UPER Satukan Akademisi dan Industri, Kupas Strategi Kota Rendah Emisi

Tenny Elfirda, Direktur Pengembangan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina Patra Niaga, menyampaikan pandangannya mengenai pengembangan bisnis hijau PT Pertamina dan roadmaps bisnis. (Ist)
Share

Jakarta, ArmadaBerita.Com – Transisi menuju kota hijau dinilai tak lagi cukup hanya berbicara soal penggantian bahan bakar fosil. Di tengah tingginya emisi karbon dari sektor transportasi, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan industri dinilai menjadi kunci mempercepat lahirnya ekosistem perkotaan rendah emisi di Indonesia.

Isu tersebut mengemuka dalam forum Studium Generale Sustainability bertajuk Global Insights for Local Action: Bridging Academia and Industry in Energy Transition yang digelar Universitas Pertamina pada 21 Mei 2026.

Berdasarkan data Katadata 2024, sektor transportasi menyumbang sekitar 150 juta ton emisi CO₂ nasional. Sebanyak 73% di antaranya berasal dari 166 juta unit kendaraan bermotor yang beroperasi di Indonesia. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi target Net Zero Emission (NZE) 2060.

Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero), Agung Wicaksono, mengatakan transisi energi harus menyentuh pola mobilitas masyarakat secara menyeluruh.

“Untuk mewujudkan NZE 2060, Pertamina proaktif membangun ekosistem kota cerdas melalui diversifikasi energi hijau dan transportasi terintegrasi, seperti pengembangan biodiesel B50 hingga infrastruktur kendaraan listrik,” ujar Agung.

Ia menambahkan, langkah tersebut sejalan dengan arah kebijakan pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto yang menempatkan kedaulatan energi sebagai prioritas nasional.

Forum yang dihadiri sekitar 200 peserta lintas sektor itu juga menghadirkan Profesor dari USC Sol Price School of Public Policy sekaligus Direktur METRANS Transportation Consortium, Marlon Boarnet.

Dalam paparannya, Boarnet menekankan pentingnya desain kota yang terintegrasi dengan transportasi publik untuk menekan emisi kendaraan pribadi.

“Kota hijau berawal dari tata ruang yang memprioritaskan integrasi transportasi publik. Riset saya menunjukkan masyarakat di radius seperempat mil dari stasiun kereta menggunakan kendaraan pribadi sekitar 35% lebih sedikit,” jelasnya.

Dari sisi industri, Direktur Transformation, Digitalization, dan Sustainability PT Pertamina Patra Niaga, Tenny Elfrida, mengungkapkan transformasi bisnis perusahaan kini diarahkan untuk menopang ekosistem transportasi berkelanjutan.

Menurut Tenny, Pertamina saat ini mencatatkan kontribusi 24% dari total transaksi energi SPKLU nasional melalui 68 stasiun pengisian kendaraan listrik umum, 98 roaming charging station, dan 101 stasiun penukaran baterai.

Selain itu, perusahaan juga memperluas penggunaan energi rendah karbon melalui Biosolar B35, Pertamax Green 95 berbasis 5% bioetanol, hingga pembangunan pabrik bioetanol terintegrasi di Glenmore, Banyuwangi.

Transformasi energi, lanjutnya, turut menyasar sektor transportasi laut dan udara melalui penggunaan dual fuel, green ammonia, panel surya di kapal, serta pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) J2.4 berbasis minyak jelantah.

Sementara itu, Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Djoko Triyono, menilai sinergi antara kampus dan industri penting untuk menciptakan solusi transisi energi yang aplikatif.

Menurutnya, kampus tidak hanya berfokus mencetak lulusan dengan kemampuan hijau (green skills), tetapi juga memperkuat riset-riset lokal melalui Sustainability Center, termasuk kajian biodiesel B50 dan dekarbonisasi industri.

Forum tersebut ditutup oleh Bambang Susantono yang menegaskan pembangunan transportasi urban rendah emisi hanya dapat tercapai melalui keseimbangan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.

“Ini hanya bisa terwujud melalui sinergi antara akademisi sebagai penghasil talenta hijau, industri sebagai pembangun teknologi, serta pemerintah sebagai pemegang kebijakan,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *