Jakarta, ArmadaBerita.Com – Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Hal itu diungkapkan Gubernur BI, Perry Warjiyo pada pengumunan hasil Rapat Dewan Gubernur yang digelar di Jakarta Rabu (20/5/2026), dan disiarkan melalui akun media sosial BI.
“Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di timur tengah. Serta sebagai langkah preemtif untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran yang 2,5±1% yang ditetapkan pemerintah,” kata Perry Warjiyo.
Kebijakan tersebut langsung direspons positif oleh pasar valuta asing dengan penguatan nilai tukar rupiah ke kisaran Rp17.600 per dollar AS.
Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin menyanjung kebijakan BI menaikan B Rate tersebut langsung direspons positif oleh pasar valuta asing dengan penguatan nilai tukar rupiah ke kisaran Rp17.600 per dollar AS
Gunawan menilai, langkah BI efektif untuk meredam gejolak rupiah dalam jangka pendek. Namun, ia menegaskan penguatan mata uang domestik belum otomatis menghilangkan ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.
“Langkah BI saat ini memang efektif untuk meredam gejolak rupiah. Tetapi akar masalah pelemahan rupiah dari sisi eksternal masih terus menghantui,” kata Gunawan.
Menurut dia, kebijakan moneter yang ditempuh BI lebih ditujukan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan global. Sementara itu, faktor utama yang memicu ketidakpastian pasar, terutama konflik geopolitik di Timur Tengah, dinilai masih berpotensi menekan pasar keuangan domestik sewaktu-waktu.
Gunawan menjelaskan, kekhawatiran terhadap ancaman PHK sebelumnya muncul seiring pelemahan rupiah yang memicu gangguan pada pasokan bahan baku industri, kenaikan harga bahan baku, lonjakan biaya logistik, hingga mahalnya harga barang di pasar.
“Kekhawatiran seperti itu sebelumnya sempat memicu ancaman terhadap kemungkinan terjadinya PHK massal. Meski demikian, ancaman tersebut belum sepenuhnya hilang saat ini,” ujarnya.
Ia menilai risiko tekanan terhadap rupiah masih terbuka apabila terjadi eskalasi konflik yang lebih besar di Timur Tengah. Kondisi itu berpotensi memicu kenaikan harga minyak dunia serta gangguan rantai pasok global yang berdampak pada perekonomian nasional.
“Disaat eskalasi perang meningkat nantinya, pasar keuangan di tanah air masih rentan mengalami guncangan. Terlebih jika perang justru meluas ke wilayah lain, maka tekanan yang akan dialami rupiah akan meningkat,” sebut Gunawan.
Sementara, di pasar keuangan, pergerakan perdagangan sepanjang hari berlangsung volatil. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menguat hingga menyentuh level 6.459 sebelum berbalik melemah dan menyentuh level terendah di 6.215 pada sesi perdagangan.
IHSG akhirnya ditutup turun 0,82 persen ke level 6.318,5. Pelemahan tersebut sejalan dengan mayoritas bursa saham di Asia yang juga berada di zona merah.
Gunawan mengatakan, kenaikan suku bunga acuan justru menjadi sentimen negatif bagi pasar saham karena meningkatkan komponen biaya emiten. “Untuk pasar saham, kenaikan BI Rate menjadi sentimen negatif karena berarti terjadi kenaikan pada komponen biaya emiten,” ujarnya.
Saat ini, rupiah ditutup menguat di level Rp17.600 per dollar AS setelah sebelumnya sempat melemah hingga Rp17.740 per dollar AS.
Di sisi lain, harga emas dunia tercatat melemah di kisaran 4.477 dollar AS per ons troy, atau sekitar Rp2,54 juta per gram. Menurut Gunawan, tekanan terhadap emas dipicu lonjakan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang berada di level 4,643 persen.
Meski demikian, ia memperkirakan harga emas masih berpeluang mengalami rebound dalam jangka pendek dan kembali diperdagangkan di atas level 4.500 dollar AS per ons troy.











