Depok, ArmadaBerita.Com – Pernyataan Presiden RI mengenai urgensi ketahanan energi dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BIMP-EAGA di Cebu, Filipina, pada 7 Mei lalu menjadi sinyal penting bagi ketahanan ekonomi keluarga, khususnya di wilayah penyangga perkotaan. Ketidakstabilan global yang memicu kenaikan harga energi dinilai berpotensi meningkatkan biaya distribusi pangan dan kebutuhan pokok, sehingga semakin menekan daya beli masyarakat, terutama kelompok ekonomi rentan.
Kondisi tersebut mulai diantisipasi oleh masyarakat di wilayah penyangga Jakarta, salah satunya di RW 09 Kelurahan Cipayung Jaya, Depok. Di kawasan padat penduduk ini, ancaman kenaikan harga pangan menjadi tantangan serius bagi keluarga pensiunan yang mengalami penurunan pendapatan hingga 30–50 persen.
Melihat kondisi tersebut, Universitas Pertamina menghadirkan langkah preventif melalui program pemberdayaan masyarakat berbasis ketahanan pangan keluarga. Program ini memanfaatkan Posyandu sebagai pusat edukasi dan pengembangan kemandirian pangan warga.
“Posyandu merupakan simpul sosial yang sangat kuat karena berada di garda terdepan keluarga. Melalui wadah ini, kami mentransformasikan pesan Presiden mengenai ketahanan pangan menjadi aksi nyata. Warga dibina agar mampu memproduksi pangan sendiri sehingga kebutuhan dapur tetap aman meskipun terjadi gejolak harga di pasar global,” ujar Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Pertamina, Evi Sofia, baru-baru ini.
Salah satu inovasi utama yang diperkenalkan dalam program ini adalah Budikdamber (Budidaya Ikan dalam Ember) yang terintegrasi dengan sistem hidroponik. Melalui metode tersebut, warga dapat memanen ikan sebagai sumber protein sekaligus sayuran dalam satu sistem budidaya sederhana yang memanfaatkan lahan sempit di sekitar rumah.
Model budidaya ini dinilai efisien karena menerapkan sistem resirkulasi nutrisi alami. Limbah dari ikan dimanfaatkan sebagai pupuk organik bagi tanaman, sehingga penggunaan air dan biaya perawatan dapat ditekan tanpa mengurangi hasil panen.
Program yang telah berjalan sejak akhir 2025 ini mendapat antusiasme tinggi dari warga RW 09 Kelurahan Cipayung Jaya. Banyak warga mulai mengubah teras rumah dan lahan terbatas menjadi unit produksi pangan mandiri yang dapat membantu memenuhi kebutuhan harian keluarga.
“Di tengah tekanan ekonomi dan ketidakpastian global, kemandirian pangan menjadi pertahanan terbaik. Dengan modal yang terjangkau, satu keluarga dapat mengurangi pengeluaran belanja pangan bulanan secara signifikan sehingga daya beli tetap terjaga meskipun harga energi meningkat,” tambah Evi.
Manfaat program tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat. Ketua RW 09 Kelurahan Cipayung Jaya, Endang Sungkono, mengatakan inovasi Budikdamber tidak hanya membantu ekonomi warga, tetapi juga menghadirkan aktivitas produktif yang membangkitkan semangat masyarakat, khususnya para pensiunan.
“Dengan hadirnya inovasi Budikdamber ini, warga kami menjadi lebih berdaya. Selain membantu ekonomi keluarga, kegiatan ini juga memberikan semangat baru bagi warga untuk tetap produktif meski berada di lahan terbatas,” ujar Endang.
Sementara itu, Pelaksana Jabatan Sementara (Pjs) Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. techn. Djoko Triyono, menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menerjemahkan isu global menjadi solusi nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Menurutnya, inisiatif ini merupakan bentuk kontribusi konkret Universitas Pertamina dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya poin ke-2 tentang Tanpa Kelaparan dan poin ke-8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
“Universitas Pertamina berkomitmen menghadirkan inovasi yang langsung menjawab kebutuhan masyarakat. Persoalan ketahanan energi dan pangan yang disampaikan Presiden memerlukan respons akademik yang aplikatif. Melalui penguatan ekonomi keluarga berbasis komunitas seperti ini, kita sedang membangun fondasi ketahanan nasional yang lebih kokoh dari level paling dasar,” tutup Prof. Djoko. (*)











