EKBIS  

Cuaca Kurang Bersahabat, Harga Cabai Merah Berfluktuasi Namun Sulit Turun

Share

Medan, ArmadaBerita.Com

Cuaca yang kurang bersahabat belakangan ini di wilayah Sumatera Utara, seperti curah hujan yang tidak seperti biasanya, ditambah dengan intensitas hujan yang cukup tinggi, telah memaksa sejumlah harga kebutuhan pangan masyarakat bertahan mahal.

Ketua Tim Pemantauan Harga Pangan, Gunawan Benjamin, MM menyebut, secara poin to poin, cabai merah yang pada akhir pekan lalu sempat dikisaran 90 ribu hingga 100 ribu per Kg, saat ini berada dikisaran sama 90 hingga 100 ribu per Kg.

Harga itu dikatakannya tidak banyak mengalami perubahan, padahal di pekan ini harga cabai merah sempat turun dikisaran 70 hingga 80 ribu per Kg. Akan tetapi, lanjutnya, dalam seminggu terakhir cabai merah berfluktuasi cukup tinggi seiring dengan perubahan cuaca itu sendiri.

“Sehingga harga cabai merah kerap naik saat hujan melanda sejumlah sentra produksi cabai di wilayah Kabupaten Karo dan sekitarnya atau Sumut pada umumnya,” ungkap Gunawan kepada wartawan di Medan, Jum’at (26/8/2022) pagi.

Sementara itu, harga cabai rawit hijau turun sekitar 14 persen. Disisi lain, harga daging ayam secara rata rata di SUMUT mengalami kenaikan sekitar 4.5 persen. “Namun untuk wilayah Medan sendiri, harga daging ayamnya naik sekitar 16% dalam sepekan terakhir. Dari kisaran 29 ribu per Kg menjadi 34 ribu per Kg,” papar Gunawan.

Ekonomi asal Sumut ini juga menuturkan bahwa Telur ayam juga mengalami kenaikan cukup tinggi di wilayah lain khsusnya di luar Sumatera Utara. Namun jika ditarik data selama sepekan terakhir, sebutnya, kenaikan harga telur ayam di Sumut itu sangat kecil sekali, sekitar 2%-an saja.

“Di kota Medan kenaikannya sekitar 0.8%. Akan tetapi di tingkat pedagang di bawah pedagang pengecer (kedai sampah) yang menjual per butir, kenaikan harga telurnya mencapai 100 hingga 200 rupiah per butir,” sebutnya.

Menurutnya, harga telur ayam itu dijual di angka yang memungkinkan pedagang, sehingga tidak terlalu repot untuk memberikan uang pecahan kembalian. Dimana harga telur ayam itu umumnya dibandrol dengan harga 1.500, 1.600, 1.800 dan 2.000 per butirnya. “Saya menduga pedagang menaikkan harga yang dibulatkan, bukan menaikkan harga sesuai dengan angka kenaikan yang ideal,” tuturnya.

Terkait dengan cuaca itu sendiri, Gunawan menilai sekalipun harga beberapa komoditas pangan sulit untuk turun, khususnya untuk tanaman pangan hortikultura, akan tetapi ada masanya nanti petani terpaksa memanen tanamannya untuk menghindari pembusukan tanaman itu sendiri.

“Jadi kalau kita berandai-andai cuaca akan seperti ini terus (banyak hujan), tetap ada masanya nanti pasokan melimpah di pasar yang memicu penurunan harga secara tiba tiba,” lanjutnya.

Akan tetapi untuk komoditas sumber protein, seperti daging ayam terjadi penurunan stok yag mengakibatkan kenaikan harga. “Dan penurunan stok ini dipicu oleh harga jual ayam yang dinilai merugikan sejumlah peternak sebelumnya. Sehingga mereka terpaksa mengurangi stoknya. Untuk harga apangan diluar yang saya sebutkan sebelumnya, semua masih terpantau bergerak stabil,” pungkasnya. (ASN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *