Jakarta, ArmadaBeritaCom – Menurut Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, pendidikan diartikan sebagai tuntutan dalam hidup tumbuhnya anak-anak, atau menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak tersebut agar mereka sebagai manusia mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
Indonesia perlu generasi yang baik, maka dari itu diharapkan anak muda di Indonesia memiliki pendidikan yang baik. Namun, menurut riset yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi bersama dengan THE SMERU Research Institute, sampai tahun 2020 ini tren partisipasi pendidikan di Indonesia cenderung menurun, seiring dengan semakin tingginya jenjang pendidikan.
Pelayanan Komunitas atau Service Learning merupakan satu dari kelompok mata kuliah yang terdapat di semester enam Fakultas Ekonomi dan Bisnis di Universitas Kristen Krida Wacana (Ukrida). Mata kuliah ini mewajibkan mahasiswa melakukan pelayanan terhadap masyarakat sekitar.
Melihat latar belakang yang kami sampaikan sebelumnya, hal inilah yang menjadi dasar utama kami dalam menentukan program kegiatan untuk Pelayanan Komunitas. Kami ingin berbagi ilmu pengetahuan yang kami miliki kepada anak-anak di sekitar RPTRA Krendang, Jakarta Barat.

Harapannya adalah untuk membantu mereka, setidaknya untuk mendapatkan kembali pendidikan tatap muka yang sempat tersendat akibat pandemi. Dalam kegiatan ini, kelompok kami terdiri dari Jonathan, Jeffry Haposan, Stephany Manullang, dan Yorry Agustine.
RPTRA Krendang adalah ruang publik yang bisa dimanfaatkan masyarakat sekitar kawasan Duri, Jembatan Besi, Krendang, Jakarta Barat. RPTRA Krendang memiliki fasilitas ruang terbuka yang bisa kami manfaatkan untuk melaksanakan kegiatan belajar-mengajar bersama anak-anak dari keluarga kurang mampu di sekitar RPTRA.
Anak-anak yang kami ajar memiliki jenjang pendidikan yang berbeda-beda, mulai dari jenjang Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, dan Sekolah Menengah Pertama. Kami berharap dengan kegiatan ini, anak-anak tersebut bisa mendapatkan materi tambahan atas apa yang sudah diberi dari sekolah, atau membantu kendala belajar mereka di sekolah. Kegiatan ini kami namai SPICTRA (Studying. Playing, Innovating, Creativating).
SPICTRA dilakukan setiap hari minggu dengan rentang waktu bulan Mei – Juni 2022, selama kurang lebih 3-4 jam. Pada setiap pertemuan kami membagi pengajaran dalam beberapa kelompok. Ada kelompok perkalian dan pembagian yang diikuti oleh anak-anak kelas 4 sampai jenjang SMP.

Lalu kelompok pertambahan dan pengurangan yang diikuti oleh anak-anak kelas 1-3 SD. Tak hanya untuk anak yang sudah masuk dalam pendidikan formal, kami jugu membentuk kelompok anak yang belum masuk pendidikan formal, dengan rentang usia 3-5 tahun.
Dalam kelompok ini kami melakukan pembelajaran dengan bermain, seperti menyusun barang, membuat origami, menggambar, dan bernyanyi. Metode bermain sambil belajar merupakan salah satu cara yang efektif untuk mengajarkan anak-anak SD.
Menurut kami kegiatan ini bermanfaat bagi masyarakat dan tentunya kami sebagai pelaksana kegiatan. Kami belajar bagaimana mengajar, yaitu belajar menghadapi dan memahami karakter anak-anak yang ingin diajar.
Selain itu, dengan kegiatan ini kami juga semakin menghargai kesempatan yang kami dapatkan serta kami juga bisa kembali mengingat materi yang sebelumnya kami pelajari.
Dari sisi anak-anak yang kami ajar, mereka merasa senang dengan kegiatan ini karena mereka bisa mendapatkan pelajaran tambahan bagi murid yang sudah memasuki pendidikan formal dan mendapatkan kesempatan belajar untuk anak-anak yang belum memasuki pendidikan formal.
Besar harapan kami apa yang kami berikan kepada mereka bisa berguna untuk masa depan mereka. Selain itu, kami berharap kegiatan ini bisa dilanjutkan oleh mahasiswa atau orang lain agar kita bisa berdampak bagi orang lain. (*)











