Prof Stella: Tradisi Menulis ST Bhinneka Mirip Harvard, Jadi Senjata Mahasiswa Hadapi AI

Share

MEDAN, ARMADABERITA — Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Prof Stella Christie menyebut Universitas Satya Terra Bhinneka memiliki ambisi besar untuk membangun perguruan tinggi dengan referensi global.

Hal yang paling menarik perhatian Prof Stella adalah tradisi menulis yang dikembangkan ST Bhinneka. Menurutnya, kebiasaan tersebut memiliki kesamaan dengan pola pendidikan di Harvard University dan relevan sebagai bekal mahasiswa menghadapi derasnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Pernyataan itu disampaikan Prof Stella saat memberikan pembekalan dan motivasi kepada ribuan mahasiswa baru Universitas Satya Terra Bhinneka dalam kegiatan PKKMB 2026 bertema “Dalam Kebhinnekaan Berdampak Secara Berkelanjutan” di Medan, Selasa (8/9/2026).

“Yang saya lihat dari Universitas Satya Terra Bhinneka, ada ambisi untuk menjadi bagus dengan referensi global dan dunia. Ini sangat luar biasa dan penting,” ujar Prof Stella.

Guru besar lulusan Harvard University dan Tsinghua University tersebut menilai mahasiswa tidak boleh menjalani masa kuliah secara setengah-setengah. Empat tahun di perguruan tinggi, kata dia, merupakan kesempatan penting untuk mengembangkan kemampuan dan memperluas wawasan.

Ia mendorong mahasiswa berani mengambil tantangan, memperbanyak membaca, menulis dan memanfaatkan berbagai kesempatan akademik yang tersedia.

“Jangan setengah-setengah waktu kuliah. Jangan hanya mengambil kelas atau tugas yang paling gampang, agar tidak menyesal di kemudian hari,” tegasnya.

Prof Stella kemudian menyinggung tradisi menulis yang diterapkan di ST Bhinneka. Menurutnya, kemampuan menulis dengan dukungan berbagai referensi merupakan keterampilan penting yang justru semakin dibutuhkan ketika AI berkembang pesat.

“Saya cuma mau kasih tahu bahwa bukan saja Pak Sofyan Tan yang berpikir demikian, pentingnya menulis, tetapi Harvard University pun berpikir demikian. Jadi, di Satya Terra Bhinneka, kelas menulis ini patut dilakukan. Supaya jadi kayak Harvard,” katanya.

Ia menilai kemampuan menulis tidak sekadar berkaitan dengan menghasilkan karya akademik. Proses membaca, memahami referensi, menyusun argumen dan menuangkan gagasan melatih mahasiswa untuk berpikir kritis.

Kemampuan tersebut menjadi semakin penting di tengah kemudahan teknologi AI yang dapat menghasilkan teks dan berbagai informasi secara cepat. Mahasiswa tetap dituntut memiliki kemampuan untuk memahami, menguji dan mempertanggungjawabkan gagasan yang mereka gunakan.

Dalam kesempatan itu, Prof Stella juga membagikan perjalanan pendidikannya, dari latar belakang sekolah di Indonesia hingga memperoleh kesempatan beasiswa dan menempuh pendidikan di sejumlah perguruan tinggi terkemuka dunia.

Ia mengingatkan mahasiswa baru agar mensyukuri kesempatan mengenyam pendidikan tinggi sekaligus memanfaatkannya secara maksimal. Menurutnya, angka partisipasi kasar perguruan tinggi di Indonesia masih berada di kisaran 37 persen.

“Negara dan kampus terus berjuang menghadirkan kesempatan serta beasiswa. Tugas kalian adalah menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk menempa diri agar siap bersaing di tingkat global,” ujarnya.

Pembina Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM) dr Sofyan Tan mengatakan, pembangunan Universitas Satya Terra Bhinneka tidak terlepas dari cita-citanya menjadikan pendidikan sebagai jalan untuk meningkatkan kehidupan masyarakat kurang mampu.

“Cita-cita saya adalah mengangkat kehidupan keluarga kurang mampu, agar menjadi lebih baik karena pendidikannya menjadi lebih baik,” kata Sofyan Tan, yang juga Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan.

Sofyan Tan mengatakan YPSIM telah dibangun selama 39 tahun. Dari awal yang hanya memiliki tujuh lokal, lembaga pendidikan tersebut kini berkembang dengan ratusan ruang belajar, sekitar 12.000 siswa dan mahasiswa serta 550 tenaga pendidik.

Menurutnya, semakin besar lembaga pendidikan, semakin besar pula tanggung jawab untuk melahirkan lulusan berkualitas yang mampu memberikan kontribusi bagi Indonesia.

ST Bhinneka, kata Sofyan, dikembangkan dengan sejumlah program studi yang diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan masa depan, mulai dari pendidikan, kebidanan, agrobisnis, agroteknologi, bisnis digital, informatika, kewirausahaan hingga manajemen kehutanan.

“Universitas Satya Terra Bhinneka ingin membangun masa depan generasi muda menjadi Generasi Emas pada tahun 2045,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Satya Terra Bhinneka Bobby Christian Halim mengatakan kampusnya terus memperkuat jejaring nasional dan internasional. Ia ingin mahasiswa mampu belajar dari Medan, namun memiliki pola pikir yang dapat berinteraksi dengan perkembangan dunia.

Menurut Bobby, internasionalisasi kampus bukan semata-mata menghadirkan profesor dari luar negeri. Lebih dari itu, kampus harus membuka ruang kolaborasi dan pengalaman global bagi mahasiswa.

Ia juga mengingatkan agar perkembangan teknologi tidak menggeser nilai kemanusiaan dalam pendidikan.

“Teknologi harus memperkuat manusia, bukan menggantikan nilai kemanusiaan,” kata Bobby.

ST Bhinneka, lanjutnya, menargetkan lahirnya excellent human beings, yakni lulusan yang kompeten, kritis, menguasai teknologi, berkarakter, memiliki empati dan mampu menciptakan solusi.

“Universitas tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga menghasilkan solusi,” tegasnya.

Kegiatan PKKMB tersebut turut dihadiri Wali Kota Tebing Tinggi Iman Irdian Saragih, Kepala LLDIKTI Wilayah I Sumut Prof Saiful Anwar Matondang, MA., Ph.D., Anggota Dewan Pembina YPSIM Felix Iskandar Harjatanaya, Ketua YPSIM Finche Kosmanto serta civitas akademika Universitas Satya Terra Bhinneka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *