Medan, ArmadaBerita.Com – Di tengah beragam produk unggulan yang dipamerkan pada Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) 2026, kehadiran minyak sawit merah (red palm oil) menjadi salah satu perhatian pengunjung. Produk yang dipromosikan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Ketapang) Provinsi Sumatera Utara itu diperkenalkan sebagai pangan fungsional yang kaya nutrisi dan berpotensi mendukung peningkatan gizi masyarakat.
Minyak sawit merah yang dipasarkan merupakan hasil produksi Pabrik Tanjung Garbus, Kabupaten Deliserdang. Berbeda dengan minyak goreng sawit pada umumnya, produk ini diproses secara minimal tanpa melalui tahap pemutihan (bleaching), sehingga warna merah alaminya tetap terjaga bersama kandungan beta-karoten dan vitamin E yang tinggi.
Petugas stand Dinas Pertanian dan Ketapang Sumut, Ayu, mengatakan minyak sawit merah dipasarkan seharga Rp25 ribu per liter selama penyelenggaraan PRSU. Selain penjualan langsung di arena pameran, produk tersebut juga mulai dipasarkan secara terbatas melalui platform e-commerce, sementara pembelian dalam jumlah besar dapat dilakukan melalui pihak pengelola.
Menurutnya, masyarakat mulai menunjukkan ketertarikan terhadap minyak sawit merah seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya konsumsi pangan bergizi.
Dinas Pertanian dan Ketapang Sumut menjelaskan, minyak sawit merah mengandung beta-karoten sebagai pro-vitamin A serta vitamin E dalam bentuk tokoferol dan tokotrienol yang berperan sebagai antioksidan alami. Kandungan tersebut diyakini bermanfaat untuk membantu menjaga kesehatan jantung, mendukung fungsi otak, menjaga kesehatan mata, hingga menunjang pemenuhan gizi anak sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting.
Untuk mempertahankan kandungan gizinya, minyak sawit merah dianjurkan tidak digunakan untuk menggoreng pada suhu tinggi. Produk ini lebih sesuai digunakan untuk menumis ringan, dicampurkan ke makanan hangat, atau sebagai pelengkap berbagai hidangan.
Melalui partisipasi pada PRSU 2026, Dinas Pertanian dan Ketapang Sumut tidak hanya menampilkan berbagai komoditas pertanian, bibit, dan pupuk, tetapi juga memperkenalkan inovasi produk turunan kelapa sawit yang memiliki nilai tambah dan manfaat kesehatan. Langkah ini diharapkan dapat memperluas pemahaman masyarakat bahwa sawit tidak hanya menjadi komoditas ekspor, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai sumber pangan bergizi bagi masyarakat Indonesia.*











