Karo, ArmadaBerita.Com – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menyiapkan jaringan jalan alternatif sepanjang sekitar 28 kilometer untuk memecah kepadatan lalu lintas menuju kawasan wisata Berastagi. Jalur ini nantinya diprioritaskan bagi kendaraan wisata, sementara arus logistik tetap diarahkan melalui jalur utama Jalan Jamin Ginting.
Gubernur Sumut Muhammad Bobby Afif Nasution mengatakan skema tersebut menjadi langkah cepat pemerintah untuk mengatasi kemacetan sembari menunggu kepastian pembangunan Tol Medan–Berastagi.
Menurut Bobby, pembangunan jalan tol tetap didorong agar masuk dalam blueprint perencanaan nasional di Bappenas. Namun, karena membutuhkan waktu panjang, Pemprov Sumut memilih mengintervensi sejumlah ruas jalan existing di wilayah Deli Serdang dan Karo.
“Target maksimal pengerjaan intervensi fisik ini mulai berjalan pada 2027 hingga selesai pada 2028–2029,” ujar Bobby saat menerima audiensi Ikatan Cendekiawan Karo (ICK) di Mikie Holiday Resort and Hotel, Karo, Rabu (2/9/2026).
Jaringan alternatif tersebut akan mengubah pola perjalanan wisatawan menuju Berastagi. Dari kawasan Hairos/Simpang Poci di Jalan Jamin Ginting, kendaraan wisata akan diarahkan ke jalur alternatif menuju Namorambe dan Sembahe.
Ruas Medan–Namorambe–Sembahe sepanjang sekitar 18 kilometer akan dilebarkan dari kondisi sekitar 4 meter menjadi 6–8 meter. Pemprov Sumut juga merencanakan perubahan status ruas tersebut menjadi Jalan Provinsi.
Di kawasan Sembahe, pemerintah menyiapkan jalan baru sepanjang 330 meter dan overpass sepanjang 82 meter menuju Tandu Benua. Infrastruktur ini ditujukan untuk memangkas tanjakan sekaligus mengurangi hambatan perjalanan.
Pemerintah juga merancang rest area berskala besar di kawasan Suka Nalu pada rute sepanjang 14 kilometer menuju SMK Negeri Murni. Fasilitas tersebut akan dikembangkan dengan konsep terbuka sebagai titik persinggahan wisatawan.
Jaringan itu diperkuat dengan rencana pembangunan trase baru sepanjang 3,8 kilometer dari Sibiru-biru menuju kawasan Pertamina/Simpang Ketaren. Total intervensi jalan penunjang dari Medan hingga kawasan tersebut diperkirakan mencapai 28 kilometer.
Selain jalan, Pemprov Sumut akan membenahi kawasan wisata Berastagi, khususnya Tahura Berastagi dan Tugu Perjuangan. Fokusnya bukan pembangunan hotel atau pusat perbelanjaan, melainkan penerangan, drainase, pedestrian dan ruang publik.
Bobby berharap penataan tersebut tidak hanya memperlancar mobilitas, tetapi juga menciptakan efek ekonomi bagi masyarakat lokal melalui peningkatan aktivitas wisata.
“Kami ingin intervensi kawasan ini memberikan dampak ekonomi (positive spillover) bagi masyarakat lokal, mirip seperti yang kami lakukan saat meremajakan kawasan Kota Lama Medan,” katanya.
Rencana tersebut telah diselaraskan dengan RPJMD Sumut dalam pengembangan kawasan wisata pegunungan yang mencakup Karo, Dairi dan Pakpak Bharat.
Perwakilan ICK Prof Sukarya Sinulingga menilai jalur alternatif berpotensi mengurai sedikitnya tiga hingga empat titik kemacetan parah yang selama ini menghambat mobilitas masyarakat serta distribusi logistik Karo–Medan.
“Dengan kabar ini, atas nama masyarakat Karo kami sangat gembira. Tentunya kami akan terus mendukung pembangunan ini,” sebut Sukarya.
Dinas BMBK-CK Sumut selanjutnya akan mematangkan desain teknis dan skema penganggaran dengan mempertimbangkan masukan tokoh serta akademisi Karo. Pengerjaan fisik ditargetkan mulai 2027 dan dilakukan bertahap hingga 2028–2029, sementara proyek Tol Medan–Berastagi tetap diperjuangkan sebagai solusi konektivitas jangka panjang.











