Dari Batok Kelapa ke Lapangan Kerja: Mimpi Rahmat yang Terganjal Modal

Tumpukan arang briket batok kelapa yang belum dicetak dan sudah siap cetak di rumah produksi Rahmat di Jalan Pasar V Tembung, Kabupaten Deli Serdang, Sumut. (Foto: Arvin)
Share

Oleh: Arvin Syahputra Nasution

DARI ruang produksi seluas 553 meter per segi di Jalan Pasar V Tembung, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, tak tampak tumpukan batok kelapa seperti yang mungkin dibayangkan orang. Yang terlihat justru sejumlah ember besar berisi bubuk hitam tempurung kelapa dan beberapa mesin pencetak briket.

Di tempat itulah Rahmat Utama (50) mengubah sesuatu yang semula dianggap limbah menjadi bahan bakar alternatif. Dari bubuk hitam itu, ia mencetak briket arang untuk restoran, pedagang bakso bakar, hingga usaha ikan bakar.

Namun bagi Rahmat, briket bukan sekadar produk. Di balik kepulan debu hitam dan mesin pencetak itu, ada cita-cita yang jauh lebih besar: membesarkan usaha agar bisa membuka lapangan kerja bagi orang-orang di sekitarnya.

“Kalau modal saya besar, saya bisa tambah produksi. Kalau produksi bertambah, pekerja juga bisa bertambah,” kata Rahmat saat diwawancarai di rumah produksi miliknya, Sabtu (19/9/2026).

Itulah alasan ia terus bertahan, meski perjalanan usahanya tidak selalu mudah.

Belajar dari Percobaan

Rahmat tinggal di Jalan Aman, Kecamatan Medan Maimun. Bersama istrinya, Sulastri (41) ia membangun usaha briket dari proses yang panjang. Sekitar lima tahun ia bereksperimen sebelum usahanya berjalan lebih serius selama tiga tahun terakhir.

Sebelumnya, Rahmat pernah bekerja di tempat produksi arang bakau, namun itu terhenti setelah mengetahui penggunaan bakau yang dilarang. Dari sana ia mulai mengenal proses pengolahan bahan bakar berbasis arang. Pengetahuan membuat briket kemudian dipelajarinya sedikit demi sedikit, termasuk melalui YouTube.

Tidak semuanya berhasil pada percobaan pertama. Ia harus mencari komposisi yang tepat antara bubuk tempurung kelapa, air, dan tepung tapioka. Adonan harus cukup kuat untuk dicetak, tetapi tidak boleh terlalu basah.

“Harus pas campurannya. Kalau tidak pas, hasilnya tidak bagus. Kita aduk sampai tiga kali supaya benar-benar kalis,” tuturnya yang terus didampingi sang istri Sulastri.

Mesin pencetak pun tidak langsung tersedia. Rahmat memilih membuat sendiri cetakan yang sesuai dengan kebutuhannya. Hampir setahun ia bolak-balik ke bengkel las pembubutan untuk mengembangkan mesin tersebut.

Bahkan ketika wartawan hendak memotret bagian cetakan, Rahmat meminta agar tidak dilakukan. Ia khawatir bentuk cetakan yang dibuat melalui proses panjang itu ditiru orang lain.

Setelah dicetak, briket harus dikeringkan. Ukuran kecil membutuhkan sekitar tiga hari, sedangkan ukuran lebih besar bisa mencapai empat hari, bergantung cuaca.

Sebelumnya, Rahmat sempat menggunakan oven. Pengeringan membutuhkan waktu sekitar 36 jam dan harus diawasi pekerja. Kayu bakar juga diperlukan. Sekali mengambil kayu, biayanya sekitar Rp400 ribu.

Kini, matahari lebih banyak menjadi “mesin pengering” bagi produknya.

Rahmat Utama ditemani istrinya, Sulastri dan dua pekerja di rumah produksi arang briket tempurung kelapa di Jalan Pasar V, Tembung, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang. (Foto: Arvin)

Pasar Membesar

Pasar briket Rahmat perlahan melebar. Produknya digunakan restoran, pedagang bakso bakar dan usaha ikan bakar.

Menurutnya, satu kilogram briket dapat digunakan untuk membakar sekitar tiga kilogram ikan.

Pemasaran pun berubah. Pada awal usaha, Rahmat harus mendatangi calon pelanggan satu per satu. “Saya dulu door to door. Saya tawarkan langsung ke orang,” bilangnya.

Kini ia memanfaatkan media sosial dan marketplace. Sebagian pelanggan bahkan kembali memesan setiap tiga atau lima hari. Untuk pesanan melalui media sosial, pembayaran biasanya diawali uang muka 50 persen melalui transfer. Sementara pelanggan lokal dapat melakukan pembayaran secara tunai.

Pasarnya telah menjangkau Medan, Deli Serdang, Binjai dan Karo. Pesanan dalam jumlah sekitar 200 kilogram pun pernah diterimanya.

Harga eceran berada di kisaran Rp10 ribu per kilogram, sedangkan untuk toko atau pedagang sekitar Rp8 ribu. Dari usaha tersebut, omzetnya sekitar Rp20 juta per bulan.

Jumlah itu sebenarnya masih bisa bertambah. Sebab, pesanan yang datang tidak hanya dari dalam daerah.

Dua pekerja di toko Risky Frozen yang menjual jenis makanan beku dan memasarkan arang briket milik Rahmat. (Foto: Arvin)

Mitra Ritel Risky Frozen

Salah satu mitra ritel yang menjual briket Rahmat adalah Toko Risky Frozen, di sekitar persimpangan Bandar Setia, Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang. Toko yang menyediakan beragam makanan beku, mulai dari sosis, nugget, bakso dan dimsum hingga makanan ringan, itu juga menjadi tempat pemasaran briket Rahmat.

Dalam beberapa hari, penjualan briket di toko tersebut bisa mencapai sekitar 30 kilogram.

“Kalau pesan biasanya dua kardus. Setiap kardus isi 15 bungkus. Kalau stok habis biasanya ada yang ngantar berapa hari kemudian, paling lama seminggu,” kata perempuan penjaga kasir Risky Frozen saat ditemui bersama Diki, pekerja yang bertugas menangani barang dan melayani pembeli, Selasa (6/10/2026).

Saat itu, toko sedang ramai dikunjungi pembeli. Diki membantu menangani barang dan melayani pelanggan, sedangkan penjaga kasir bertugas melayani pembayaran. Keterangan mereka menunjukkan bahwa briket Rahmat memiliki jalur penjualan melalui toko yang juga melayani kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Mitra Ritel Toko Bunga Bang Kenzo

Mitra lainnya adalah Toko Bunga Bang Kenzo, yang telah menjual briket Rahmat selama beberapa tahun terakhir. Toko milik Andi dan istrinya itu lebih dikenal karena menjual aneka bunga dan produk untuk pengobatan tradisional. Nama Kenzo pada toko tersebut diambil dari nama anak mereka.

Andi menilai briket Rahmat memiliki sejumlah keunggulan, terutama bara yang lebih tahan lama, tidak banyak menghasilkan abu, dan tidak mengeluarkan asap seperti arang kayu. Namun, keunggulan itu belum sepenuhnya membuat briket menjadi pilihan utama pembeli di tokonya.

“Saya ada tiga jenis arang yang dijual dan harganya bervariasi. Kalau briket ini sebenarnya sangat bagus karena bara apinya lebih tahan lama, tidak berabu seperti arang kayu, dan tidak mengeluarkan asap. Ukurannya pun satu kilogram per bungkus. Tapi di sini mungkin belum banyak yang tahu sehingga pembeli kebanyakan arang kayu,” ungkap Andi saat diwawancarai bersama istrinya di toko mereka, Selasa (6/10/2026).

Menurut Andi, harga juga menjadi pertimbangan pembeli. Arang kayu yang dijual dalam kemasan plastik memiliki berat sekitar 750 gram, sedangkan arang kayu dalam keranjang sekitar satu kilogram. Keduanya ditawarkan dengan harga lebih murah dibandingkan briket Rahmat, yang dijual Rp10 ribu per bungkus.

Keterangan Andi memperlihatkan tantangan lain dalam mengembangkan pasar briket: produk memiliki keunggulan, tetapi pengenalan kepada konsumen dan persaingan harga tetap menentukan pilihan pembeli.

Arang beriket tempurung kelapa yang siap disusun di oven pengeringan. (Foto: Arvin)

Pesanan dan Modal

Salim pernah mendapatkan pesanan ke luar kota bahkan luar negeri. Namun transaksi tersebut berlangsung melalui perantara.

“Saya pernah menerima pesanan ke luar negeri, tetapi bukan berhubungan langsung dengan saya. Saya dari perantara dan semuanya dia yang berhubungan dan atur. Saya hanya siapkan briket,” tuturnya.

Masalahnya bukan semata-mata pasar. Ketika pesanan membesar, kebutuhan modal ikut membesar. Untuk pesanan satu kontainer saja, Rahmat membutuhkan dana awal untuk menyiapkan bahan baku dan produksi.

“Contohnya ada pesanan satu kontainer. Kalau sudah taken kontrak kerja, itu masuk deposit ke kita 50 persen. Kalau tidak, bahan bakunya dari mana kita siapkan?” katanya.

Lalu ia menambahkan kalimat sederhana yang menggambarkan persoalan utama usahanya: “Semua butuh modal besar.”

Bagi usaha kecil seperti miliknya, kesempatan pasar bisa datang lebih cepat daripada kemampuan menyediakan modal.

Riwayat Kredit

Persoalan pembiayaan menjadi lebih rumit karena Rahmat memiliki pengalaman kurang baik dengan kredit pada masa lalu.

Sebelum mengembangkan usaha briket, ia pernah menjalankan bisnis alat tulis kantor (ATK). Usaha itu kemudian mengalami kegagalan. “Saya pernah pinjam tapi tidak sanggup bayar lagi karena usaha saya colaps,” akunya.

Pengalaman tersebut meninggalkan konsekuensi panjang. “Kalau dihitung, bunga yang saya sudah bayarkan itu sudah berkali-kali lipat dengan hutang saya. Sejak saat itu saya tidak bisa meminjam ke bank,” jelasnya.

Bagi Rahmat, kebutuhan modal hari ini berhadapan dengan catatan masa lalu.

Di titik inilah persoalan akses pembiayaan tidak hanya berbicara tentang ada atau tidaknya kredit. Ada persoalan kepercayaan, kemampuan usaha menunjukkan perubahan, serta bagaimana pelaku usaha dan lembaga keuangan menemukan titik temu.

OJK Membuka Jalan

Kepala Divisi Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK Provinsi Sumatera Utara, Yovvi Sukandar menjelaskan bahwa riwayat kredit macet tidak otomatis berarti seseorang selamanya tertutup dari pembiayaan.

“Jadi tidak ada aturan OJK yang melarang seseorang meski dia mendapatkan colaps 2 atau colaps 5 (macet) sekalipun. Tetapi, setiap bank punya aturan manajemen risiko dan kehati-hatiannya sendiri dalam hal ini,” kata Yovvi saat diwawancarai, Selasa (22/9/2026).

Menurut dia, tantangannya adalah bagaimana pelaku usaha dapat meyakinkan lembaga keuangan bahwa kondisi usahanya sekarang sudah berubah.

“Jadi solusinya, bagaimana meyakinkan bank yang akan dituju, bahwa dia saat ini sudah berubah tidak seperti masa lalu lagi,” ujarnya.

Di sinilah OJK mendorong terbukanya akses pembiayaan melalui business matching. “Sedangkan OJK membantu business matching untuk membukakan akses terhadap pembiayaan,” papar Yovvi.

