Dan emas menjadi save haven selain US Dolar,” sebutnya.
Dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, papar Gunawan, harga emas sempat diutungkan dengan pandemi covid 19 yang mewabah yang sempat menggiring emas hingga melewati $2.000 per ons troy. Harga emas sempat menyentuh $2.052 per ons troy sesaat operasi militer Ukraina oleh Rusia terjadi. “Dan emas mengalami tekanan saat pasar sudah melihat gelagat dimana Bank Sentral AS berencana menaikkan besaran bunga acuannya. Nah saat ini semuanya seperti kembali berulang,” paparnya.
Saat ini, China terus melakukan latihan perang setelah kunjungan Ketua DPR AS ke Taiwan. Hal ini, menurut Gunawan, bisa memicu terjadinya perang yang menguntungkan harga emas. “Tetapi sekalipun perang pecah, laju penguatan emas akan dibayangi oleh kebijakan ketat Bank Sentral AS. Sehingga dua isu besar yang mempengaruhi harga emas adalah kebijakan moneter ketat The FED dan Perang itu sendiri,” jelasnya.
Sementara harga emas di tanah air, ini akan banyak dipengaruhi oleh faktor penentu lainnya. Selain kenaikan harga emas global, nilai tukar rupiah serta demand emas di tanah air juga akan mempengaruhi.
“Saat ini Rupiah tengah menguat tajam di kisaran 14.876 per US Dolar. Jadi logam mulia kalau dirupiahkan berkisar 853 ribuan per gram. Kalau konsumen mau membeli di butik harganya tentu di atas 900 ribuan per gram,” tutur Gunawan. (ASN)











