Medan, Armadaberita.com – Persoalan banjir yang terus menghantui Medan mendorong Wali Kota Rico Tri Putra Bayu Waas menyiapkan strategi yang jauh lebih matang. Dalam sesi podcast bersama kantor berita Antara, ia membuka bagaimana dirinya merancang sistem mitigasi bencana yang lebih cepat, responsif, dan berbasis pengalaman lapangan.
Dalam diskusi bertema mitigasi bencana itu, Rico Waas memaparkan bahwa setiap kali cuaca ekstrem muncul, ia langsung mengaktifkan koordinasi cepat dengan perangkat daerah, terutama Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Pemantauan dilakukan secara berlapis, dimulai dari kondisi cuaca di kawasan pegunungan untuk memprediksi potensi peningkatan debit air yang bisa mengalir ke pusat kota.
Ia juga menyoroti pentingnya mengamati perubahan warna sungai—sebuah indikator awal terjadinya banjir kiriman—sekaligus mengumpulkan laporan real-time dari seluruh kecamatan untuk memastikan keamanan evakuasi warga.
Menurutnya, seluruh sistem kini sudah memiliki alur jelas: mulai dari pemantauan, jalur evakuasi, hingga lokasi aman bagi warga terdampak. Pengalaman banjir sebelumnya dijadikan bahan evaluasi untuk mempertajam prosedur yang ada.
Rico Waas menambahkan, upaya penanganan banjir sudah masuk ke dalam pembahasan Musrenbang serta menjadi prioritas Dinas SDABMBK. Namun, eksekusinya tetap dilakukan bertahap. Beberapa wilayah rawan seperti Medan Belawan, Medan Labuhan, Medan Marelan, dan Medan Deli menjadi fokus utama perbaikan saluran drainase dan normalisasi parit. Penyumbatan parit disebut sebagai pemicu terbesar banjir lokal.
Mengenai penyebab utama banjir, Rico menyebut hal itu merupakan kombinasi pendangkalan sungai, penumpukan sampah, dan kapasitas sungai yang tidak lagi memadai untuk menahan debit air yang meningkat setiap tahun. Meski normalisasi sungai berada di bawah wewenang pemerintah pusat melalui Balai Besar Wilayah Sungai, Pemko Medan tetap mendorong kolaborasi agar solusi permanen dapat segera terwujud.
Di akhir podcast, ia menegaskan, seluruh perangkat daerah sudah dilibatkan dalam sistem mitigasi bencana. Setiap wilayah juga diwajibkan memiliki SOP yang jelas agar lebih sigap menghadapi potensi bencana serupa di masa depan.











