Medan, ArmadaBerita.Com
Puluhan mahasiswa Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN-SU) melakukan aksi demo di kampusnya Jalan William Iskandar, Pasar V, Desa Medan Estate, Kecamatan Percut Sei Tuan, Deli Serdang, Sumut, Selasa (22/2/2022) sekira pukul 12.00 WIB.
Untuk membuat perhatian rektor maupun pihak kampus yang berwenang, para mahasiswa yang turut mengibarkan bendera Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ini membakar 4 ban mobil berukuran besar yang masing-masing diletakan di dua gerbang pintu masuk kampus.
Mereka pun menyarakan tuntutan dan meminta keterangan dari pihak kampus (Rektor) terkait masalah beasiswa yang dianggap pendemo dikeluarkan tidak merata kepada mahasiswa yang mengikutinya hingga meminta penurunan UKT (uang kuliah tunggal).
“Mereka demo masalah penurunan UKT dan mempertanyakan kenapa uang bantuan beasiswa itu banyak yang nggak dapat. Yang dikhawatirkan bisa bentrok dengan kami (security), jadi maunya ada perwakilan rektor menjumpai mereka dan menjelaskannya,” ujar Zul Adha Lubis selaku sekurity kampus.
Awalnya, aksi demo berjalan kondusif. Para mahasiswa hanya menyuarakan lewat pengeras suara (Toa) dari dua pagar kampus bagian dalam. Akan tetapi, lama kelamaan demo malah memanas. Hal itu dikarenakan para mahasiswa yang menggelar demo tak mengizinkan bagi mahasiswa di kampus itu untuk keluar apalagi masuk.
Alhasil, salah seorang mahasiswa yang mencoba masuk memancing kemarahan mahasiswa yang melakukan aksi demo hingga berujung pengeroyokan.
“Aku fakultas Syariah juga, aku mau masuk,” teriak mahasiswa yang berpakaian rapi mengenakan kemeja putih lengantuk pendek dan celananya panjang warna cream.
Sempat terjadi perdebatan hingga akhirnya para mahasiswa pendo yang berada di dalam langsung memanjat pagar besi dan melompat lalu mengejar hingga memukuli mahasiswa di luar.
“Sudah-sudah, jangan. Dia mahasiswa juga,” lerai para mahasiswa lainnya hingga mahasiswa yang dipukuli itu berhasil pergi meraih sepeda motornya.
“Dia itu mahasiswa akhir akan melakukan sidang, tapi nggak diperbolehkan masuk oleh mahasiswa yang melakukan demo di pagar dalam kampus,” terang Zul Adha Lubis, security kampus dan ini rekannya.
Aksi demo dengan membakar ban mobil yang berjalan sekitar 1 jam itu akhirnya bisa mereda setelah adanya mahasiswa senior yang bisa menjelaskan kepada para pendemo. “Tadi ditenangkan sama mahasiswa senior, soalnya Rektor, PR II, dan lainnya lagi nggak ada di kampus. Memang sudah bubar, tapi nggak tau mereka akan melakukan aksi lanjutan atau tidak nantinya,” aku Security kampus lagi.
Terpisah, Joko selaku pegawai dibagian Biro UIN-SU menjelaskan, bahwa para mahasiswa melakukan aksi demo menuntut penurunan uang kuliah (UKT) karena selama ini melakukan pembelajaran secara online.
Kemudian, mereka menuntut adanya program beasiswa yang mereka anggap tidak merata alias banyak yang tidak mendapatkan bagian. Hal itu menurut Joko, lantaran adanya kekurangan data dari mahasiswa itu sendiri sehingga terkendala mendapatkannya. Lalu masalah tuntutan UKT yang tetap melakukan pembayaran Rp 2.400.000/ semester dari segala jurusan.
“Beasiswa dari Program Bidik Misi itu kan jumlahnya Rp 6.600.000, jadi kuota nya kan terbatas dan ada juga yang sudah ikuti prosedur tapi tidak tuntas karena dianggap ribet sehingga nggak dapat. Dan UKT itu semua jurusan setiap semester tetap bayarnya Rp 2.400.000, mau dia dari jurusan yang uang kuliahnya 4 juta atau lebih maupun yang paling murah Rp 400 ribu,” ungkap Joko.
Dijelaskan Joko lagi bahwa beasiswa senilai Rp 6.600.000 itu dipotong per semester sampai 8 kali alias 4 smester. Jika masa kuliahnya bertambah sampai 9 atau 10 dan seterusnya akan ditanggung sendiri.
“Dan itu semua sudah diatur oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti). Banyak program beasiswa seperti dari Bank, dan lainnya juga sudah diatur dan harus mengikuti prosedur serta kuota terbatas. Untuk tahun ini saja hanya 540 orang, tapi yang mendaftar sekitar 3000-an mahasiswa,” jelas Joko. (ASN)











