Dari Alat Tenun di Tarutung ke Pasar Mancanegara, Songket Tapanuli Utara Terus Menenun Harapan

Ivana boru Hutabarat saat bertenun di event Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) Ke-50 di Jalan Gatot Subroto, Medan, Rabu (15/7/2026).
Share

Medan, ArmadaBerita.Com – Bunyi alat tenun bukan mesin masih setia mengiringi hari-hari Ivana boru Hutabarat di Tarutung. Dengan ketelatenan dan kesabaran, perempuan yang telah empat tahun menjadi penenun itu merangkai benang demi benang menjadi kain songket bermotif khas Tapanuli Utara (Taput). Dari tangan-tangan seperti miliknya, lahir karya yang kini tak lagi hanya dikenakan masyarakat lokal, tetapi juga telah menembus pasar nasional hingga mancanegara.

Dalam sebulan, Ivana mampu menyelesaikan dua stel kain songket yang dikerjakan secara tradisional. Setiap helai lahir melalui proses panjang yang menuntut ketelitian tinggi, sehingga kualitas dan keindahan motif tetap terjaga.

“Selama ini hasil tenunan dipasarkan melalui toke maupun Dekranasda Kabupaten Tapanuli Utara. Berkat pembinaan dan dukungan pemasaran, songket kami kini semakin dikenal dan sudah sampai ke luar negeri,” akunya.

Keberhasilan tersebut menjadi salah satu cerita yang ditampilkan di Paviliun Kabupaten Tapanuli Utara pada ajang Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) Ke-50 di Jalan Gatot Subroto, Medan, Rabu (15/7/2026). Paviliun ini menjadi etalase berbagai produk unggulan UMKM yang berhasil menarik perhatian pengunjung.

Selain tenun songket, beragam produk khas daerah turut dipamerkan, mulai dari wine rasa stroberi Hutagalung, biskuit kelapa Tarutung, aneka bumbu masakan, kopi, keripik, brownies, hingga berbagai produk olahan lainnya. Seluruhnya merupakan hasil pembinaan Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian, dan Perdagangan Kabupaten Tapanuli Utara.

Staf Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian, dan Perdagangan Kabupaten Tapanuli Utara, Raiza boru Purba, mengatakan pemerintah daerah secara rutin melakukan pendataan pelaku UMKM setiap tahun. Pendataan tersebut menjadi dasar dalam memberikan pembinaan, pelatihan, hingga membuka akses permodalan bagi pelaku usaha yang telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB).

“Setiap tahun kami melakukan pendataan pelaku UMKM. Ketika ada pelatihan maupun program bantuan permodalan, mereka dapat kami undang karena sudah terdaftar dan memiliki NIB,” kata Raiza.

Bagi Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara dan Dekranasda, keikutsertaan dalam PRSU bukan sekadar menghadirkan produk untuk dipamerkan. Ajang ini menjadi ruang strategis memperkenalkan potensi daerah, memperluas jaringan pemasaran, sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih luas bagi para perajin dan pelaku UMKM.

Di balik setiap lembar songket yang dipamerkan, tersimpan kisah tentang ketekunan, pelestarian tradisi, dan harapan akan masa depan ekonomi masyarakat. Dari ruang-ruang tenun sederhana di Tarutung, warisan budaya Tapanuli Utara terus melangkah, membawa identitas daerah menuju panggung nasional hingga pasar global. (RT/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *