Sinabung Masih Siaga, Pemprov Sumut Perkuat Penanganan 650 Pengungsi dan Siapkan Evakuasi Susulan

Kepala BPBD Sumut Tuahta Ramajaya Saragih (tengah) saat temu pers di Lobby Dekranasda Lantai 1 Kantor Gubernur Sumut Jalan Diponengoro Kota Medan, Jumat (4/9/2026). Foto: Arvin Nst
Share

Medan, ArmadaBerita.Com – Erupsi Gunung Sinabung belum benar-benar menjadi cerita yang selesai. Meski aktivitas visual gunung api di Kabupaten Karo mulai melambat, statusnya masih berada pada Level III atau Siaga. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara pun memperkuat penanganan di lapangan, memastikan keselamatan warga sekaligus mengantisipasi kemungkinan erupsi susulan.

Langkah tersebut dilakukan Pemprov Sumut melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut dengan mendampingi Pemerintah Kabupaten Karo menangani warga terdampak. Fokus utama kini tidak hanya memindahkan warga dari kawasan berbahaya, tetapi juga memastikan kebutuhan pengungsi terpenuhi selama mereka belum diperbolehkan kembali ke rumah.

Kepala BPBD Sumut Tuahta Ramajaya Saragih mengatakan, berdasarkan koordinasi terakhir, sekitar 201 kepala keluarga atau 650 jiwa warga Desa Kuta Tengah kini mengungsi di wilayah Desa Suka Tepu dan Koperasi Desa Kelurahan/PUD. Sementara warga dari kawasan zona merah dengan radius hingga enam kilometer telah dievakuasi menuju lokasi yang dinilai lebih aman.

Kondisi tersebut merupakan perkembangan lanjutan setelah pemerintah sebelumnya mempercepat evakuasi menyusul kenaikan status Sinabung dari Level II Waspada menjadi Level III Siaga pada 31 Agustus 2026. Saat itu, aktivitas vulkanik menunjukkan peningkatan dan masyarakat di sejumlah kawasan rawan diminta meninggalkan wilayah berbahaya.

“Sejak awal peningkatan aktivitas, personel BPBD Sumut sudah turun ke lokasi untuk mendistribusikan masker, mendirikan tenda pengungsian, serta menyiagakan truk evakuasi, mobil tangki air bersih, dan armada toilet,” kata Tuahta dalam konferensi pers di Lobby Dekranasda Kantor Gubernur Sumut, Medan, Jumat (4/9/2026).

BPBD Sumut mencatat sebanyak 630 masker telah dibagikan pada tahap awal. Dari tujuh tenda pengungsian yang disiapkan, lima di antaranya telah didirikan. Dukungan evakuasi juga diperkuat dengan dua unit truk, satu mobil tangki air bersih dan satu armada toilet untuk menunjang kebutuhan warga di titik pengungsian.

Ancaman kesehatan turut menjadi perhatian. Paparan abu vulkanik berpotensi mengganggu saluran pernapasan, sehingga BPBD Sumut berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Sumut dan Dinas Kesehatan Kabupaten Karo untuk menyiagakan posko kesehatan, pendampingan stunting serta armada pengawalan medis.

Pasokan masker tambahan juga terus dikirim ke Posko Utama berdasarkan kebutuhan di lapangan. Pemerintah tidak ingin penanganan bencana hanya berhenti pada evakuasi, tetapi juga memastikan warga tetap mendapatkan perlindungan kesehatan selama berada di pengungsian.

Di sisi lain, persoalan rumah, lahan pertanian dan ternak membuat sebagian warga masih kembali ke desa pada siang hari. Kondisi ini menjadi perhatian aparat karena sejumlah kawasan yang ditinggalkan masih berada dalam wilayah yang harus diwaspadai.

Untuk mengantisipasinya, TNI dan Polri melalui Polres serta Kodim Karo memberikan pengamanan di desa-desa yang ditinggalkan warga. Pengamanan dilakukan agar masyarakat merasa lebih tenang dan tidak terdorong mengambil risiko dengan terlalu lama berada di kawasan terdampak.

“Kami tidak bisa memaksakan secara keras, tetapi personel BPBD dan TNI/Polri terus mengikutsertakan pendampingan dan kesiapsiagaan mobilisasi jika terjadi erupsi susulan tiba-tiba,” tegas Tuahta.

Kewaspadaan pemerintah menjadi penting karena sebelumnya Badan Geologi melalui PVMBG mencatat adanya peningkatan aktivitas Sinabung, termasuk indikasi magma bergerak menuju permukaan dan potensi memengaruhi kubah lava lama. Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar pemerintah mempercepat langkah mitigasi dan evakuasi.

Meski pengamatan visual pada Jumat siang menunjukkan hembusan asap Sinabung lebih tipis dibandingkan fase awal erupsi, BPBD Sumut mengingatkan masyarakat agar tidak terkecoh oleh perubahan visual gunung. Penentuan tingkat bahaya bukan berdasarkan apakah asap terlihat tebal atau tipis, melainkan berdasarkan evaluasi teknis dan rekomendasi resmi PVMBG.

Pemprov Sumut karena itu meminta masyarakat, terutama yang berada di kawasan rawan, tetap memprioritaskan keselamatan jiwa, tidak memasuki zona yang dilarang dan mengikuti setiap arahan petugas. Pemerintah menegaskan penanganan akan terus berjalan hingga kondisi Sinabung dinyatakan cukup aman berdasarkan evaluasi resmi, bukan semata-mata karena aktivitas gunung terlihat mereda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *