Keterbatasan Bukanlah Penghalang Untuk Belajar

Share

Sekolah kolong didirikan oleh relawan yang bernama Bapak Jovin nduru beserta dengan rekan lainnya yang diawali dengan pelayanan berdasarkan kepedulian terhadap pendidikan anak-anak di lingkungan kolong tol Pluit, Jakarta Utara.

Pada Program Pengajaran Pengenalan Komputer ini, kami memprioritaskan anak-anak kelas 4 dan 5 Sekolah Dasar dikarenakan murid kelas 6 sedang melewati ujian akhir. Program tersebut berjalan dengan rentang waktu dari bulan April hingga bulan Juni 2022, setiap hari Sabtu pukul 13.30-15.00.

Jumlah murid yang kami ajar dalam program ini berkisar dari 5 hingga 12 anak. Tempat pembelajaran komputer dilaksanakan di sebuah ruangan di dalam rumah swadaya sederhana yang didirikan oleh warga sekitar yang memiliki perlengkapan seperti kursi dan meja hasil donasi dari yayasan atau lembaga lainnya.

Ruang tempat kami mengajar terkesan cukup kumuh dan sering bergetar jika kendaraan besar lewat, hal tersebut diakibatkan karena letak posisi ruangan yang berada tepat di bawah samping jalan tol.

Setelah kami cari tahu lebih lanjut, kami mendapatkan bahwa anak-anak dari sana belum pernah sama sekali mengenal dan memegang apa yang namanya komputer. Padahal untuk anak seusia mereka, pembelajaran tentang komputer merupakan hal yang sudah wajib mereka dapatkan dan kita tahu bahwa teknologi merupakan masa depan dari dunia ini.

Untuk program kali ini, kita hanya memfokuskan pembelajaran kita pada kemampuan untuk mengetik dengan aplikasi game berbasis web Type Race dan Nitro Type serta pembelajaran microsoft office word. Office word merupakan sebuah keharusan untuk pekerja dari segala bidang. Dengan begitu kami membekali mereka dengan salah satu dasar yang paling  penting untuk dunia kerja kedepannya.

Pada awalnya, banyak permasalahan yang kami dapat ketika menjalankan program ini, dimulai dari lokasi yang cukup sulit untuk diakses karena berada pada tempat yang cukup dalam, kemudian jarak yang cukup jauh dari rumah kami, serta cuaca yang tidak mendukung.

Bukan hanya itu, kami juga mengalami keterbatasan dalam komputer atau laptop yang bisa kami gunakan untuk mengajar. Kami hanya memiliki 4 buah laptop yang dapat kami edarkan ke beberapa anak.

Mahasiswa Ukrida menyelenggarakan Sekolah Kolong di Jakarta

Selain itu, murid yang datang tidak menentu jumlahnya dengan begitu ada beberapa anak yang tertinggal ketika melakukan program. Walaupun begitu kami tetap menjalaninya dengan penuh tanggung jawab.

Program kali ini kami bagi menjadi 6 sesi pertemuan. Untuk pertemuan pertama hingga ketiga kami mengajar dasar dan pengenalan untuk Microsoft Word. Untuk pertemuan keempat dan kelima, kami mengajak murid-murid bermain game balap mobil dengan cara mengetik setiap kata dalam kalimat hingga mencapai finish.

Tujuan utamanya untuk memperlancar kemampuan mengetik namun tetap menyenangkan bagi diri mereka. Dan sesi terakhir adalah sesi dimana mereka diberikan tugas untuk dikerjakan.

Konsep mengajar yang kami gunakan adalah dengan mengelompokan beberapa anak dan masing-masing dari kami memegang 1 hingga 2 kelompok. Alasan lain mengapa kita mengambil metode ini adalah untuk mempermudah murid-murid untuk berdiskusi dengan sesamanya sekaligus membuat mereka lebih percaya diri dan tidak canggung.

Reaksi yang kita dapat dari mereka secara mayoritas adalah antusiasme yang luar biasa. Walaupun mereka masih cukup canggung untuk bertanya namun mereka cukup bersemangat untuk mendapatkan pengajaran ini.

Selain pendidikan dalam hal ilmu pengetahuan, dengan adanya program kami juga mengajarkan anak didik kami akan arti dalam melayani terhadap sesama dan mampu memberikan motivasi bagi anak-anak untuk peduli terhadap sesama.

Harapannya untuk program Pelayanan Komunitas ini, nantinya mampu menggerakkan anak muda lainnya untuk lebih mengedepankan pendidikan, dan bersama-sama membangun pendidikan yang merata serta layak untuk seluruh anak di Indonesia. Serta untuk anak-anak yang kami didik, semoga program ini dapat memberikan manfaat bagi mereka di jenjang pendidikan selanjutnya. (*)

 

Artikel ini ditulis oleh tim yang terdiri dari Albert Sutandi, Handinata, dan Robert Carlos, tiga mahasiswa Ukrida.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *