Medan, Armadaberita.com – Masalah gizi bukanlah hal baru dalam masyarakat kita. Namun, saat ini, terjadi fenomena yang mungkin kurang disadari oleh banyak orang: anak-anak alami gizi lebih, terutama di wilayah perkotaan. Masalah ini memicu keprihatinan serius dan menandakan perlunya perubahan mendesak dalam pendekatan gizi anak-anak kita.
Menurut data dari Survei Status Gizi Indonesia 2022, lebih dari 3 persen anak balita di Indonesia mengalami gizi lebih. Bahkan lebih mengkhawatirkan lagi, sekitar 2,8 persen dari jumlah tersebut berada di Provinsi Sumatera Utara. Salah satu kantong masalah ini terletak di Kota Medan, dengan persentase sekitar 1,8 persen anak balita mengalami gizi lebih.
Penyebab gizi lebih pada anak-anak tidak selalu terbatas pada jumlah makanan yang berlebihan. Faktor lain yang berkontribusi meliputi pengaturan nutrisi yang tidak seimbang dan kurangnya pemahaman tentang makanan yang tepat bagi anak-anak balita. Banyak orangtua dan pengasuh yang mungkin tidak menyadari bahwa memberikan makanan dalam jumlah berlebihan, terutama makanan tinggi karbohidrat, dapat mengakibatkan masalah gizi lebih pada anak-anak mereka.
Untuk mengatasi tantangan ini, pendidikan gizi seimbang menjadi sangat penting. Di Kota Medan, tim Pengabdian Pada Masyarakat Universitas Sumatera Utara (USU) telah melakukan langkah konkret untuk memerangi masalah ini. Melalui acara pendidikan kesehatan yang baru-baru ini diselenggarakan di TK Khansa, Jalan Setia Budi, Medan mereka berusaha untuk memberikan pemahaman yang lebih baik tentang nutrisi kepada guru-guru PAUD dan orangtua murid.
Metode permainan kartu nutrisi digunakan dalam acara ini, dan hasilnya mengungkapkan pemahaman yang kurang memadai tentang takaran nutrisi yang seharusnya dalam makanan anak-anak. Dr. Putri Chairani Eyanoer, salah seorang dosen USU yang terlibat dalam kegiatan ini, menekankan pentingnya takaran nutrisi daripada jumlah makanan yang diberikan.
Dr. Fotarisman Zaluchu, SKM, MPH, yang juga terlibat dalam acara ini, menggarisbawahi bahwa pengaturan nutrisi yang seimbang sangat krusial dalam mencegah gizi lebih pada anak-anak. Alokasi makanan harus dipertimbangkan dengan baik agar kebutuhan nutrisi harian terpenuhi.
Kesadaran akan masalah gizi lebih pada anak-anak, terutama di perkotaan, adalah langkah pertama yang penting untuk mengatasinya. Kolaborasi antara orangtua dan guru-guru juga menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas pemberian makanan pada anak-anak balita. Sekolah dapat menjadi tempat yang efektif untuk belajar tentang gizi yang baik, dan praktik nutrisi yang benar dapat dipantau oleh guru-guru di tingkat PAUD.
Pesan yang perlu ditekankan adalah bahwa masalah gizi lebih pada anak-anak adalah tantangan nyata yang membutuhkan perhatian serius dari masyarakat, lembaga pendidikan, dan pemerintah. Edukasi gizi seimbang harus menjadi fokus utama dalam upaya menjaga kesehatan generasi masa depan kita. Anak-anak adalah aset berharga kita, dan dengan memberikan pemahaman yang benar tentang nutrisi, kita dapat memastikan bahwa mereka tumbuh menjadi generasi yang sehat dan kuat. Itulah investasi terbaik yang dapat kita berikan kepada masa depan bangsa ini. (Dedy Hutajulu)











