Profesor ITS Ciptakan Revolusi Ramah Lingkungan: Fluida Superkritis sebagai Bahan Baku Obat

Prof Dr Eng Siti Machmudah ST MEng mengembangkan teknologi fluida superkritis sebagai bahan baku obat dengan pengolahan tanaman herbal.
Share

Surabaya, Armadaberita.com – Profesor ke-178 dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Dr. Eng Siti Machmudah ST MEng, menggebrak dunia ilmu pengetahuan dengan mengembangkan teknologi fluida superkritis sebagai bahan baku obat. Dalam orasinya, Prof. Siti Machmudah menyoroti kemandirian Indonesia dalam bahan baku obat yang masih didominasi oleh produk impor.

Machmudah menekankan, inovasinya tidak hanya bertujuan mengatasi ketergantungan pada produk impor, tetapi juga untuk menjawab tantangan lingkungan. “Penggunaan teknologi fluida superkritis tidak hanya menciptakan kemandirian bahan baku obat di Indonesia, tetapi juga menjadi solusi ramah lingkungan,” ungkapnya di Surabaya, Rabu (29/11/2023).

Fluida superkritis, seperti karbon dioksida (CO2) superkritis dan air subkritis, digunakan sebagai pelarut dalam ekstraksi bahan baku obat dari tanaman herbal. Pilihan senyawa ini bukan hanya karena efektivitasnya, tetapi juga karena ramah lingkungan. Machmudah menegaskan, CO2 superkritis dapat menggantikan pelarut organik, menghasilkan produk tanpa mencemari lingkungan.

Dalam penelitiannya, CO2 superkritis digunakan untuk mengekstrak bahan baku obat antikanker dari tanaman herbal, seperti amigdalin dari biji buah loquat. “CO2 superkritis juga meningkatkan kemampuan penghantaran obat dalam tubuh, memberikan keunggulan dalam pengembangan obat,” tambahnya.

Prof. Siti Machmudah tidak hanya terpaku pada pengembangan bahan baku obat. Ia juga mengusulkan penggunaan teknologi CO2 superkritis untuk produksi minyak atsiri. Minyak atsiri yang dihasilkan dari tanaman herbal melalui ekstraksi dengan CO2 superkritis memiliki keunggulan tidak mengubah bau, warna, dan sifat fisik lainnya.

Alumni program doktoral Kumamoto University, Jepang, ini berharap inovasinya dapat diterapkan tidak hanya dalam industri farmasi, tetapi juga merambah ke industri makanan dan kosmetik. Dengan kerja sama bersama industri farmasi, Prof. Siti Machmudah berambisi untuk meluaskan dampak positif teknologinya dalam sektor-sektor lain.

 

Reporter: Dedy Hutajulu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *