WISATA  

Bukit Lawang, Rumah Bagi Primata dan Rekreasi Pemandian yang Menarik

Share

Langkat, ArmadaBerita.Com

Alam Sumut begitu indah. Banyak tempat rekreasi yang menarik untuk dikunjungi. Salah satunya, Bukit Lawang di Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat.

Di sana terdapat banyak tempat rekreasi alamiah, seperti Taman Wisata, Gunung Leuser, Goa Kelelawar, pemandian alam sungai Bahorok, wisata arung jeram, tempat pendakian ke puncak gunung dan menyaksikan habitat primata. “Banyak lokasi wisata yang bisa dikunjungi di sini. Tapi ikon di sini adalah Orang Utan. Sayang bila berwisata ke tempat ini belum melihat Orang Utan,” anjur Rendy Surbakti, warga setempat, Minggu (4/4/2021) sore.

Bahorok memang primadona dengan kejernihan air sungainya. Selain jernih juga dingin, sehingga sangat menyegarkan untuk berendam di sini. Selain itu, sepanjang aliran sungai Bahorok juga banyak tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi. Pengelola wisata ini telah menyiapkan pondok-pondok untuk lapak beristirahat bagi para pelancong. Bahkan, aneka jenis makanan (jajanan) dan souvenir berupa pernak-pernik dan pakaian ala Bukit Lawang juga tersedia.

Bukit Lawang cocok untuk wisata keluarga. Sungai yang jernih dan tidak begitu dalam, sangat bagus untuk berenang (berendam). Sembari menikmati wisata air, pungunjung juga menikmati deru air, udara segar, kicau burung berpadu dengan suara siamang. Alamiah sekali. Sayang, kesadaran manusia menjaga kebersihan masih rendah. Tak sedikit sampah berserakan di aliran sungai dan kurangnya fasilitas tempat sampah di setiap sudut lokasi hingga tepian sungai.

Selain berendam, pengunjung juga bisa menikmati wisata arung jeram yang akan memberinya kenangan hebat. Yang tidak kalah asik adalah menapaki bukit menuju puncak Gunung Leutser National Park. Sayangnya, selama masa pandemi Covid-19, wisata pendakian ditutup untuk umum, hingga waktu yang tidak ditentukan.

Sebelum tiba di Gunung Leutser National Park, pengunjung mesti melintasi kawasan hutan karet yang berada di kawasan Bukit Menday. Naik ke puncak lagi terdapat Bungalow di atasnya yang dinamakan “On The Rocks” sebagai tempat penginapan dan restauran. Di tempat ini, pengunjung bisa menikmati pemandangan alam yang sangat memukau. Di lokasi itu juga disediakan bangunan rumah yang didesain sebagai rumah adat mini buat pengunjung yang ingin berswafoto.

Untuk sampai ke beberapa tempat itu sekaligus melihat ikon Orang Utan, pengunjung diwajibkan didampingi pemandu atau Guide. Pemandu wisata ini juga terlatih sebagai pawang primata. Pemandu biasanya menjelaskan banyak hal mulai Orang Utan, Gunung Leutser, kawasan hutan, hingga apa-apa yang dilarang serta tak lupa membawa buah pisang atau makanan untuk Orang Utan dan beberapa jenis kera hitam-putih berekor panjang yang banyak bergelantungan di sepanjang pepohonan.

Pemandu bernama Muhammad Asyakirin Sitepu atau yang biasa dengan sapaan Pak Dok menjelaskan, pengunjung harus tetap hati-hati dikarenakan orang utan bisa saja akan menyerang pengunjung bila melanggar atau menyalahi aturan. Aturan lainnya, pengunjung harus menjaga kebersihan serta menaati apa yang dilarang seperti tidak membuang air kecil dan air besar di dalam hutan.

“Di sini ada Orang Utan yang namanya Mina. Dia lumayan agresif karena menjaga anaknya. Kita harus menjaga jarak juga dengan Orang Utan yang lain. Kalau ingin berfoto, jangan terlalu dekat. Apalagi si Mina, dia menggigit,” anjur Pak Dok.

Pemberdayaan Orang Utan di sana tak begitu banyak. Sebab, selain tingkat kepunahannya dan resiko jadi perburuan, massa perkembangbiakan Orang Utan Sumatera (Pongo abelii) atau mawas itu, terbilang langka. “Biasanya massa perkawinan Orang Utan itu di Bulan Sabit dan Bulan Purnama aja,” jelas Pak Dok.

Menurut Pak Dok, tidak hanya Orang Utan saja, jenis Kera juga banyak hidup di sana. Tapi yang sering kelihatan adalah kere ekor panjang berwarna hitam-putih. Orang Utan di sana diperkirakan tujuh jenis, mulai dari jenis Thomas Black Monkey, Black Gibon, White Gibon, orangutan dan lainnya.

Kebanyakan Orang Utan di Bahorok yang diberdayakan merupakan hasil sitaan dari warga setempat. Karena Orang Utan terancam kepunahannya dan dilindungi Undang-undang. Namun dari kesemua itu, Orang Utan bernama Mina, dia agresif. Pak Dok menceritakan, ada koleganya (pemandu) yang terluka karena digigit si Mina. “Dia digigit si Mina sampai jarinya putus. Jadi, kita harus jaga jarak betul dan jangan buat si Mina merasa terganggu ya,” tegas Pak Dok, lelaki yang telah lima tahun menjadi pemandu wisata di sana.

Menurut pemandu wisata kawasan Gunung Leutser National Park, Animan Siahaan alias Tompel, sekarang ini ada 21 ekor Orang Utan yang terdaftar pada pemberdayaan di sana. “Itupun sebahagian hasil sitaan masyarakat. Kalau yang liar jumlahnya kita nggak tau,” ungkapnya.

Maka dari itu, pemerintah melalui tim pemberdayaan orangutan bekerja ekstra untuk  menjaga agar hewan primata ini terhindar dari kepunahan tersebut dan menjauhkan mereka  dari para pemburu liar. Berwisata ke Bukit Lawang tidak cukup sekadar liburan menikmati alam. Ada tanggung jawab yang jauh lebih besar, yakni mari kita menumbuhkan kesadaran untuk menjaga alam, melestarikan primata dan tidak lagi buang sampah secara sembarangan. Dengan begitu, kita jaga alam karena alam terus (tanpa letih) menjaga kita. (ASN/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *