Medan, ArmadaBerita.Com – Pemadaman listrik massal (blackout) yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, khususnya Sumatera Utara, sejak Jumat (22/5/2026) malam, diperkirakan menimbulkan kerugian ekonomi dalam jumlah besar. Tidak hanya melumpuhkan aktivitas masyarakat, gangguan pasokan listrik itu juga memicu potensi kerusakan barang elektronik, penurunan produktivitas usaha, hingga membengkaknya biaya operasional masyarakat.
Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin menilai, dampak blackout tidak bisa dipandang sebatas padamnya aliran listrik. Menurutnya, efek ekonomi yang muncul bersifat berantai dan menyentuh hampir seluruh sektor aktivitas masyarakat.
“Kerugiannya bukan hanya soal listrik mati. Ada kerusakan alat elektronik, biaya tambahan membeli BBM genset, kemacetan lalu lintas, usaha yang berhenti beroperasi, hingga hilangnya produktivitas masyarakat. Semua itu punya nilai ekonomi yang besar,” ujar Gunawan, kepada wartawan di Medan, Minggu (24/5).
Ia menjelaskan, terdapat sejumlah pendekatan yang lazim digunakan untuk menghitung dampak ekonomi akibat pemadaman listrik, mulai dari pendekatan kompensasi PLN, value of lost load (VOLL), fungsi kerusakan pelanggan, hingga klaim kerugian aktual masyarakat.
Namun, Gunawan menekankan bahwa tidak ada satu angka absolut untuk menggambarkan total kerugian akibat blackout karena setiap metode menghasilkan estimasi yang berbeda.
Sebagai ilustrasi, Gunawan menggunakan pendekatan VOLL, yakni metode yang menghitung nilai utilitas, kenyamanan, dan potensi pendapatan yang hilang akibat listrik tidak tersedia.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah rumah tangga di Sumatera Utara mencapai sekitar 3,5 juta. Dari jumlah tersebut, diperkirakan sekitar 20% merupakan pengguna pendingin ruangan (AC).
“Jika diasumsikan satu rumah tangga menggunakan satu unit AC 1 PK dengan durasi penggunaan sekitar satu jam 47 menit, maka potensi kerugian pengguna AC di Sumatera Utara saja bisa mencapai Rp7 miliar hingga Rp28 miliar,” jelasnya.
Perhitungan tersebut menggunakan asumsi nilai VOLL sebesar Rp10.000 hingga Rp40.000 per kilowatt hour (KWh).
Menurut Gunawan, angka itu baru menggambarkan potensi kerugian dari penggunaan AC rumah tangga. Nilainya bisa jauh lebih besar apabila durasi pemadaman lebih lama, kapasitas AC lebih besar, atau masyarakat harus mengeluarkan biaya tambahan seperti menginap di hotel akibat listrik yang tak kunjung menyala.
“Belum lagi kalau dihitung dari sektor usaha, industri, rumah makan, hotel, hingga layanan publik yang aktivitasnya terganggu. Dampaknya bisa sangat besar,” katanya.
Ia menambahkan, pola pemadaman yang tidak serentak di setiap wilayah membuat kalkulasi kerugian menjadi lebih kompleks. Meski demikian, menurutnya, potensi kerugian ekonomi akibat blackout skala besar tetap dapat mencapai angka fantastis.
“Pendekatan perhitungan kerugiannya bisa saja mencapai ratusan triliun rupiah, tergantung bagaimana variabelnya dihitung,” ujarnya.
Gunawan menilai, salah satu cara paling sederhana untuk mengukur dampak ekonomi blackout adalah dengan menghitung jumlah energi listrik yang gagal disalurkan PLN kepada masyarakat selama pemadaman berlangsung.
“PLN sebenarnya bisa menghitung berapa KWh yang tidak tersalurkan akibat blackout. Dari situ bisa dihitung juga berapa besar aktivitas ekonomi, output barang, dan jasa yang hilang akibat listrik tidak tersedia,” tutupnya.











