MEDAN, ARMADABERITA — Keluhan kesehatan yang dialami 38 siswa dari empat sekolah dasar di Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang, setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG), kembali memunculkan perhatian terhadap aspek keamanan pangan dalam pelaksanaan program tersebut.
Para siswa mengalami keluhan seperti sakit perut dan muntah. Mereka kemudian mendapat penanganan di Puskesmas Galang. Data awal yang dihimpun menyebutkan, siswa tersebut berasal dari SDN 101976 Desa Bandar Kuala sebanyak tujuh orang, SDN 106197 Desa Paku 13 orang, SDN 101961 Desa Timbang Deli 17 orang, dan SDN 107827 Desa Titi Besi satu orang.
Dinas Kesehatan Deli Serdang telah mengambil sampel makanan dan minuman yang dikonsumsi siswa untuk diperiksa di laboratorium. Hingga kini, penyebab pasti keluhan kesehatan tersebut belum dapat dipastikan. Dinas Kesehatan juga menyatakan masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Di tengah proses pemeriksaan tersebut, DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara mendorong evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG.
Ketua DPD PDI Perjuangan Sumut, Rapidin Simbolon, mengatakan keamanan pangan harus menjadi bagian utama dalam pelaksanaan program pemenuhan gizi bagi anak sekolah.
“Setiap kejadian seperti ini harus ditangani secara serius dan transparan. Kita tidak boleh menunggu sampai kejadian yang lebih besar baru kemudian melakukan evaluasi,” ujar Rapidin.
Menurut dia, evaluasi perlu mencakup seluruh rangkaian penyediaan makanan, mulai dari pengolahan, penyimpanan, pengemasan, distribusi hingga makanan diterima dan dikonsumsi siswa.
Pemeriksaan Menyeluruh
Wakil Ketua Bidang Industri, Perdagangan, BUMN, Investasi, dan Koperasi/UMKM DPD PDI Perjuangan Sumut, Paul Baja Siahaan, meminta hasil pemeriksaan laboratorium disampaikan kepada publik setelah proses pengujian selesai.
Menurut Paul, hasil pemeriksaan penting untuk mengetahui penyebab keluhan kesehatan sekaligus menjadi dasar menentukan langkah perbaikan.
“Kalau hasil pemeriksaan nanti menunjukkan adanya persoalan dalam makanan maupun proses penyediaannya, harus ada langkah korektif yang jelas. Jangan sampai kejadian serupa terus berulang,” katanya.
Ia mengatakan evaluasi tidak semestinya berhenti pada makanan yang dikonsumsi siswa. Standar pengolahan, kebersihan, penyimpanan, pengemasan, hingga distribusi makanan juga perlu diperiksa.
Pandangan serupa disampaikan Wakil Ketua Bidang Ekonomi Kreatif dan Digital DPD PDI Perjuangan Sumut sekaligus anggota Komisi E DPRD Sumut, Dameria Pangaribuan.
Dameria meminta hasil pemeriksaan sampel diumumkan secara terbuka setelah keluar. Dengan demikian, langkah perbaikan dapat disusun berdasarkan hasil pemeriksaan, bukan berdasarkan dugaan.
“Kalau hasil pemeriksaan sudah keluar, sampaikan kepada publik secara terbuka. Dari sana bisa diketahui apa yang sebenarnya terjadi dan bagian mana yang perlu diperbaiki,” ujarnya.
Penanganan Siswa Diprioritaskan
Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Politik DPD PDI Perjuangan Sumut, Sutrisno Pangaribuan, meminta penanganan terhadap siswa yang mengalami keluhan kesehatan tetap menjadi prioritas.
Ia menilai kondisi siswa perlu dipantau meskipun sebagian telah diperbolehkan pulang dari fasilitas kesehatan. Orang tua juga dinilai perlu memperoleh informasi yang jelas mengenai kondisi anak dan langkah penanganan yang dilakukan.
“Yang paling utama sekarang adalah memastikan seluruh anak yang mengalami keluhan mendapatkan pemeriksaan dan penanganan sampai benar-benar dinyatakan pulih,” kata Sutrisno.
PDI Perjuangan Sumut kemudian meminta Badan Gizi Nasional (BGN), pemerintah daerah, penyelenggara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), serta instansi terkait memperkuat pengawasan terhadap seluruh tahapan pelaksanaan MBG.
Pengawasan, menurut mereka, perlu dilakukan secara rutin dan tidak hanya diperketat setelah muncul kasus gangguan kesehatan.
Anggota Komisi C DPRD Sumut dari Fraksi PDI Perjuangan, Franky Partogi Wijaya Sirait, mengatakan pemerintah juga perlu memastikan orang tua mendapatkan informasi mengenai kondisi anak-anak mereka.
“Jangan sampai orang tua harus mencari informasi sendiri ketika anak mereka mengalami masalah kesehatan. Pemerintah dan penyelenggara program harus hadir, memberikan penjelasan yang terbuka, memastikan penanganan berjalan, sekaligus melakukan perbaikan,” ujarnya.
Hingga hasil pemeriksaan laboratorium tersedia, belum dapat disimpulkan bahwa keluhan kesehatan para siswa tersebut disebabkan oleh makanan MBG. Pemeriksaan sampel menjadi salah satu langkah untuk memastikan kaitan antara makanan yang dikonsumsi dan keluhan kesehatan yang muncul.











