Siantar, ArmadaBerita.Com
Tangan Iyong marga Damanik (39) warga Jalan Makasar, Kecamatan Siantar Barat, Kota Pematangsiantar ini, sangat lihai membuat berbagai karikatur dengan berbagai ukuran.
Meski hanya mempunyai peralatan terbatas, setiap hari, ayah dua anak ini merancang berbagai miniatur menggunakan peralatan seadanya.
Iyong sendiri, menggeluti dunia seni sudah lebih lima tahun, sejak kondisi fisiknya sedikit mengalami gangguan. Adapun berbagai macam miniatur dibuat tergantung pesanan.
“Ada miniatur becak siantar (BSA), Rumah Adat Simalungun dan bus. Dulu sempat sakit selama 6 bulan, makannya nggak kerja diluaran lagi,” katanya.
Untuk menyambung kebutuhan hidup, mau tak mau Iyong mengaku Seniman dijadikannya sebagai pekerjaan tetapnya. Alasan itu kata dia, juga untuk melestarikan budaya.
“Pilihan ini seperti menapaki jalan terjal dan berbatu, karena bukan hal yang mudah menjadi seorang pengerajin sekaligus kepala rumah tangga. Setiap karikatur yang saya buat pun harus turut mengikuti bentuk asli,” ungkapnya.
Selain itu, Iyong juga harus mengetahui bentuk dan filosofi dari setiap desain yang dibuatnya.
“Beberapa mungkin tidak terlalu sulit, seperti miniatur bus. Tapi kalau rumah adat, Rumah Bolon, kita harus tau ornamen dan maknanya. Jadi, miniatur dapat menggambarkan bentuk aslinya. Roh (miniatur) nya hidup,” tambahnya.
Masih kata Iyong ditemui, Minggu (19/2/2023) siang jam 14.56 WIB, tidak semua orang mampu dan tertarik menggeluti profesi seperti dia. Apalagi di zaman modern saat semuanya serba instan.
Saat membuat miniatur BSA dan Rumah Bolon, Iyong mengatakan, hal itu mengandung ilmu sejarah yang kehidupannya sangat berguna.
Selain bisa menjadikan koleksi hiasan rumah, Iyong yakin karya tangannya bisa menjadi catatan sejarah seperti icon Kota Pematangsiantar jika diperkenalkan kepada generasi mendatang.
“BSA sebagai becak Sintar sudah jarang ditemui, demikian juga seperti rumah Bolon, yang hanya satu satunya peninggalan sejarah tersisa dari suku Simalungun. Jadi lewat miniatur ini, kita turut melestarikan kebudayaan. Setidaknya hal itu yang saya pedomani setelah beberapa tahun menggeluti pekerjaan ini,” terangnya.
Untuk membuat satu miniatur BSA, Iyong membutuhkan waktu selama 3 hari. Untuk miniatur BSA, Iyong membandrol seharga Rp 300 ribu rupiah.
Sedangkan untuk Rumah Bolon, Iyong membutuhkan waktu 7 hari dengan harga Rp 1 juta rupiah meski profesi tersebut dikatakan Iyong masih terus dipelajari.
“Saya merasa belum maksimal karena keterbatasan peralatan yang saya punya saat ini. Makanya, saya terus belajar. Saya juga bermohon ada perhatian dari pemerintah untuk membantu peralatan kerja agar hasilnya lebih baik,” harapnya Iyong mengakhiri. (Hay)