“Jadi semuanya ekosistem. Business matching inilah yang kita kelola.”

Dalam kerangka pembiayaan berkelanjutan, Yovvi menjelaskan bahwa aspek tersebut dapat dimasukkan ke dalam rencana bisnis lembaga keuangan.

“Semuanya itu dimanifestasikan di dalam rencana bisnis dari perbankan atau bank terkait,” timpal Yovvi.

Rencana tersebut kemudian dipantau, dilaporkan dan dievaluasi secara berkala.

Dengan demikian, usaha yang mengolah limbah bukan hanya berbicara tentang produk ramah lingkungan. Ia juga dapat menjadi bagian dari ekosistem pembiayaan yang mendorong kegiatan ekonomi lebih berkelanjutan. Ekosistem tersebut penting karena pengembangan usaha tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan produk. Akses pasar, pembiayaan, tata kelola, dan kepercayaan lembaga keuangan ikut menentukan apakah usaha kecil dapat naik kelas.

BI: Penguatan Akses Pembiayaan UMKM

Sementara itu, Bank Indonesia menegaskan pentingnya memperkuat ekosistem pembiayaan agar UMKM dapat berkembang.

Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman menyatakan, “Bank Indonesia berperan sebagai katalis dalam memperkuat pembiayaan UMKM dari sisi supply dan demand.” Pernyataan itu menegaskan bahwa pengembangan pembiayaan tidak hanya menyangkut ketersediaan dana, tetapi juga kesiapan usaha dan kemampuan pelaku UMKM membangun rekam jejak keuangan.

BI menjelaskan bahwa penguatan UMKM dilakukan melalui peningkatan kapasitas usaha, penguatan rekam jejak keuangan, peningkatan visibilitas UMKM, dan perluasan akses pasar. BI juga memfasilitasi pertemuan antara UMKM dan lembaga pembiayaan melalui business matching.

Bagi usaha seperti milik Rahmat, pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa upaya mengembangkan usaha tidak cukup hanya dengan menambah modal, tetapi juga perlu memperkuat kesiapan bisnis dan akses pasar. Namun, dukungan tersebut tidak berarti pembiayaan otomatis disetujui; keputusan tetap mengikuti ketentuan dan penilaian lembaga pembiayaan.

Tumpukan karung berisi batok kelapa yang telah dihaluskan untuk diolah menjadi arang briket menumpuk di sampling oven pemanas di rumah produksi milik Rahmat. (Foto: Arvin)

Limbah Jadi Nilai

Ada satu hal yang membuat Rahmat yakin usahanya layak terus dikembangkan. Bahan bakunya berasal dari sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.

Tempurung kelapa dibakar, kemudian digiling hingga menjadi bubuk hitam. Bubuk itu dicampur dengan air dan tepung tapioka, diolah sampai kalis, lalu dicetak dan dikeringkan menjadi briket.

“Kalau kita pakai tempurung, kita tidak perlu tebang kayu. Limbahnya ada, kita ambil, kita olah menjadi briket,” urainya.

Bagi Rahmat, itulah makna sederhana ekonomi hijau: memanfaatkan limbah sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar dari kayu.

Jika Usaha Tumbuh

Rahmat pernah merasakan bagaimana usaha yang tumbuh dapat menciptakan pekerjaan.

Ketika produksinya mencapai sekitar 1,5 hingga 2 ton per minggu, ia sempat mempekerjakan enam orang selain dibantu anak dan istri. Kini jumlah pekerjanya tinggal dua.

Sekitar tiga tahun lalu, kondisi kesehatan membuat aktivitasnya tidak lagi seleluasa sebelumnya. Kini ia berjalan dengan bantuan tongkat besi. Tetapi keadaan tidak membuatnya berhenti. “Keadaan memaksa saya harus tetap bertahan,” katanya.

