Medan, ArmadaBerita.Com – Berakhirnya masa gencatan senjata sementara antara Iran dan Amerika Serikat (AS) pada 17 Agustus 2026 kembali menambah tekanan terhadap pasar keuangan global. Ketiadaan kesepakatan lanjutan dan sikap AS yang menyatakan tidak memperpanjang gencatan senjata membuat investor kembali mencermati risiko eskalasi konflik di Timur Tengah.
Pengamat Ekonomi, Gunawan Benjamin, menilai perkembangan tersebut berpotensi meningkatkan kekhawatiran pasar, terutama melalui pergerakan harga komoditas energi dan nilai tukar. Hal itu disampaikan Gunawan Benjamin kepada diwawancarai di Medan, Selasa (18/8/2026).
Menurut Benjamin, pasar minyak menjadi salah satu indikator yang paling cepat merespons meningkatnya ketegangan geopolitik. Harga minyak mentah Brent saat ini bergerak di kisaran US$91 per barel, seiring kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi apabila konflik di kawasan tersebut kembali memanas.
“Ketegangan geopolitik di Timur Tengah selalu menjadi perhatian pasar karena kawasan tersebut memiliki peran penting terhadap pasokan energi global,” sebut Benjamin.
Tekanan geopolitik juga mulai tercermin pada perdagangan bursa saham Asia. Mayoritas pasar saham Asia bergerak melemah pada sesi perdagangan pagi setelah investor kembali meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko perang yang lebih luas.
Meski demikian, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mampu menguat pada pembukaan perdagangan dan bergerak di sekitar level 6.488. Benjamin menilai penguatan tersebut antara lain mendapat dorongan dari perkembangan bursa regional ketika pasar domestik Indonesia libur pada Senin.
Namun, kondisi tersebut dinilai belum sepenuhnya mencerminkan sentimen pasar setelah muncul kabar terbaru mengenai meningkatnya kembali tensi geopolitik di Timur Tengah.
“Penguatan IHSG pada awal perdagangan masih berpeluang mengalami koreksi hingga penutupan apabila sentimen eksternal semakin memburuk,” kata Benjamin.
Rupiah Berada di Bawah Tekanan
Selain pasar saham, pergerakan rupiah juga menjadi perhatian. Pada perdagangan Selasa pagi, rupiah berada di kisaran Rp17.840 per dolar AS.
Benjamin menilai pelemahan rupiah berpotensi berlanjut apabila harga minyak mentah terus meningkat dan tekanan eksternal tidak mereda. Kenaikan harga minyak juga dapat memberikan tekanan tambahan terhadap neraca perdagangan dan biaya impor energi.
Menurut dia, ruang intervensi Bank Indonesia menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar apabila tekanan terhadap rupiah semakin besar.
“Ketika harga minyak naik dan rupiah melemah secara bersamaan, tekanan terhadap perekonomian domestik menjadi lebih besar. Karena itu, respons dan intervensi otoritas akan menjadi perhatian pasar,” jelasnya.
Inflasi Jadi Risiko Berikutnya
Kenaikan harga minyak juga membawa konsekuensi lain, yakni meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi. Jika harga energi bertahan tinggi dalam waktu cukup lama, dampaknya dapat merembet ke biaya transportasi, produksi, hingga harga berbagai barang dan jasa.
Situasi tersebut turut memengaruhi pergerakan aset safe haven. Harga emas dunia pada Selasa pagi tercatat melemah di kisaran US$4.404 per troy ounce, turun dari posisi sekitar US$4.428 per troy ounce pada perdagangan sebelumnya.
Benjamin melihat kondisi pasar saat ini menunjukkan bahwa investor tidak hanya memperhitungkan risiko konflik, tetapi juga dampaknya terhadap inflasi, suku bunga, nilai tukar, dan pertumbuhan ekonomi global.
Dengan demikian, arah pasar keuangan Indonesia dalam jangka pendek masih akan sangat dipengaruhi perkembangan geopolitik Timur Tengah. Jika eskalasi konflik kembali meningkat dan harga minyak terus menanjak, tekanan terhadap rupiah dan IHSG berpotensi semakin besar.
Sebaliknya, meredanya ketegangan dan terbukanya kembali peluang diplomasi dapat memberikan ruang bagi pasar untuk kembali stabil.
“Pasar akan sangat sensitif terhadap setiap perkembangan baru. Bukan hanya konflik itu sendiri yang diperhatikan, tetapi juga seberapa besar dampaknya terhadap harga minyak, inflasi, nilai tukar, dan akhirnya terhadap pertumbuhan ekonomi,” pungkas Benjamin.