Keinginan Rahmat justru sederhana. Usaha membesar, produksi bertambah, dan semakin banyak orang memperoleh pekerjaan. “Saya ingin kalau usaha ini besar, pekerjanya juga bertambah. Kalau bisa masyarakat sekitar ikut bekerja,” harapnya.

Ia bahkan membayangkan ibu-ibu di lingkungan sekitar ikut memperoleh penghasilan.

“Saya ingin nanti bisa mempekerjakan ibu-ibu di sekitar sini. Untuk packing bisa, untuk pemasaran juga bisa.”

Bayangan itu muncul setelah ia melihat usaha rumahan di Jawa. Di sana, menurut Rahmat, kegiatan produksi dapat melibatkan ibu dan anggota keluarga.

“Saya pernah lihat usaha-usaha rumahan di Jawa. Ibu-ibu dan keluarganya ikut bekerja. Saya ingin seperti itu juga.”

Dua pekerja di rumah produksi Rahmat, Bang Son dan Nopiral mencetak arang briket tempurung kelapa. (Foto: Arvin)

Bang Son dan Nopiral di Rumah Produksi

Di balik produksi yang masih terbatas itu, ada Bang Son dan Nopiral yang ikut menjalankan usaha Rahmat. Bang Son telah bekerja sejak Rahmat merintis usaha briket. Ia masih mengingat ketika oven menjadi bagian penting dalam proses pengeringan.

“Dulu pakai oven ini harus banyak dicetak. Di dalam oven ini memuat puluhan kilo dan waktu pengeringannya sebentar. Kalau sekarang oven ini tidak dipakai untuk pembakaran dalam pengeringan, tapi ketika musim penghujan, briket yang biasa dijemur di terik matahari harus disimpan di oven ini,” beber Bang Son sembari memperlihatkan bagian dalam oven besi berpintu dua.

Kini, oven itu digunakan ketika cuaca tidak mendukung proses penjemuran. Perubahan cara pengeringan menjadi bagian dari penyesuaian proses produksi terhadap kondisi cuaca dan biaya operasional.

Berbeda dengan Bang Son, Nopiral merupakan pekerja harian lepas yang telah sekitar dua tahun membantu Rahmat. Ia bertugas mengoperasikan mesin pencetak briket. Bagi Nopiral, pekerjaan tersebut juga membantu memenuhi kebutuhan pengobatannya.

“Kalau Nopiral dia bekerja selain untuk membantu ekonominya juga buat biaya berobat. Setiap bulan dia rutin cuci darah di rumah sakit,” ungkap Rahmat.

Kisah kedua pekerjanya memperlihatkan bahwa usaha kecil ini telah memberi manfaat nyata, meski belum mampu menyerap banyak tenaga kerja. Bagi Rahmat, memperbesar produksi berarti membuka peluang agar manfaat itu bisa dirasakan lebih banyak orang.

Karena itu, mimpi Rahmat sesungguhnya bukan sekadar memperbesar omzet. Ia ingin pertumbuhan usahanya ikut dirasakan orang lain. “Kalau usaha saya besar, jangan saya sendiri yang menikmati. Pekerja juga harus bisa menikmati,” ucapnya.

Di ruang produksi sederhana itu, bubuk hitam tempurung kelapa terus diolah, dicampur dan dicetak. Satu demi satu berubah menjadi briket yang siap dijual.

Rahmat memang sedang mencetak bahan bakar. Tetapi di dalam mimpinya, ada sesuatu yang jauh lebih besar yang ingin ia cetak, yaitu kesempatan.

Kesempatan bagi usahanya untuk tumbuh, bagi limbah untuk memiliki nilai, dan bagi orang-orang di sekitarnya untuk mendapatkan pekerjaan.

Dari batok kelapa yang berubah menjadi bubuk hitam, Rahmat ingin membuktikan bahwa sesuatu yang dianggap sisa pun dapat menjadi sumber kehidupan, asal ada kemauan untuk mengolahnya dan ekosistem yang memberi ruang untuk berkembang. Terpenting usahanya terus jalan, meski saat ini terganjal modal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *